Mpantung

Posted: 6 March 2018

“Sebaiknya kau segera pulang minggu ini. Orang-orang di kampung benar-benar menunggumu. Kalau tidak kau bakal kena kutukan. Dibuang, dianggap mati!” Begitulah desakan Beko kepada kawan seperantauannya, Lanur. Sebenarnya itu lebih menjadi ajakan yang dibayang-bayangi dengan sebuah kecelakaan kepada Lanur. Tapi Beko merasa iba juga dengan sahabat atau tepatnya saudaranya itu….

Hujan Asam Minggu Malam

Posted: 20 February 2018

“Sabir, Sabir, ini sudah jam sepuluh, kau harus pulang,” katanya, seperti berbisik. “Tidak baik di sini lama-lama. Tidak masalah di luar hujan, tabrak saja. Lagi pula, ada jas merah polkadot itu, yang dulu kamu kasihkan di ulang tahunku yang kedua puluh. Sudah berlubang di pundaknya, tapi itu lebih baik daripada…

Kisah yang Tak Ingin Kauceritakan

Posted: 6 February 2018

Jika kau pulang ke rumah menemui ibumu, kau selalu memilih untuk datang selain hari Minggu. Sebab itu adalah hari khusus bagi keluarga besarmu untuk berkumpul di rumah dan bercerita tentang banyak hal, dan kau tak menyukainya. Mereka adalah orang-orang yang memantau perkembanganmu sedari kecil hingga kini kau menjadi gadis dewasa…

Dia yang Mengaku Termiskin di Dunia

Posted: 9 January 2018

M senantiasa memandang dirinya sebagai seseorang yang serba kurang dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Kalau bertemu abang becak, ia merasa tak punya becak. Kalau bertemu pemulung, ia merasa tak punya karung. Kalau bertemu tukang parkir, ia merasa tak punya peluit. Pekerjaannya sebagai operator player di sebuah tempat karaoke tak membuat…

Melarung Sesajen Luka

Posted: 26 December 2017

Ujung wajah layung sedikit mengintip dari balik awan saat kakiku yang bersepatu biru menapaki Terminal Harjamukti, Cirebon. Baru kutumpangi bus Bandung-Cirebon dari Jatinangor. Aku dilanda rindu kepada Mimi dan ingin segera sampai rumah. Perjalananku belum selesai di terminal ini, aku masih harus menyambung elf mengarah Tegal. Posisi tempat tinggalku tepat…

Kaki Langit

Posted: 23 December 2017

Tepat di seberang jendela kamar apartemenku, aku  mendapati seorang lelaki berumur hampir satu abad. Dengan setia ia memeluk tiang lampu jalan. Nanar mukanya sendu, seakan menyimpan segudang kelelahan. Beberapa botol minuman kaca berserakan di sana. Kilauan lampu jalan yang sedari tadi menghangatkan bagian kanan wajahnya, kini mulai redup. Tua dimakan…