Bagaimana JON Menjadi Kaya dengan Profesi Penjual Jamu Sebagai Sambilan

Posted: 23 January 2018 by Titis Anggalih

Tak seorang pun sejak masa itu punya niat berdekatan dengan JON (bukan Jon, tapi Je O en, sebagaimana nama-nama yang kepanjangan dan usahamu memadatkannya serupa dengan nama lainnya : SBY, SN,atau ARB, hanya saja JON bukan pula politikus meski tak kalah berduit dari politikus).

Orang menjaga jarak setidaknya seperempat lapangan bola agar kuping JON tak mampu menjangkau obrolan mereka. Itu terjadi sejak orang menyadari ada yang ganjil dengan JON : apa pun yang diucapkan lantas diamini oleh JON bakal mewujud jadi kenyataan, dan seringnya yang buruk-buruk.

Seseorang pernah mempertanyakan mengapa manusia hidup perlu BAB sebelum dirinya sembelit berminggu-minggu. Mulas tiada berkesudahan namun tak ada sukses membuang sampah sisa dalam perutnya. Dokter, yang merasa direpotkan karena akhir tahun begini merasa berhak mengambil cuti, terpaksa membedah perutnya. Itu pula yang terjadi pada seorang lainnya yang menyumpahi istrinya sengsara, nyatanya sumpah itu malah berbalik membuat sang suami terkena stroke, dengan separo tubuh yang baiknya diikhlaskan, sebab nihil untuk digerakkan.

Tampaknya ada aturan main berhadapan dengan JON yang belum banyak dimengerti:

  1. Jangan mengucap yang buruk-buruk di dekat JON.
  2. Jangan mendoakan keburukan orang lain bila ada di sekitar JON.

 

Apa yang dilakukan JON?

Jelang subuh, beberapa waktu sebelum ayam terbangun, JON sudah gegas tinggalkan pondoknya. Satu atau dua kelebat disaksikan peronda dalam perjalanan pulang habis menunaikan tugas mulia (jangan kira meronda hanya tugas rendahan!). Tak ada kabar ke mana JON hendak tuju, tak ada duitnya juga warga mau tahu. Ia baru kembali terlihat di pondok bobroknya bakda bedug lohor, itu pun tak jelas kapan datangnya. Langkah kakinya seperti angin saja.

“Barangkali ke ladang cari akar-akar buat dijerang jadi jamu,” kata seseorang yang dikutip oleh

seseorang lagi yang disampaikan oleh seseorang lainnya. JON memang terkenal dengan racikan jamu mujarabnya. Banyak pelanggan dari luar kota memesan namun tak pernah bisa dikirim jika diminta, sehingga harus diminum di tempat yang sama di mana jamu diracik (tak pernah mau dibayar apa pun kecuali dengan ‘kereweng’ atau remahan pecahan genteng).

“Energi penyembuhnya bisa berubah,” jelas JON singkat, membikin para peminat jamunya datang belaka meski jauh berjarak dua atau tiga kabupaten provinsi, itu pun sebagian perjalanan ditempuh dengan mikrolet desa atau kendaraan yang lebih kecil jika tak mau terjebak jalan yang lebarnya makin menyusut. Maklum, Desa Bulak Ringin tak hanya terpencil namun bahkan pelosok jauh.

Berbatasan dengan hutan dan bukit yang sesekali disatroni beruk-beruk liar. Segala keanehan itu memunculkan kasak dan kusuk: JON barangkali bersekutu dengan yang gaib-gaib, atau bisa jadi bagian dari yang gaib. Dan seperti kebanyakan pelaku gaib pada umumnya, dikhawatirkan ia menawar tumbal. Bahwa ketika kukatakan di awal jika JON berduit, itu hanya memberi minyak pada kobar api kasak-kusuk penduduk. Kerja tak jelas kok bisa berduit, hampir seluruh warga berkata demikian.

Sayangnya, bentukan JON agaknya mendukung untuk disebut singup : cukup semampai namun agak bongkok (akibat sering menggunakan punggungnya untuk menggendong botol-botol jamu). Berusia akhir empat puluhan, kiranya. Ada cekung menghitam melingkupi kedua mata. Rambutnya kemerahan, bersih tapi berantakan, sebahu, kadang diikat dengan karet gelang berwarna kuning seperti yang kau lihat pada buntalan nasi kucing. Tubuhnya cenderung kurus namun tak ringkih, hanya sepasang gundukan daging di dadanya yang menandakan bahwa JON berkelamin perempuan (kau menyangka bahwa JON lelaki, bukan?). Dan tatapan mata dengan aura kebosanan itu seolah punya caranya sendiri menyampaikan aku-tahu-banyak-hal. Model tatapan mata orang-orang waskita.

Tak perlu dipertanyakan dari mana munculnya JON. Kau dan aku sama-sama tak mengetahui, sedangkan JON lebih mengetahui, sebagaimana banyak hal yang JON ketahui, seperti cara menangkal hama di kebun pohon cokelat, menyembuhkan ternak cacingan, memperingatkan jika ada tahun-tahun dengan musim kurang menguntungkan untuk bertani, dan menentukan momentum yang baik untuk berinvestasi Bitcoin dan kapan menjualnya di pasar global persis sebelum terjadi anjlokan nilai. Aku sendiri lebih percaya pundi-pundi JON berasal dari keahliannya itu, alih-alih tuduhan klenik hasil bacotan warga.

Terlintas di kepalamu bahwa JON adalah waliyullah? Aku pernah diajari oleh pinisepuh di kampungku tentang cara mengetahui apakah seseorang itu waliyullah atau bukan: ucapkan salam secara lirih dari sekian jarak tertentu, sangat lirih hingga telingamu sendiri nyaris tak mendengar. Oleh sebab menjawab salam hukumnya wajib, maka pasti dijawab jika orang tersebut waliyullah. Bagaimana sang waliyullah menjawab, kau akan tahu. Sedangkan JON hanya bergeming. Jadi JON bukan waliyullah. Dan jika kau masih membaca tulisan ini, yang artinya ingin tahu lebih banyak tentang JON (atau ingin membeli jamu JON), sebuah artikel di surat kabar lokal terbitan kemarin bisa memuaskan penasaranmu. Halaman empat, kolom pojok bawah. Kalau tak salah dijuduli “Diduga Sarang Dukun dan Hendak Dibakar Warga, Api Justru Melahap Seluruh Desa.”

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *