Kematian Kirana

Posted: 7 November 2017 by Nisa Ramadani

kirana

Kirana tergeletak di halaman belakang rumahnya. Di antara rerumputan berembun dan aroma nasi yang ditanak tetangganya, ia tertidur. Sungguh, bagi siapa saja yang melihatnya pasti akan merasakan suasana damai sekaligus haru. Matanya terpejam dengan wajar, tidak terlalu rapat namun juga tidak menyisakan sehimpit celah. Sesekali bibirnya melengkungkan senyum tanpa sebab yang jelas. Ia menyembunyikan alasannya di tempat yang tak bisa dijangkau orang lain. Segala sesuatunya disimpan rapat-rapat. Sinar mentari yang mulai menusuk-nusuk bumi pun seolah tak sanggup menembus isi kepalanya.

Dua puluh dua tahun yang lalu, seorang ibu mengerang kesakitan di tempat yang sama. Seorang dukun bayi kemudian tergopoh-gopoh mendatangi sang ibu, mengerahkan segala kemampuan yang dipunya untuk menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Keduanya sehat, tidak ada yang sekarat. Peristiwa itu menjadi cerita yang terus diulang-ulang kepada siapa saja yang bertandang ke rumah. Semua orang menganggap itu adalah suatu keajaiban yang patut dikenang. Semua orang kecuali Kirana.

Menurutnya tak ada yang luar biasa dengan kelahirannya. Ia justru menyesal karena harus menjalani kehidupan dunia yang membosankan. Ia lebih memilih untuk mendekam erat sendirian di ruangan sempit, gelap dan berair selamanya. Kekecewaan dan kejengkelan terlukis begitu jelas di urat-urat wajahnya. Semakin hari semakin nyata. Kirana hampir tidak pernah tersenyum, baik untuk dirinya sendiri ketika bercermin maupun untuk orang lain. Katanya tersenyum akan membuat wajahnya tampak seperti orang baik-baik yang mudah ditipu.

Kirana memang pernah ditipu habis-habisan oleh orang-orang yang sangat ia percayai. Sebenarnya ia ingin mengubur ingatan itu dalam-dalam atau membakarnya sampai benar-benar tuntas, tapi entah mengapa ingatannya itu seolah justru lebih abadi daripada ingatan-ingatannya yang lain. Masa kecilnya dipenuhi begitu banyak peristiwa menyedihkan dan memalukan. Mengenangnya seperti memutar kembali adegan mimpi buruk yang menceritakan secara lengkap dan detil tentang betapa payah dirinya di masa lalu, betapa dirinya mudah diinjak-injak orang lain, betapa dirinya selalu menangis pasrah dan tidak pernah berani melawan. Bayang-bayang hitam kelam yang selalu menghantui itu berubah bentuk menjadi apa saja sesuka mereka, tanpa pernah sekalipun meminta persetujuannya lebih dulu. Kadang bisa menyerupai wajah kakaknya, adiknya, ibunya, ayahnya, bahkan dirinya sendiri. Semua hal yang pernah ia benci seolah menjadi butir-butir debu yang memadat dalam sebuah kotak kaca tipis, kemudian saling berdesakan untuk berebut peran dan giliran, dan akhirnya bersedia muncul secara bergantian ketika perangkap itu retak dan hampir pecah.

Krak! Dari lubang kecil yang tak simetris pada kaca itu tiba-tiba mencuat wajah kakaknya. Tidak seperti manusia, sosoknya lebih menyerupai tikus tanah. Sebenarnya ia lebih suka jika perempuan itu mirip burung dara. Tentu akan menarik jika Kisah Tiga Dara bisa mengawali ceritanya tentang tiga perempuan bersaudara yang saling bermusuhan, menjadi sebuah judul yang sengaja dipersiapkan untuk mengecoh pembacanya. Toh, semua tetangganya memang sudah menggunakan istilah itu ketika adiknya lahir. Tiga anak perempuan dari orangtua yang sama. Tiga anak perempuan dalam rumah yang sama. Tiga anak perempuan yang mau tak mau disebut sebagai tiga dara. Ia senang karena seperti mempunyai grup musik atau kelompok bermain abadi, sampai kemudian orang-orang mulai gemar membandingkan ketiganya di setiap kesempatan. Ia lebih cantik, kakaknya lebih supel, dan adiknya lebih modis namun tidak sepintar dua kakaknya. Hubungan hangat antarsaudara perempuan yang sering diperagakan di layar televisi atau di kolom iklan surat kabar pun hanya bisa dicerna sebagai omong kosong belaka. Ia tak mau lagi ambil pusing pada sikap kakaknya yang penuh kebencian atau sikap acuh tak acuh adiknya. Ia menutup diri dan mulai terbiasa pada sepi. Segenggam angan-angan yang terlepas, dibiarkannya mengangkasa.

Prang! Kirana terbangun dari tidurnya. Dahinya basah dan sekujur ototnya menegang. Seekor tikus tanah baru saja menggigit jari kelingkingnya. Butuh waktu sekian menit baginya untuk menyadari apa yang terjadi. Samar-samar ia mendengar tangisan ibunya. Ia menajamkan pendengarannya sambil berjalan ke arah dapur. Banyak pecahan piring dimana-mana, serpih-serpih putih dalam berbagai ukuran tersebar merata ke seluruh penjuru rumah. Ibunya sesengukan dalam posisi yang tak wajar, tersungkur di atas meja makan yang kaki-kakinya dipaksa patah. Di garasi tidak ada motor merah. Ayahnya pasti sudah kabur, selalu saja begitu setelah kumat. Ia lalu menuntun ibunya ke kamar tidur. Kening ibunya panas, matanya merah melotot sambil menceritakan berapa jumlah uang yang diambil sang ayah.

“Aku berdoa agar ayah cepat mati dan masuk neraka, ibu jangan sedih lagi ya,” ungkapnya.

Seketika tamparan keras melekat di pipi kanan Kirana. Hatinya hancur. Ia ingin segera melebur bersama air mata yang telah menumpuk di pelupuknya, ingin segera melontarkan segala cacian melalui kerongkongannya yang kering, ingin segera mencekik leher ibunya kuat-kuat, tapi ia tak mampu. Ia hanya diam dengan tatapan kosong ke arah jendela. Saat itu ia berharap Tuhan akan turun melalui cahaya silau yang jatuh tepat di depan pagar rumahnya. Tuhan datang kepadanya dan mendekapnya, membawa dirinya terbang membubung tinggi ke langit, menyuguhinya madu dan anggur surga, serta mengizinkannya untuk tinggal selamanya. Ia tetap diam sambil terus memandang ke arah jendela, namun tak ada yang terjadi.

Seminggu setelahnya, ia hampir mati. Wajahnya pucat dan badannya dingin. Motor merahnya menabrak trotoar dengan kecepatan tinggi, terguling tiga kali ke arah tiang listrik, lalu menyenggol roda becak yang terparkir rapi di selatan selokan. Seorang lelaki mendatanginya, berusaha menolong secepat kilat agar nyawanya tidak keburu melayang. Kirana tidak ingat apa-apa lagi dari kecelakaan tunggal di jalan raya dekat kampusnya, kecuali bola mata cokelat si lelaki yang menatapnya tajam selama sepersekian detik sebelum semuanya menjadi hitam.

Hitam dan tak ada aroma manusia. Sesekali bulu kuduknya bergidik karena membayangkan sosok hantu berbaju putih yang bisa muncul kapan saja di belakangnya. Ia terus melangkah tanpa henti mencari keramaian. Rasanya seperti berjalan di padang pasir saat malam tanpa bintang. Dingin, sepi, dan tak tahu arah jalan pulang.

Sendirian membuatnya teringat tentang celengan ayam semasa kecil. Setiap hari ia rela menahan lapar demi sebuah impian untuk memiliki piano grande warna hitam. Suatu hari ia pulang dengan girang karena sekolah selesai lebih awal. Uang sakunya masih utuh, seribu rupiah dengan tambahan sekeping kuning lima ratusan dari hadiah makanan ringan pemberian gurunya. Ia berlari menuju celengan ayamnya, tapi yang tersisa hanya remah-remah tanah liat berantakan. Ayahnya mencuri lagi dan kali ini miliknya yang harus hilang. Ia tak sedih, tak marah, dan tak mengadu pada ibunya. Ia bingung harus menangis atau protes. Ia juga bingung harus bercerita pada siapa karena selalu sendirian.

Semenjak itu ia menjuluki diri sendiri sebagai anak yatim. Baginya ayah kandung yang hidup bersamanya itu sudah mati. Seorang laki-laki pengangguran yang sering mencuri uang milik siapapun untuk mabuk, main pelacur, dan memanjakan teman-temannya agar dijuluki Si Boss. Seorang laki-laki yang dengan jelas memperlihatkan tatapan penuh napsu pada tubuh anak-anak perempuannya yang mulai matang. Seorang laki-laki yang sama sekali tidak cocok dipanggil ayah. Sudah tidak ada lagi kebaikan yang tersisa pada diri laki-laki tersebut. Kirana lebih suka menganggapnya sebagai mayat hidup yang memerankan sosok orang asing.

Kemudian sosok orang asing yang lain membuyarkan lamunannya. Dalam kegelapan, Kirana berlari ke arahnya tanpa menyilakan sebersit keraguan untuk bisa hinggap di hatinya. Sebenarnya ia tak mengerti mengapa bisa begitu yakin dan ia tak peduli mengapa tetap bisa begitu yakin meski tak menemukan alasan yang pantas. Ia terus berlari menyongsong titik kecil di kejauhan yang semakin lama semakin menampakkan wujud sejatinya. Jantungnya keras berdegup, selaras dengan hentakan yang jatuh di atas pasir dan kerikil oleh telapak kaki mungil yang dipacu untuk terus menerjang sisa waktu. Ia melebarkan senyumnya seolah berharap agar sosok itu juga melakukan hal yang sama kepadanya. Jarak yang tercipta antara keduanya tinggal sekilan tangan. Sosok itu menatapnya tajam. Dari bola mata cokelat itu ia bisa melihat dirinya sendiri yang sedang tersenyum kepadanya. Kebahagiaan yang selalu ia bayangkan seolah telah tersaji dalam bentuk terbaiknya dan siap mendekapnya erat lalu memusnahkan segala macam kesepian yang muncul dari kesendiriannya. Ketakutan dan kecemasan yang selama ini mengusiknya tanpa ampun akan habis dikoyak-koyak oleh cita dan cinta. Ia ingin meluapkan semua rasa sayang yang ada di setiap roman picisan dengan lantang sampai pagi datang, sebelum sosok itu akhirnya berkata, “Jangan salah sangka, aku tidak pernah menyukaimu.”

Sekali lagi hidupnya gelap. Ia jatuh tersungkur lalu dihisap tanah kering yang membawanya ke perut bumi, seolah ada jilatan kilat yang menyambarnya, seketika membuat tubuhnya lemas dan tidak berdaya, pasrah disedot paksa oleh lubang orong-orong raksasa. Ia merasa sangat lelah dan hanya ingin tidur lebih lama. Kirana memutuskan untuk pingsan di dalam mimpinya sendiri.

Kini tak ada lagi warna hitam. Semuanya putih, benar-benar putih bersih tanpa noda maupun kesan kekuning-kuningan. Kirana menduga bahwa ia sedang berada di surga. Dari dalam saku bajunya ia menarik secarik kertas yang sedikit kumal dan lecek. Ia membacakan isinya keras-keras dengan penuh penghayatan.

 

Untuk Tuhanku Tersayang

Kenapa sih usil banget? Kurang kerjaan ya? Kenapa harus ada alam semesta? Kenapa harus ada bumi dan manusia? Dan kenapa manusia sengaja diciptakan berpasang-pasangan? Apa karena manusia tak mungkin sanggup menahan beban sendirian? Atau karena dunia ini sebenarnya adalah neraka? Manusia memang sangat rapuh dan lemah sih, tapi justru karena itu, kenapa tidak sekalian saja sepasang manusia langsung dipertemukan dari lahir? Kenapa manusia harus repot-repot menjalani sebuah permainan yang melelahkan? Bagaimana jika manusia gagal menemukan sesuatu yang memang miliknya? Apa tak pernah terpikirkan, betapa menderitanya manusia ketika harus menelan kekalahan dan merasakan sakit hati? Bagaimana jika semua manusia ingin mati saja? Bukankah hal-hal sederhana semacam itu seharusnya bisa diduga dari awal? Jadi, apa memang benar jika manusia diciptakan hanya untuk menjadi penghibur yang menyenangkan? Kenapa begitu egois?

 

Kirana terdiam sambil terus meyakinkan diri bahwa sebentar lagi sesuatu yang hebat akan terjadi. Sejujurnya ia masih sangat lelah dan ingin tidur saja, tapi rasa penasaran yang terpendam sejak lama menuntutnya untuk tetap memperjuangkan jawaban. Menurutnya kesempatan langka seperti ini tidak akan datang dua kali. Jika ia benar-benar sedang berada di surga maka Tuhan pasti mendengarnya. Ia menunggu dan terus menunggu, namun tak ada yang terjadi.  

Ia semakin sangsi pada semuanya. Hal-hal yang sempat ia percayai sejak kecil satu per satu pergi meninggalkannya sendiri bersama pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda. Kepalanya menjadi sakit dan perutnya mual. Rasa haus perlahan merambati kerongkongannya. Sinar putih menyilaukan yang berpendar-pendar dari segala penjuru membuat matanya berkunang-kunang. Segera ia menutup kelopaknya rapat-rapat, namun percuma karena ia telanjur tak bisa lagi merasakan perbedaan ketika kelopaknya terbuka atau tertutup. Matanya buta ditelan cahaya.

“Sudah kubilang lebih baik mati saja, tapi kamu tak pernah mau percaya,” protes suara berat dan sedikit serak.

“Jangan dengarkan dia, hidup cuma sekali bukan untuk disia-siakan,” suara melengking menimpali.

“Hidup itu tidak penting, untuk apa diperjuangkan? Mati jauh lebih praktis dan tidak membuatmu lelah,” jawab suara berat dan sedikit serak.

“Percayalah, hidup itu lebih menyenangkan,” balas suara melengking.

Kirana membuka matanya. Dahinya basah dan sekujur ototnya menegang. Matanya mampu menangkap cahaya yang terpantul dengan sewajarnya dari dinding putih dan langit-langit, meja kecil dan kursi kayu, serta punggung laki-laki yang baginya terasa tidak asing. Ia berusaha mengingat apa saja yang telah dialaminya. Ia tahu bahwa dirinya bisa saja memanipulasi ingatan tanpa disadari, menyusun kebohongan untuk menipu kenyataan. Kadang ia penasaran, siapa sosok yang bertanggungjawab untuk memilah arsip kenangan di kepalanya kemudian seenaknya memutuskan mana yang pantas disimpan dan mana yang pantas dibuang. Seandainya ia bisa bicara dengan ‘siapa’ tentu ia akan minta dibuatkan ingatan palsu yang penuh dengan kebahagiaan agar hidupnya senantiasa diliputi kegembiraan.

“Lho, masih hidup? Kamu harusnya sudah mati, kamu kan baru saja mati,” gerutu laki-laki itu seraya membalikkan badan ke arahnya sambil membawa secangkir teh.

Kirana tersenyum. Ia menatap lekat-lekat mata cokelat laki-laki tersebut. Ia tahu bahwa orang yang dikasihinya itu tak akan pernah membalas perasaannya. Bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa. Mau tak mau, ia harus mencari lagi sosok lain dan menerka tiap muka dengan harapan yang tak berlebihan.

“Jangan khawatir, aku tak berniat untuk tinggal di sini kok. Aku tak akan mengusikmu lagi. Sampai jumpa, aku mati dulu ya,” ucap Kirana sambil memejamkan matanya kembali.

Aroma rumah sakit menyeruak masuk ke dalam raganya. Tak ada rasa sedih dan sesal yang tertinggal pada jiwanya. Ia merelakan semuanya dan memilih untuk sengaja mati. Dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus hidup dengan sebaik-baiknya.

Aku telah berkali-kali mati dan aku hidup lagi. Mimpi-mimpiku akan kembali bernyawa meski terus dibunuh. Kematian memang diciptakan untuk melahirkan kehidupan. Aku mati dan aku semakin hidup.

 

***

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *