Kaki Langit

Posted: 23 December 2017 by Milla Himmatuz Zahra

Tepat di seberang jendela kamar apartemenku, aku  mendapati seorang lelaki berumur hampir satu abad. Dengan setia ia memeluk tiang lampu jalan. Nanar mukanya sendu, seakan menyimpan segudang kelelahan. Beberapa botol minuman kaca berserakan di sana. Kilauan lampu jalan yang sedari tadi menghangatkan bagian kanan wajahnya, kini mulai redup. Tua dimakan sang waktu. Namun ia tetap bertahan di sana, merindukan hangatnya mentari yang dapat mengganti sinar redup lampu jalan. Dia lah seorang anak manusia titipan Tuhan, yang telah lama mendamba akan hadirnya kebebasan.

Belakangan kutahu, ia bernama Troy, seorang warga selundupan Bangladesh yang telah lama mendiami kota bagian selatan Amerika Serikat. Perjumpaanku dengannya empat pekan lalu, membawaku dalam dunia kearifan yang sama sekali tak pernah kusangka sebelumnya. Bagiku, yang hanya seorang pelajar perantauan dari Indonesia, aku yakin tak setegar dia. Kala itu, setelah beberapa hari aku memperhatikan polah tingkahnya dari jendela kamarku, hatiku menuntunku untuk menghampirinya. Ternyata ia jauh lebih tua dari pengamatan jarak jauhku selama ini. Ia seorang lelaki cacat. Pergelangan tangan kanan hingga ujung jarinya kaku, kasar, hitam, dan merekah. Layaknya batu kali yang sering kujumpai saat aku berada di Banyuwangi dulu. Sedang jari di tangan kirinya hanya tersisa tiga. Entah kemana perginya kelingking dan jari manisnya.

***

Ia memperhatikanku dengan seksama, sebelum melempar senyum yang tak pernah kuduga. Aku pun menyebelahinya dengan senyuman, dan mengamati sekujur tubuhnya yang mulai lapuk dimakan usia. “Kau mempertanyakan ini?” ungkapnya dengan terbata, sembari mengangkat pergelangan tangan kanannya dengan bantuan tangan yang lain. Aku mengangguk ragu. Dia kembali tersenyum dan meluruskan engsel lehernya hingga tatapannya menerobos dinding kamarku.

“Kau pasti tahu Mount Everest, tapi aku yakin kau tak benar-benar mengenalnya, kau tak pernah berjumpa dengannya, bukan? Inilah saksi akan pertemuanku dengannya tiga puluh tahun lalu. Saat itu badai es datang, dan aku tetap mendakinya. Hanya tangan-tangan inilah yang mampu menopang segala beban tubuhku. Badai es itu adalah sebuah sambutan dari sang pencakar bumi. Dia sengaja menyambutku sebagai seorang tamu. Dan aku pun menerimanya. Tangan ini hanyalah sebuah kenangan akan keberanianku kala itu. Biar pun kata orang, aku ini tak lebih waras dari orang gila kebanyakan, yang rela mengorbankan raga pemberian Tuhan hanya demi sebuah kepuasan. Namun aku bangga bisa memilikinya. Memiliki tangan yang lebih pantas dikatakan cacat ini, tak semua orang bisa sepertiku,” ujarnya sambil terkekeh.

Dia begitu rupawan di mataku. Bahkan sebelum aku memperkenalkan diri, dia telah lebih dulu berkelakar tentang secuil kisah hidupnya yang aku pun tak sanggup untuk mendengarnya. Dia adalah sang penakluk bumi, hampir sembilan belas negara telah dipijakinya. Dan kesemuanya menjadi seorang warga illegal. Aku tak tahu apakah aku harus bangga terhadap prestasinya kali ini. Ia rindu akan hadirnya kebebasan. Negara asalnya dulu, dirasa terlalu naïf baginya. Yang hanya mampu bertahan hidup dengan bantuan tangan-tangan berdosa berkedok malaikat. Menuntut lebih akan bantuan yang diberikan.

Pertanyaan berjejal di otakku, tentang bagaimana ia dapat bertahan hidup hingga sekarang di berbagai negeri orang. Mendapat pekerjaan jelas tak mungkin, karena hampir seluruh negara maju dan berkembang tak memberi kesempatan bagi warga selundupan untuk mendapat lahan pekerjaan. Ia seakan dapat membaca celah pikiranku.

“Selama ini aku tak pernah hidup dengan belas kasihan orang. Itu akan membuatku semakin terinjak-injak. Dulu aku adalah seorang seniman jalan. Setidaknya dari beberapa dolar yang diberikan orang padaku adalah bukan atas dasar belas kasihan. Mereka memang tertarik pada musik yang aku bawakan. Namun sejak angin barat daya yang mematikan saraf dan membekukan darahku di puncak tertinggi di dunia itu, segala instrumen musikku tamat sudah. Aku mengganjal perut dari sisa-sisa makanan restoran cepat saji yang memadati kota ini. Itu pun kulakukan seperempat malam menjelang pagi, sebelum matahari muncul di permukaan. Itu kenapa aku setia di sini hingga pagi menjelang. Aku tak mau kalah dengan mobil pengangkut sampah, walaupun ia dilengkapi dengan roda setinggi badanku. Kaki ini jauh lebih tangguh.”

“Kau tahu tentang kisah dua jari yang hilang ini?” lanjutnya memperlihatkan tangan kirinya tepat di depan mukaku. Aku menggeleng. “Saat tengah hari jika aku benar-benar merasa lapar, aku mengulumnya, menggigitnya, dan kemudian mengunyahnya. Kau mungkin tak akan percaya. Tapi itu benar-benar kulakukan. Sejauh ini aku telah menaklukkan berbagai negeri dan pegunungan keramat, namun hingga kini aku belum bisa menaklukkan lambungku jika benar-benar dalam keadaan kosong. Aku berharap sisa tiga jariku ini dapat menopang hidupku hingga ajal menjelang kelak.”

Aku meringis, perutku mual. Membayangkan seandainya dua jariku terpaksa kutelan mentah-mentah demi bertahan hidup. “Hahaha.. Kau tak perlu merasa jijik seperti itu. Hal bodoh semacam itu juga akan kau lakukan jika kau benar-benar dalam keadaan terjepit. Tapi aku harap, kau tak akan mengalami keterpojokan sepertiku. Kau gadis yang manis. Aku juga sempat memiliki anak gadis sepertimu, mungkin sekarang dia berada di sana. Damai di antara malaikat penjaga surga,” ujarnya menerawang langit.

”Hidupnya berakhir di tangan para penjajah tak berhati di negeriku.” Aku menelan ludah, dia benar-benar orang hebat. Memiliki kisah hidup yang tak dimiliki kebanyakan orang.

“Kau benar-benar orang hebat. Sungguh aku sangat menaruh hati pada ketegaranmu menapaki kerikil hidup. Aku sangat terkesan dengan berbagai kisah hidupmu, sampai-sampai aku lupa untuk memperkenalkan diri. Aku Wina, pelajar perantauan dari bumi Indonesia. Sudah sangat lama aku  memimpikan kakiku berpijak di negeri penguasa bumi seperti ini. Semoga Harvard bisa mengantarku untuk menjadi orang hebat sepertimu,” ujarku penuh harap.

Saat ia tahu bahwa aku adalah pelajar perantauan dari Indonesia, dia pun menatapku seakan tak percaya. “Indonesia? Nederlandsch-Indie kah itu? Aku pernah mendengarnya. Namun sayangnya aku belum pernah mengunjunginya. Kau tahu tentang Adolf Bastian?” Aku menggeleng.

Troy kembali berujar, “Ia sangat mencintai Indonesia. Ia merawat dan mengenalkan nama Indonesia ke seluruh dunia, meskipun dia sendiri adalah orang asing. Bastian antropolog yang gemar berkunjung ke Indonesia guna melakukan riset. Aku beruntung sempat berkunjung tepat di depan pusaranya, di wilayah Sudwestkirchhofs Stahnsdorf, saat aku berada di Berlin dulu. Ia dikubur di kompleks pemakaman orang-orang hebat Jerman. Aku harap kau tak kalah dengannya, yang begitu bangga akan negerimu. Maukah kau berkisah sedikit tentang tanah kelahiranmu itu? Aku sangat ingin mengunjunginya.” Troy begitu bersemangat. Aku pun dengan bangga berkisah tentang Indonesia. Hingga seperempat pagi menjemput, dan Troy mengajakku mengais sisa makanan yang pernah ia ceritakan.

***

Pertemuanku dengannya malam itu membawa rasa keingintahuan yang teramat sangat tentang dirinya. Aku ingin mendengar celotehan tauladan dari mulut tuanya. Hampir setiap malam aku menghampirinya untuk sekedar bertukar pikiran. Dan setiap pertemuan kami, aku sengaja membawakan makanan pengganjal perut buatanku untuk teman ngobrol. Awalnya Troy menolak, dia tak ingin dikasihani. Lalu aku tawarkan perjanjian padanya, satu kisah darinya untuk satu kue. Dan dia pun menyetujuinya. Sesekali di pertengahan cerita, Troy meraba saku celananya untuk memastikan barang simpanannya masih berada di sana. Saat aku bertanya tentang sesuatu yang ada di balik saku itu, dia pun kembali berkisah, sembari mengeluarkan sekerat roti yang terbungkus plastik dengan rapi.

Roti itu sebenarnya sudah tak layak makan. Seluruh bagiannya telah terbalut jamur, baunya pun juga menusuk hidung. Aku heran mengapa Troy dengan setia menjaganya. “Kau pasti jijik melihat ini bukan? Mungkin jika aku membuangnya di pelataran jalan, tak satu pun anjing yang mendekatinya. Namun ini sangat berharga bagiku. Roti ini aku terima langsung dari tangan John Kennedy, mantan Presiden negeri ini, yang sampai sekarang pun sosoknya tak tergantikan. Aku ikut meramaikan pesta kampanye yang digelarnya. Saat itulah aku meminta padanya untuk memberikan sisa roti gigitannya padaku. Sebenarnya dia tak mau, karena roti itu terlalu rendah bagi pendukungnya. Namun aku berhasil meyakinkannya. Kau pasti bisa mengira sendiri seberapa tua kah umur roti ini. Dan hingga kapan pun aku akan tetap menjaganya.”

Kekagumanku pada Troy semakin kental saja, hingga suatu waktu aku menyisihkan sebagian penghasilanku sebagai seorang pramusaji di restoran seberang kampus untuk membelikan Troy sepasang alat panyangga badan yang dapat membantunya berjalan. Hatiku miris tatkala menyaksikan perjuangan Troy dengan kaki rentanya,  melangkah terseok-seok berusaha mengais makanan sebelum truk pengangkut sampah datang. Dia harus berperang melawan waktu.

Kali ini aku merasa jika Troy benar-benar seorang yang teguh mempertahankan prinsip, ia dengan keras menolak pemberianku. Ia kemudian mengajakku untuk menjual tongkat pemberianku untuk ditukar dengan sepasang sarung tangan. “Kau tahu, belakangan ini aku merasa tersiksa dengan keadaan tangan kananku yang mulai merepotkanku. Saat malam menjelang dan dingin yang luar biasa, bekas cengkraman badai es Mounth Everst itu membuat tangan ini jauh lebih perih dari sebelumnya. Aku lebih membutuhkan ini, dan aku harap kau tak keberatan untuk menyimpan sebelah kirinya untukmu. Sarung tangan sebelah kiri itu tak cukup berguna bagi tiga jariku ini,” pinta Troy kepadaku.

Air mataku menetes. Sebegitu beratkah hidup Troy, dan dia tak pernah sekali pun mengeluh. Hatiku pilu, melihat Troy berjalan di depanku dengan langkahnya yang gontai. Aku sempat berjanji padanya untuk mengundangnya saat aku meraih gelar Master di bidang hukum kelak. Aku ingin melihat Troy bangga padaku, seperti yang aku rasakan padanya saat ini. Aku bangga memiliki Troy.

***

Semester ini aku sangat sibuk guna merampungkan thesis terakhirku, hingga aku sedikit melupakan Troy. Hari-hariku hanya dipenuhi dengan buku-buku yang kutemui di perpustakaan hingga larut malam. Aku kembali teringat akan Indonesiaku. Aku harus cepat menyelesaikan studi ini dan kembali berpijak di sana dengan menggandeng Troy. Dia yang memberiku semangat selama ini.

***

Aku berdiri terpaku di samping jendela kamar dengan mataku yang masih sembab. Mataku lurus mengamati lorong jalan yang menuntunku bersua dengan Troy untuk pertama kali. Malam ini aku sengaja tak menjumpainya. Aku tak mampu melihat tiang lampu jalan itu tak dipeluk oleh empunya lagi. Karena aku tahu, Troy tak akan pernah kembali ke tempat itu lagi. Ia sudah tiada. Sore hari sesaat setelah aku merampungkan thesisku. Profesor Logan telah meluluskan thesisku. Dan aku bisa menerima gelar Master itu bulan depan, saat waktu wisuda tiba.

Namun perjalananku menuju apartemen tak semulus biasanya. Aku mendapati mayat Troy tergeletak di pinggir jalan, sekitar seratus meter ke arah timur dari restoran cepat saji yang biasa ia sambangi. Jenazahnya dikerumuni banyak orang, namun tak satu pun dari mereka merasa iba dan berniat menghubungi ambulan. Mereka tak ubahnya melihat mayat orang gila yang tak perlu untuk dibantu. Aku yakin dia Troy, sarung tangan biru muda di tangan kanannya itu adalah saksi jalinan persaudaraan kami.

Konon, Troy terseret truk pengangkut sampah. Telah beberapa hari belakangan ini aku tak memberinya makan seperti yang kujanjikan dulu, padahal kisah tauladan Troy terlalu berharga dibanding secuil makanan yang biasa kuberikan padanya.

***

Betapa pun kecewanya aku, itu tak akan membuat Troy kembali menemaniku lagi. Kemarin setelah aku mengurusi seluruh prosesi pemakaman Troy, aku kembali berdiam diri di kamar. Seharusnya ia tak pantas dimakamkan di sana. Ia orang hebat. Ia pantas untuk bersanding di antara makam Adolf Bastian dan para manusia menawan di bumi ini, seperti yang pernah ia ceritakan padaku. Semestinya penulis handal semacam Alberthine Endah lah yang pantas berjumpa dengan Troy, hingga ia bisa mengisahkan kisah hidup Troy dalam biorafi yang dapat menginspirasi banyak orang. Aku berjanji akan membawa sarung tangan ini kemana pun aku berpijak. Sarung tangan ini adalah miniatur raga Troy. Aku akan mengajaknya menapaki bumi Indonesia yang pernah diimpikannya.

Ini semua tak guna untuk kusesali. Karena kutahu, Troy akan tetap menemaniku. Ia akan tetap menjaga dan menyayangiku. Kita akan kembali berkisah tentang indahnya surga kelak. Saat kita kembali menjadi buih harapan bagi semesta yang baru.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *