[Ngibul #41] Cilok, Bambu Runcing, dan Pahlawan

Posted: 20 November 2017 by Andreas Nova

Apa yang terbesit di kepala ketika mendengar kata cilok? Barangkali sebagian besar jawaban akan merujuk kepada makanan ringan yang berasal dari Tlatah Sunda yang dibuat dengan cara merebus campuran adonan yang berbahan utama tepung kanji. Makanan ringan ini sangat merakyat. Buktinya kita akan dengan mudah menemui bakul cilok di depan—hampir semua—sekolah yang ada di Yogyakarta. Jika warung burjo melakukan invasi…

Read more

[Ngibul #40] Apa yang Hilang dan Berganti karena Ojek Online

Posted: 13 November 2017 by Asef Saeful Anwar

ojek

–ojek/ojék/ n sepeda atau sepeda motor yg ditambangkan dng cara memboncengkan penumpang atau penyewanya–(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Pada setiap hal yang baru selalu ada yang ditanggalkan: sesuatu yang perlahan raib secara alami atau dengan cepat dihilangkan. Begitu mak jegaguk berdiri sebuah perumahan baru, mungkin ada lahan persawahan yang dihilangkan, persawahan yang ditinggalkan petani. Apa yang terjadi tidak semata persawahan yang…

Read more

[Ngibul #39] Untuk Mereka yang Menderita di Bawah Pemerintahan Pontius Pilatus

Posted: 6 November 2017 by Olav Iban

Hari ke-14 bulan Nisan. Akhirnya tiba sudah, disertai gugur daun zaitun dan hembusan kasar angin penggiring pasir berkapur menelusuk mata para gembala. Hari kematian sepupuku, si pencuri ternak. Si pembunuh ternak tepatnya, ia mencuri namun tanpa menikmati hasilnya. Terbunuh sia-sia dia, si domba curian, karena orang banyak telah mulai melempari batu saat sepupuku baru saja bersiap menggarami seiris besar daging…

Read more

[Ngibul #38] Tentang Penindasan Pribumi terhadap Rakyat Indonesia di Masa Kolonial

Posted: 30 October 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, “Itik se atellor, ajam se ngeremme.” Itik yang bertelur, ayam yang mengerami….

Read more

[Ngibul #37] Bridesmaid, Bridalshower, Babyshower: Praksis Teori Bunglon Couple Zaman Now?

Posted: 23 October 2017 by Bagus Panuntun

“Sejak kapan istilah pagar ayu berubah jadi bridesmaid?.” Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja ketika beberapa hari lalu saya menemukan sebuah undangan cantik di atas meja sepupu saya, dengan warna pink motif bunga daisy dan sebuah kalimat “Will you be my bridesmaid?”. Sebagai seorang pemuda yang baru saja lulus S1 dan masih memasuki tahap usia-orang-tanya-kerja-dimana, barangkali cukup aneh jika saya mengakui…

Read more

[Ngibul #36] Nostalgia Literasi

Posted: 16 October 2017 by Andreas Nova

nostalgia

“Pourquoi nier l’évidence nécessité de la mémoire?” —Marguerite Duras, Hiroshima Mon Amour   Jumat pertama bulan ini, kantor saya mengadakan jamuan makan siang untuk semua karyawan di sebuah hotel yang berlokasi tepat di sebelah selatan Stasiun Tugu. Restoran hotel terdapat di Sky Lounge di lantai teratas. Dari situ lalu lalang, sibuk, dan ramainya stasiun terlihat dari ketinggian. Sesaat kemudian, serangkaian…

Read more

[Ngibul #35] Membedakan Kesan dengan Kritik *

Posted: 9 October 2017 by Asef Saeful Anwar

kritik

Can you read a text without wondering what reading is? (Bourdieu, In Other Words).   “Kamu memandang sastra seperti agama. Padahal, sastra itu kibul. Sastra cuma bualan.” Aku tak berani memalingkan muka ke arahnya. Hanya mampu kutatap ombak sembari kulempari laut dengan kerikil. “Apakah ada yang lebih baik mengajarkan kebenaran selain dengan kebohongan?” Meskipun tak melihat wajahnya saat itu, aku…

Read more