Revolusi Indonesia dalam Sisi yang Lain

Posted: 14 July 2018 by Willy Alfarius

Adik Tentara Book Cover Adik Tentara
Koesalah Soebagyo Toer
Pataba Press
2018
xxi+168 hlm
Rp51.000

Sudah banyak buku ditulis tentang masa sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, baik dalam bentuk rekaman sejarah, kenangan, analisis, buku pelajaran, maupun dalam bentuk lain-lain lagi. Namun kiranya baru kali inilah masa sekitar Proklamasi Kemerdekaan ditampilkan ke tengah masyarakat lewat kacamata seorang anak. Sesungguhnya tidak ada revolusi yang tanpa ikut serta anak-anak, dan tidak ada revolusi di mana semua anak-anak bersikap pasif sebagai pelengkap derita belaka. Namun ironisnya, apa pun hasil revolusi itu, mau tak mau, anak-anak tetap menanggung akibatnya. Oleh karena itu suara anak-anak tentang revolusi patut dan harus didengar. Buku ini memang kecil, tapi hal itu tak mengurangi artinya sebagai salah satu sarana untuk memahami, apa yang selama ini kita rujuk sebagai nilai-nilai revolusi. Dan, dengan itu pula kita mencoba memahami apa yang kita namakan cita-cita Revolusi Agustus 1945, seperti di antaranya tercermin dalam teks Proklamasi Kemerdekaan, teks Pancasila, dan teks Undang-Undang Dasar 1945.

 

Dekade 1940an menjadi satu babak penting dalam sejarah Indonesia. Periode tersebut menjadi masa transisi Indonesia dari sebuah negeri jajahan menuju negara merdeka. Setidaknya, ada tiga momen politik yang sangat menentukan. Pertama runtuhnya negara kolonial Hindia Belanda yang kemudian digantikan oleh pemerintahan militer Jepang. Kedua, ketika Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Dan ketiga, ketika Indonesia mencoba mempertahankan kemerdekaannya atas pendudukan kembali sisa-sisa kolonialisme Barat atau yang lebih dikenal sebagai periode Revolusi.

Masa-masa yang menentukan di atas coba dikisahkan kembali melalui perspektif anak-anak oleh Koesalah Soebagyo Toer dalam kumpulan cerita pendek berjudul Adik Tentara terbitan Pataba Press. Awalnya buku ini pernah diterbitkan pada 1996 oleh Majelis Seninan Yayasan Pendidikan Soekarno dalam dua bahasa (Indonesia dan Jawa). Koesalah, yang dalam buku tersebut berperan sebagai pencerita dengan nama Liliek, ketika itu berusia antara 10 hingga 15 tahun menceritakan apa yang ia alami di sebuah kota kecil di Blora, Jawa Tengah. Liliek adalah anak seorang guru sekolah yang mempunyai dua orang kakak laki-laki yaitu Mas Wiek dan Mas Moek. Oleh karena adanya tuntutan zaman, kedua kakak Liliek harus menjadi tentara pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mas Wiek sendiri menjadi pejuang di Blora dan sekitarnya, sedangkan Mas Moek menjadi tentara di Jakarta, tempat ia merantau sejak zaman Jepang.

Buku setebal xii+168 halaman ini terdiri atas dua bagian yang masing-masing memuat 7 dan 18 cerita. Kisah dimulai dengan ditangkapnya seorang serdadu Jepang yang kemudian diarak dan dibawa ke Alun-alun Blora. Menyerahnya Jepang dalam Perang Dunia II dan kenyataan bahwa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya membuat serdadu-serdadu Jepang tersebut sudah tidak berdaya dan pasrah. Namun, seperti sudah kita ketahui dari pelajaran sejarah di sekolah, menyerahnya Jepang dan merdekanya Indonesia kemudian diikuti dengan kedatangan tentara Sekutu yang berniat melucuti balatentara Jepang. Kedatangan Sekutu kemudian menjadi masalah tersendiri karena mereka datang dengan membonceng NICA, kepanjangan tangan Belanda yang hendak mendirikan kembali pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Periode inilah yang kemudian menjadi latar belakang nyaris seluruh kisah dalam buku ini.

Menyelami Adik Tentara membuat kita sedikit memahami bagaimana realita maupun perubahan sosial sebagian masyarakat Indonesia dalam tahun-tahun pertama Indonesia merdeka. Periode ini menjadi masa dimana lahir suatu kelas baru dalam masyarakat Indonesia. Misal dalam cerita berjudul “Sukir Gugur” (hlm. 8). Diceritakan seorang pemuda bernama Sukir yang kendati anak orang berada tetapi memilih hidup menggelandang. Ketika memasuki periode Revolusi, tiba-tiba Sukir sudah mengenakan seragam pejuang dan menenteng bedil. Akhirnya Sukir ikut gerilya dan bertempur di Semarang hingga gugur di sana. Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Blora untuk dimakamkan dengan disambut oleh ribuan penduduk Blora sebagai seorang pejuang besar. Selain itu, dalam kisah “Tentara Pelajar Latihan Menembak” (hlm. 39) diceritakan bagaimana para pejuang Revolusi tersebut dapat menghentikan aktivitas para petani karena mereka akan latihan di sekitarnya. Semua laki-laki yang dianggap sudah dewasa dan kuat menenteng senjata, rasanya wajib menjadi seorang pejuang. Ini bisa dibaca dalam “Mas Wiek Jadi Tentara” (hlm. 21), “Pak Engkrek Maju Perang” (hlm. 50), dan “Pak Ismail Berangkat ke Front” (hlm. 55). Dari beberapa kisah yang ada, kita bisa memahami bagaimana kedudukan seorang pejuang, laskar, tentara, dalam strata sosial masyarakat. Sesuatu yang kemudian masih terjadi hingga kini ketika angkatan bersenjata dianggap tidak hanya bertanggung jawab mengurusi pertahanan negara tapi juga ikut terlibat dalam urusan sipil.

Dalam buku ini, Koesalah juga merekam bagaimana peliknya periode Revolusi dalam sejarah Indonesia. Kedatangan kembali Belanda sesudah kemerdekaan Indonesia tentu disambut perlawanan oleh para pejuang Republik yang merasa bahwa negerinya (seharusnya) sudah bebas dari kolonialisme. Perjuangan fisik melawan kolonialisme Belanda inilah yang kemudian menimbulkan berbagai dampak sosial-politik yang cukup rumit berbentuk konflik horizontal sepanjang 1945-1948. Dalam “Peristiwa Madiun” (hlm. 111) Koesalah menceritakan bahwa ia bersama teman-temannya saban hari membicarakan apa yang terjadi dalam pemberontakan itu. Liliek bersama teman-temannya menjadi saksi bagaimana PKI pada 1948, sebagai lanjutan dari aksi di Madiun menangkapi orang-orang penting di Blora. Tapi tidak lama kemudian giliran mereka yang ditumpas oleh pasukan Divisi Siliwangi.

Kendati bukan dimaksudkan sebagai buku sejarah namun Adik Tentara dapat disebut menjadi satu sumbangan penting bagi historiografi anak di Indonesia. Selama ini suatu peristiwa sejarah sering dilihat dari kacamata orang dewasa, apalagi pada periode Revolusi yang kerap dilihat dari sudut pandang politik dan militer. Anak-anak seringkali luput dari peristiwa-peristiwa besar semacam ini karena selalu dianggap sebagai objek yang belum mampu berpikir sendiri. Padahal banyak sisi-sisi lain yang menarik yang hanya mampu ditangkap dan digambarkan dengan baik oleh anak-anak. Koesalah mengisahkan bagaimana anak-anak sepertinya tidak takut dengan perang, malahan penasaran sebagaimana diceritakan dalam “Melihat Soklih” (hlm. 83). Dalam cerita itu, Liliek bersama adiknya, Cus, nekat pergi ke Rembang menumpang kereta api untuk melihat kapal tentara Belanda yang memiliki lampu besar dan terang yang mereka sebut sebagai soklih. Begitu pula dalam “Cap Rokok dan Front” (hlm. 98) Liliek yang diajak oleh Mbak Kun ke Kudus minta diantar untuk melihat garis demarkasi antara tentara Belanda dan pejuang Indonesia di pinggir sungai Tanggulangin, sembari mencari cap rokok untuk dikoleksi. Ada kepolosan dan keberanian yang dilihatkan dalam beberapa kisah dalam buku ini.

Adik Tentara juga bisa disebut sebagai mini-biografi keluarga besar Mas Toer, seorang guru sekolah Boedi Oetomo yang cukup terpandang di Blora. Meski disebutkan bahwa nama-nama dalam cerita ini rekaan, tapi  tidak semua nama tokoh-tokoh yang ada hanya khayalan. Mulai dari Toer, ayahanda Liliek hingga Mas Moek (nama panggilan Pramoedya Ananta Toer) semuanya terinspirasi dari tokoh nyata.

Kritik terhadap buku ini adalah, meski buku ditujukan sebagai cerita untuk anak-anak dan diceritakan secara sederhana dan mengalir, namun banyak hal yang cukup berat untuk dipahami bagi seorang anak, entah itu alur peristiwa maupun terminologi yang berhubungan politik. Secara umum, Adik Tentara memberikan warna baru bagi pembaca dalam memahami periode Revolusi Indonesia dari kacamata orang kecil, tidak melulu narasi-narasi besar seperti yang selama ini sering ditulis oleh negara.

Pendapat Anda: