Pensiun

Posted: 29 August 2017 by Michael Anggi Gilang Angkasa

Aku meraba setiap jengkal dinding kamar dengan telapak tangan yang mulai terkelupas karena berganti kulit. Hingga kini aku tidak juga mengerti, mengapa setiap tangan akan bernasib seperti ular. Bahkan tanganku “benar-benar ular” sekarang. Namun ,ular itu tidak meliuk di atas tanah atau melingkar di pepohonan. Ia merambat gelisah di antara cat tembok yang terlepas dengan sedikit hawa dingin yang meresap…

Read more

Surat dari Tanah yang Berasap

Posted: 1 August 2017 by Sulaiman

Seorang lelaki berdiri mematung. Di depannya sebuah cermin, juga sebuah wajah yang menampilkan dirinya. Kumis yang tak sempat dicukur dan rambut hitamnya tinggal beberapa helai, selebihnya putih. Garis-garis senja tergurat di dahinya. Di sudut lain, sebuah surat tergeletak di atas meja, diambilnya. Dia berjalan ke sebuah kursi, perlahan duduk. Sembari menghadap jendela yang terbuka, tangannya mulai membuka dua lembar kertas…

Read more

Jiwa-jiwa yang Pergi

Posted: 18 July 2017 by Hadi Winata

Pria berumur dengan kulit yang terbakar itu memandang jauh ke depan. Sejauh matanya memandang, hanya ada lautan biru yang membentang. Matanya seperti menyiratkan sebuah luka yang mendalam. Kedua tangannya diletakkannya di atas stir kapal. Sementara pikirannya terbang entah ke mana. Ia masih tak habis pikir bagaimana istri yang sangat dicintainya, yang telah hidup bersamanya selama belasan tahun—meski belum dikaruniani anak—itu…

Read more

Variasi Asal Mula Peradaban

Posted: 4 July 2017 by Thoriq Aufar

“Hana, apa kamu percaya kita adalah hasil evolusi kera yang diasingkan dari kelompoknya? Tentu, setelah bebas dari kutuk sunyi berabad-abad melalui proses seleksi alam yang ketat dan perpaduan genetik yang rumit.” “Apa maksudmu seperti kera itu, Arya?” Hana menunjuk ke arah utara, seekor kera kurus dengan letih turun dari pohon pinus. Sesampainya di permukaan tanah, kera itu menoleh ke seluruh…

Read more

Sang Dalang

Posted: 13 June 2017 by Ferry Fansuri

Kau tak akan tahu siapa aku karena hanya bayangan dalam bayanganmu. Aku bergerak sangat cepat, tapi terkadang amat lambat. Aku mampu menyelinap dalam desah napas manusia, mencium bau busuk, atau parfum murahan perek jalanan. Aku hidup lebih lama daripada negara ini. Tapi bukan iblis, bukan pula dajjal. Aku manusia seperti kalian yang mempunyai nafsu dan akal. Aku hadir dalam tiap…

Read more

[Juara 1 Lomba Penulisan Cerpen Etnika Fest 2017] Menjelang Pinola Suako

Posted: 30 May 2017 by Sulfiza Ariska

pinola suako

Apa arti seorang perempuan bila sudah tidak perawan? Bagai binatang buas yang terluka, pertanyaan itu mengamuk di dalam suo-suo yang miskin cahaya. Membuat Malahayati gamang diguncang-guncang gelisah. Ia ingin segera berlari memburu pelukan pemuda yang memasung hatinya. Tetapi, gendang keramat yang ditabuh paganda1)pawang pemukul gendang telah pecah. Pertanda gadis di dalam suo2)ruang untuk tidur (kamar) bagi peserta posuo. ‘ada’ yang…

Read more

[Juara 3 Lomba Penulisan Cerpen Etnika Fest 2017] Lelaki yang Memintal Pelangi

Posted: 23 May 2017 by Sulfiza Ariska

Hanya satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena satu perbuatan. Dan itu perbuatanku. —Bung Hatta     KAMPUNG yang terapung itu bagai kuburan. Sunyi dan mati. Semua penghuninya seolah menderita bisu dan tuli. Mereka tidak saling menyapa atau mengunjungi. Di rumah lanting1)Rumah rakit/rumah terapung yang mereka tempati, tidak terdengar lagi suara orang mengaji, berzanji, bernyanyi, atau rentak kaki…

Read more