Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup

Posted: 12 December 2017 by Titis Anggalih

Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup

atau Koreksi atas Literatur Sejarah Best Seller Karya William D. Johnson

atau Kiprah Kreatifitas Perempuan Indonesia di Kancah Internasional Menginspirasi Jutaan Perempuan Afrika

Peringatan : Berdoalah untuk kebaikan diri atas nama Tuhan. Jika bulu tengkuk mendadak berdiri, itu sebab beberapa tulah dan kesaktian, sebagaimana akan diceritakan, memiliki daya jelajah yang tinggi.

 

Ada banyak hal keliru atau setidaknya perlu ditambah dalam sebuah buku literatur sejarah best seller karya William D. Johnson yang berjudul Stories From The Eastern Front. Seperti umpama Johnson lupa mengisahkan sebuah adegan singkat yang terjadi di sebuah daerah pesisir selatan Pulau Jawa. Meski singkat, nyatanya penggalan itu justru merupakan bagian paling penting yang menjelaskan awal mula keseluruhan peristiwa : seorang Gadis Indo yang murka pada suatu malam keparat, demi mendapati kekasihnya dalam kondisi yang jauh dari waras : koyak baju serta beberapa bagian kulitnya, tanda baru saja diterjang selusin celeng. Sebagian daging tercerabut menghasilkan warna merah kehitaman. Nihil belaka upaya Gadis Indo mengusap dan membersihkan luka-luka menganga, darah semakin merembes dan tubuh lelaki itu makin lemas sebelum akhirnya tewas.

Celeng-celeng sebenarnya tak pernah menyerang manusia, kecuali manusia melintasi wilayah mereka di hutan pedalaman yang berjarak satu bukit dengan kawasan desa. Dan lelaki itu, Gadis Indo berani bertaruh, tidak punya alasan sekonyol apapun saja untuk sekedar buang waktu memasuki hutan terkutuk berisi kawanan celeng.

“Para celeng diguna-guna,” Gadis Indo tercekat. “Cuma seorang mempunyai ajian macam itu!”

Lelaki yang dikenal sebagai Pemuda Partai ini adalah lelaki yang hampir tiap malam menidurinya. Lelaki ini, meskipun dicintainya, bukan pula suaminya.

Pengamatan sambil bertaruh nyawa yang dirangkum William D. Johnson barangkali tak sepopuler temuan rahang Meganthropus oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 di Sangiran. Itu hanya selisih 50 tahun sebelum Johnson merilis cetakan pertamanya. Namun sebuah rangkuman miliknya mengenai Perempuan Yang Membalurkan Kotoran Sapi Pada Kemaluannya Seumur Hidup lebih dimengerti dan lantas ditiru oleh perempuan-perempuan Afrika sebagai metode ampuh melindungi kemaluan mereka dari tindak pelecehan yang mulai marak dan terus meningkat jumlahnya di Afrika pada tahun-tahun itu hingga sekarang.

Ini adalah kekeliruan yang beruntun. Ditulis secara serampangan maka ditiru pula secara serampangan.

Sulitnya memperoleh data dapat dimaklumi. Sebagian orang yang menyaksikan sendiri kekejaman di tahun-tahun itu kebanyakan memilih bungkam dan menyimpan fakta irasional semacam kisah yang akan diceritakan selewat ini. Ensiklopedi dan kitab sejarah yang beredar jarang mengisahkan detailnya. Masih bisa ditemukan sebuah alias di laman pencarian kekinian jika diketikkan kata kunci sebuah nama, tapi tentu saja takkan dicantumkan di laman itu mengenai kisah sebenarnya. Bukan karena penduduk setempat melupakan kisah itu, namun lebih disebabkan teror kengerian terkena tulah seorang sakti yang pernah hidup masa itu.

Pada masa sebelum pembantaian para manusia di tahun 1965, bukan dusta belaka jika beberapa pemimpin Partai Terlarang dikenal mampu lenyap dalam sekejapan mata, persis ketika pelor dilontarkan mengarah di mana otak para pemimpin berada. Bukan pula tak ada saksi bahwa beberapa anggota partai tak mempan ditebas segala jenis senjata tajam ( konon baru terluka pada serangan ketujuh ). Para warga juga dibuat heran dengan penampakan seorang tokoh petinggi partai yang mampu muncul di sejumlah tempat berbeda tapi pada waktu bersamaan.

Tak ada yang lebih memahami ketangguhan ganjil macam demikian selain tokoh sakti yang dimaksud : Sang Nyai, ibu Gadis Indo.

“Tak ada pemuka agama manapun yang bersedia menikahkan kita,” kata Gadis Indo suatu ketika di suatu tempat. “Aku anak seorang dukun dan kau pemuda kuminis.”

Gadis Indo adalah gadis elok belaka. Bukan hanya sintal dan padat dadanya namun juga selalu memerah kedua pipinya. Senyum manis di bibir Gadis Indo memang pelit dan ucapan-ucapannya memuat sarkasme, itu justru yang menantang kejantanan Pemuda Partai untuk memenangkannya seorang. Bahkan sejak kali pertama tak sengaja keduanya ditemukan oleh takdir ( kalaupun percaya takdir ) di rumah Sang Nyai. Jika bukan karena takut mati konyol disantet ibunya, para pemuda desa kebanyakan sudah sejak lama saling kelahi memburu kemolekan Gadis Indo. Percayalah, bahkan sekelas jawara lebih memilih melepas hasrat berahi di rumah pelacuran daripada dibikin lunglai abadi batang kemaluannya oleh Sang Nyai. Tak ada yang senekat ( atau setolol ) Pemuda Partai mendekati anak gadis Sang Nyai. Meski ada benar kata orang, “Kalau beruntung, kenekatan kadang berbuah keberhasilan.”

Dan kini, lelaki yang sedang diajak bicara Gadis Indo itu hanya terkekeh demi memperhatikan gadis menawan itu menyebut dirinya ‘kuminis’, bukannya ‘komunis’. Sebagaimana biasa, mereka diam-diam bertemu di sebuah tempat yang hanya mereka berdua dan Tuhan yang mengetahui.

“Bukannya bagus? Kelak jika Tuhan bertanya mengapa kita tidak bisa menikah, tinggal kau laporkan pemuka-pemuka agama itu,” saran Pemuda Partai. Badannya tegap berisi dengan kulit kehitaman lantaran selalu terpapar terik matahari hanya membuat lelaki satu itu diidamkan banyak wanita. Membuat mereka melayang sekaligus diempaskan, sebab Pemuda Partai kelewat abai pada mereka sejak hanya ada Gadis Indo mengisi batok kepalanya.

“Mereka rajin memuji Tuhan. Tuhan bakal membela mereka,” ujar Gadis Indo.

“Tapi yang jelas Tuhan memberkati kita.”

“Kenapa?”

“Karena mempertemukan kita.”

“Jangan berlagak. Memangnya ada kuminis yang percaya Tuhan?”

“Kenapa tidak? Toh ada anak dukun yang mau lapor pada Tuhan.”

Dan sama halnya puluhan malam yang telah diam-diam mereka lalui berdua, percakapan demi percakapan hanya jalan untuk mengobarkan berahi di antara keduanya hingga saling sembrono menanggalkan baju. Sekali lagi, hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu apa persisnya yang telah mereka lakukan selama berduaan itu.

Setiap ritual klenik memiliki maharnya sendiri. Mulai dari kemenyan, bermacam jenis larutan, minyak dan bebungaan, hingga keperawanan seorang gadis ( dipercaya, Sang Nyai yang membiarkan keperawanannya sendiri menjadi mahar terlayak untuk dirobek titisan dedemit menjadi awal Sang Nyai memperoleh kesaktian paling mukti ). Dan kegagalan sebuah ritual akan tidak adanya mahar yang terakhir disebutkan adalah harga yang harus dibayar Pemuda Partai : kebinasaannya di pangkuan Gadis Indo.

Akibat anaknya yang ternyata telah diperawani oleh Pemuda Partai, sejumlah kesaktian murid-murid Sang Nyai menguap. Pelor-pelor dan senjata tajam mulai ampuh kembali. Penumpasan para anggota hingga simpatisan partai akhirnya mulus dikerjakan dan menginspirasi lahirnya buku Stories From The Eastern Front. Ini adalah kegagalan yang tak diduga bahkan oleh Sang Nyai sendiri. Mengirim celeng-celeng untuk menyerang Pemuda Partai adalah cara ‘bersih’ membayar itu semua. Takkan ada tuduhan hukum jika tak ada bukti, dan Gadis Indo kenal betul pola demikian itu.

Namun kelak, dipikirnya membalas dendam kepada ibu sendiri lebih tercela daripada mengguna-gunai celeng. Tanpa dibalas, alam bakal menampilkan perannya : seiring diberangusnya anggota Partai Terlarang nyatanya sosok Sang Nyai turut lenyap. Kalau tidak melarikan diri, pastinya menyiapkan diri, atau keduanya. Kedua hal itu sama buruknya buat Gadis Indo, sebab berarti Sang Nyai membutuhkan jabang bayi penerus sekaligus tumbal dengan segera. Bukan dari rahimnya yang sudah kering dan tak lagi bisa bunting, tapi dari rahim Gadis Indo.

Sampai di sini, sebagaimana diketahui, membalurkan banyak-banyak kotoran sapi pada kemaluan Gadis Indo sendiri adalah jalan masuk akal untuk menangkal sesat pikir Sang Nyai.

“Rumah pelacuran sesekali perlu bikin pengajian dan syukuran. Dari segala macam penduduk, cuma mereka yang dibikin untung oleh situasi perang,” kata Gadis Indo suatu ketika. Dirinya jadi sering bicara sendiri dan belum tampak tanda-tanda beriman dengan berdoa pada Tuhan. Tapi seakan ramalan, betul adanya jika para lelaki akhirnya memilih berbagi kemaluan pelacur daripada menanggung jijik tiada ampun : bergulat dengan liang kemaluan wanita indo cantik tapi dibuntal kotoran sapi.

 

Cerpen di atas adalah Juara 2 Lomba Penulisan Cerpen Bulan Bahasa 2017 yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia UGM. Juri lomba cerpen terdiri atas Dr. Pujiharto, M.Hum., Ahmad Tohari, dan Asef Saeful Anwar.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *