Antara Kemarau dan Awan

Posted: 26 September 2017 by Madno Wanakuncoro

Masih terlalu dini bagimu untuk memaknai hidup dengan segala kerisauanmu saat ini, Awan. Bukan terutama lantaran usiamu. Sedikit betul itu pengaruhnya bila dibanding dengan Rahasia Langit.

Ah, memang kini sedang tren orang yang mulai melacikan hikayat dan kisah-kisah ‘ajaib’ dari masa lalu hingga berdebu. Tak jarang menyangkanya mitos atau mustahil ada—padahal ia nyata, dan aku termasuk salah satu saksinya.

Tentang seorang balita yang telah tuntas menghafal Kitab Suci, sampai tentang seorang bocah yang dirampok namun tetap jujur dengan apa, di mana dan berapa harta yang dibawanya. Memicu trenyuh hati sang pimpinan rampok itu, lantas berharap agar dijadikan murid oleh si bocah yang menggenggam erat wejangan dari ibundanya. Belum lagi tentang kelahiran kekasih-Nya, yang seluruh semesta menyalami mesra, ialah yang arti namanya yang terpuji—Muhammad—dan tercinta.

Kurasa kau telah mendengarnya dari guru mengajimu setiap sore dalam surau beratap asbes lumutan itu dahulu. Kelak, akan perlu untuk kau telusuri lebih banyak lagi, Awan. Mungkin bermula lewat sabda tanah Welirang, tempat kau dahulu merangkak pertama kali di jempol hijaunya.

Tetapi, bukan perkara umurmu yang masih remaja itu. Melainkan segalanya akan serasi dengan waktunya, Awan. Serasi, tak melulu harus berarti tepat. Dan sekarang, di balik selimut embusan napasku yang terik juga kering ini, cermin batinmu tengah diburamkan kesedihan dan dendam terhadap taring waktu yang merenggut leher nyawa ibumu saat hujan menandaskan seluruh rintiknya.

Membikin nyaris retak kaca batinmu. Pemaknaan pun kian sulit jadinya. Setidaknya, untuk kali ini, menyelamlah ke dalam dirimu secara utuh, Awan. Ke dalam. Ke diri. Nanti, usai kau sadar benar, waktu pula lah yang turut mendampingimu dalam menjinakkan luka ternganga itu.

***

“Kenapa kau bunuh ibuku?!” teriak Syamsu Riawan sambil menenteng bendo—benda mirip parang besar.

Maka tepekurlah lelaki berumur hampir setengah abad itu. Gurat muka kendurnya menusuk tanah tempat istrinya disemayamkan. Sorot matanya redup, tak kuasa melihat putra semata wayangnya dipanggang bara kebencian pada bapaknya sendiri. Bara yang sulit padam meski oleh derasnya hujan yang kali ini petrichor-nya mulai melenyap digusur sang pasangan, aku.

“Hah! Sekarang kau hanya diam? Setelah lama tak menyentuhkan jari ke lengan istrimu sendiri?” Makin erat pegangan parang yang usai dipakainya memotongi bambu untuk makam ibunya. Seluruh warga telah bertolak pulang, kecuali mereka berdua.

Keringat Awan menekan murka beriringan dengan tetes hujan terakhir menggelinding di hidung tak mancungnya. Menapaki setiap pori wajah lesu bermata api yang berangsur tersirami cahaya terang awal musim kemarau.

“Maafkan bapakmu ini, Nak…” Ahmad Samawi—ayahanda Awan yang wajahnya seteduh langit, kini semendung bulan Desember—mengeruk tanah pemendam istrinya. “Silakan. Mau kau apakan aku ini, terserah. Tapi janganlah kau nodai tangan sucimu dengan darah orang nista ini, Anakku.” Ia sekuat batin menahan tangis sesenggukannya.

Seorang ibu rumah tangga yang baru seputaran lagu dikebumikan di sisi rumah gubuk keluarga kecil itu, menikam batin keduanya—putra dan suaminya. Menyesakkan. Terlebih lagi, bapak Awan baru dua hari lalu sampai di rumah. Sepulang dari merantau ke luar pulau antah-berantah tanpa kejelasan. Kerinduan sang istri pada suaminya, selama lima periode hari raya kurban, nampaknya lenyap menguap dengan cepat. Ia berpulang total dengan senyuman penuh cinta tanpa diketahui apa penyebabnya. Orang sekitar meyakini ajal adalah bidikan takdir yang tak pernah meleset.

Awan sontak saja menyalahkan Bapaknya sendiri yang telah membunuh ibunya. Sebab, semenjak berusia 13 tahun, Awan-lah yang menopang kehidupan keluarganya lantaran kepergian sang kepala rumah tangga tanpa memikirkan mereka. “Lelono-broto bapakmu iku,” ungkap Gus Sunaryo kala itu, tetangga sekaligus guru mengaji yang memberi pesangon Awan jika ngarit untuk sapi ternaknya.

Hingga hari ini, ketika sang ibu pergi selamanya, Awan merasa sebenarnya bapaknya-lah yang patut untuk mati lebih dulu. Ia telah lama ingin menghapusnya dari papan silsilah di benaknya. Apalagi desas-desus kabar burung menyelinap masuk ke telinga Awan tentang bapaknya yang konon merantau untuk belajar ilmu hitam.

“Alasan konyol! Ke mana saja kau? Apa katamu pada Gus Sunar dulu hah?!” Geramlah Awan mengingat semua itu. Seakan keluar tanduk di kepalanya.

“Semudah inikah kau termakan gosip warga, Anakku? Bahkan kepada bapakmu sendiri,” gemetar suaranya semakin parau.

Terik matahari perawan agaknya ikut membakar suasana di pusara. Namun angin Muson Timur mulai mengajak dansa janggut dan rambut berombak Cak Samawi yang tergugu. Sungguh suasana yang ambigu.

Semilirnya melengkungkan dedahan nan ringkih. Semerbak wangi kenanga dan bunga sekar lain seolah membuncah. Siut angin selepas Dzuhur itu mengimbangi panas hati Awan yang tertusuk amarah. Anehnya, tatkala kedua mata itu bersitatap, bersentuhan pandang, seketika telinga keduanya hening. Dirasuki kesunyian.

***

Tepat 7 April saat aku hendak membisikimu, Awan. Akhirnya aku urungkan niat itu, lantaran cuaca hatimu tengah labil. Ya, hari pulangnya ibumu itu adalah kehadiran pertamaku untuk berkian-kian kali setelah bergilir dengan hujan. Pasanganku, si hujan, memang disuruh agar melahap habis bulan Maret dan merintiki enam daun bulan April. Hingga sore itu, kala kelelawar yang bersarang di pupus daun pisang mulai bertualang, sudah waktunya kita bergantian. Pas saat kau mencekik bapakmu sendiri.

Alangkah tragis kau sambut kedatanganku dengan adegan sebiadab itu. Untung saja satu malaikat yang tak kebetulan menunggu pusara Sri ‘Asali Jannah binti Nahrul Hakim, Ibumu, tangkas mengalunkan sayapnya perlahan. Menyadarkanmu. Dan sudah barang tentu kau tak melihatnya, Awan.

Namun, sadarilah bahwa kau adalah orang yang terpilih untuk aku bisikkan sesuatu atas titah-Nya. Maka pada malam ini, yang masih sekitar sebulan lagi menuju Isra Mi’raj Nabi terakhir kita, momen itu akan terjadi. Ketika usiamu mau menduduki 19 tahun dan permadani bintang-gemintang yang masih ragu pun ingin menguping perbincangan kita.

“Siapa sebenarnya kau ini?” kebingungan kau toleh kanan-kiri.

Tak mampu aku mewujud menjadi sosok kalau tanpa izin Paduka Gusti, Awan. Jadi, biarkan aku halus berbincang lewat batinmu saja, bahkan lebih halus dan lembut dari suara udara yang menumbuk bayangan rembulan. Tapi ini bukan khayalan. Kau masih sadar dan bukan pengidap skizofrenia. Mungkin kau tertawa bingung kenapa aku sampai tahu istilah itu. Abaikan saja.

“Aku adalah kemarau. Kalian boleh saja memanggil kami di negeri ini dwimusim, aku dengan hujan. Meskipun, pada hakikatnya, kami ini satu. Tercakup pula si salju, dingin, panas, semi dan gugur. Hanya beda perangai dan sebatas berganti peran saja.”

“Heuh, aku tak paham apa yang kau omongkan.” raut wajah berkulit langsatmu seakan-akan wegah.

“Bagaimana kalau kita mulai dari kau dan keluargamu?” pancingku, “Syamsu Riawan, satu-satunya putra Ahmad Samawi dengan Sri ‘Asali Jannah. Arti gampangnya, arti yang telah kupukul rata, ialah Awan yang lahir dari pernikahan antara Langit dengan Madu Surga. Dan Kakek dari jalur ibumu sendiri adalah Nahrul Hakim, Sungai Kebijaksanaan.”

“Bagaimana kau tahu itu semua?” Nampaknya pancinganku mujarab. Aku pun tersenyum geli.

“Banyak hal yang hanya perlu untuk kau terima tanpa mampu tahu alasannya, Awan. Pertama, yang sangat penting kusampaikan adalah tentang bapakmu. Memang benar ia lelono-broto. Namun bukan untuk berguru ilmu hitam. Adakah kau ingat pelajaran dari guru mengajimu yang menjelaskan tahapan ilmu pada waktu itu?”

“Ah, Gus Sunaryo mengajar kami sembari gurau. Kami lebih sering tertawa.” Terlihat kau sudah nyaman dengan percakapan mesra ini. Samar-samar kau coba geledah memori di rak akalmu. Sementara tanah yang kau pijak, juga rembulan yang pernah terbelah di atas sana, mengamatinya penuh takzim.

Lalu kau temukan ingatan itu. Ungkapan sahabat Nabi, Umar bin Khattab, bahwa ada tiga tahapan ilmu: jika seseorang memasuki tahap pertama, ia akan sombong. Kemudian seusai masuk tahap kedua, akan rendah hati. Dan selanjutnya tahap yang terakhir, jika kau mendalaminya, kau akan merasa tidak ada apa-apanya. Sebatas debu semesta.

“Bapakmu telah mencapai tahap terakhir itu, Awan. Begitupun istrinya. Mereka berdua menjalani hidup sederhana dan tak banyak minta kepada kehidupan. Terutama bapakmu, yang merantau itu. Istrinya sudah rela, bahkan semenjak ikrar suci mereka.”

Kau tercenung membisu. Sudahlah, tak usah kau tahan air mata kerinduan pada malaikat yang kepadanya dirimu dititipkan.

“Lantas, apa yang dilakukan bapakku itu selama merantau 5 tahun, hah?”

“Sebagaimana kau tahu, manusia bukan diciptakan untuk langsung sempurna. Kalian dipercaya akan mampu dan selalu berusaha menuju kesempurnaan sejati. Dan bapakmu berkeliling tak saja keluyuran, ia hanya bertindak bagaimana membuat taman. Menanam terus tanpa memikirkan panen atau tidaknya. Itulah salah satu kesejatian hidup.”

“Apa maksudmu dengan taman?”

“Ia merantau ke pulau seberang sana. Dalam setiap tempat singgah, ia mengajarkan sesuatu kepada orang lain di sekitarnya yang minat dan ingin. Seperti anak muda yang ngasong dan buta-huruf diajarkannya baca-tulis. Hingga kini anak muda itu, bila kau tau, telah mampu menulis banyak puisi.” Aku buka salah satu ‘aib’ Samawi biar anaknya mau menjumpainya lagi.

Mata Awan terbelalak. Kualihkan sedikit saja sebentar supaya lekat kesan saat ini, di dada dan kepalanya.

“Awan, sedikit sekali manusia yang menyadari bahwa semesta ini hidup. Sekalipun sekarang kemajuan pesat, masih saja ada yang menyebut sesuatu dengan istilah ‘benda mati’. Padahal batu, lidi, logam, air, kata, lumpur, minyak, kaca dan angin serta semacamnya itu hidup dan saling memengaruhi dengan kalian, para manusia. Bahkan angin yang kali ini bergelayut di antara kita, sempat disuruh bercinta dengan badai dan banjir di masa Nabi Nuh, dan pernah menyampaikan salam rindu si pecinta Qays kepada kekasihnya, Laila.”

“Aku kurang paham dengan keterusterangan darimu. Tapi, siapakah kau ini secara nyata? Dan kenapa aku mendengar bisikan ini?”

“Aku hanyalah ciptaan, Awan. Yang dilahirkan tanpa tanduk. Andaikata aku bertanduk, tanduk di kepala tak dapat digelengkan1)Peribahasa, yang menyiratkan maksud: “tidak kuasa mengelakkan diri dari kewajiban yang harus dikerjakan”.. Dan sepasti Kitab Suci pertama Allah—alam semesta—maka, tanpa harus aku sarankan, peristiwa ini berdaya lekat kuat pada dinding ingatanmu.” Maaf, Awan. Tak harus kujawab alasan kenapa kau yang dipilih. Karena kenikmatan tertinggi adalah justru dengan adanya ketidakmengertian dan rahasia.

Atau kau dipilih itu mungkin juga suatu kebetulan—yang tak lain adalah bibir kebenaran yang belum mampu untuk kau kenali wajahnya.

Wahai! Gesekan dua tangkal bambu dekat tempatmu bersandar, merupakan isyarat lirih buatku agar menyudahi semua ini, Awan. Biarpun kau tak sadari itu, tetaplah getaran batinmu yang tergugu sebenarnya mengamini perpisahan kita.

Nyaris persis seperti beberapa saat lalu, alangkah bencinya kau, pada waktu yang merenggut kenyamanan dalam batinmu. Barangkali biarkanlah lepas, apa-apa yang sudah waktunya dilepas. Sampai suatu ketika, saat kau insyaf kelak, waktu—yang juga ciptaan—akan disuruhNya bertanggung jawab membekukan luka dan menyegarkan kembali setiap liang renik kehidupanmu, Awan.

Sekadar penghabisan, Awan. Mulai sekarang, aku bukan hilang. Aku hanya bungkam.

 

Bandung, 26 Maret 2016

 

*lukisan St. Paul the Hermit (Matthias Grünewald)

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

References   [ + ]

1. Peribahasa, yang menyiratkan maksud: “tidak kuasa mengelakkan diri dari kewajiban yang harus dikerjakan”.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *