Lelucon Terkait Alkudus yang Tidak untuk Ditertawakan

Posted: 30 June 2018 by Yuditeha

Alkudus
Asef Saeful Anwar
Basabasi
2017
268 hlm
Rp60.000

Bumi Tanpa Manusia dan Cover Alkudus hilang.

Alan Wiesman, dalam bab penutup di bukunya The Word Without Us, salah satunya mengatakan bahwa untuk saat ini, yang lebih penting bagi kita yang masih berada di Bumi, adalah apakah kita manusia mampu lolos dari yang oleh banyak ilmuwan disebut ini.

Oleh orang yang beriman, kepunahan besar terakhir planet itu disebut kiamat, dan inti dari uraian pada bab tersebut merujuk pada sebuah keadaan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri dalam kurun waktu yang lama. Katakanlah kita tidak bisa mencegah peristiwa besar itu terjadi, tetapi kita bisa menundanya karena peristiwa besar itu adalah sebuah akibat dari sebuah sebab. Mengurangi munculnya sebab tersebut akan berarti menundanya.

Menurut saya, kehadiran Alkudus adalah salah satu usaha untuk mengurangi sebab itu. Keyakinan ini muncul karena, segala yang ada di Alkudus adalah baik adanya. Salah satu contoh hal yang baik misalnya perihal sub bab yang menerangkan bahwa betapa kita perlu untuk Memelihara Diri dari Godaan Iblis (hal: 47). Dan segala yang baik adalah bersifat melestarikan. Pada pembahasan ini saya membayangkan sebuah lelucon. Pada suatu hari nanti, ada sebuah peristiwa besar yang berusaha melumatkan bumi ini hingga sebagian besar manusia musnah. Dan satu-satunya penolong manusia yang selamat waktu itu adalah Alkudus. Mereka menemukan Alkudus dalam keadaan sedikit koyak. Cover depan dan satu lembar setelah cover itu hilang, demikian juga yang terjadi dengan cover belakang dan satu lembar terakhir. Ada yang tahu maksud lelucon saya ini? Lihatlah Alkudus, dan bayangkanlah bagaimana perasaan orang-orang itu  jika menemukan Alkudus dalam keadaan seperti dalam lelucon ini?

 

Kitab terakhir di The Book of Eli dan Alkudus

Senada dengan uraian di atas, Film berjudul The Book of Eli, yang rilis 15 Januari 2010, juga mengisahkan sebuah peristiwa besar di masa yang akan datang. Dalam film itu berseting tahun 2043 yang bercerita tentang seorang pengembara sedang melakukan perjalanan jauh. Pengembara itu bernama Eli, yang apik dibintangi oleh Denzel Washington. Perjalanan itu adalah misi menjaga sebuah kitab yang dipercaya sangat berguna bagi peradaban manusia. Kitab itu ternyata kitab terakhir yang diperebutkan dan akhirnya hilang dirampas. Tetapi sang perampas kecewa karena buku itu ternyata ditulis dalam huruf braille yang tidak bisa dibacanya. Salah satu kisah menarik di film tersebut terletak di endingnya, karena di sanalah ada unsur kejut. Kisah yang tak terduga dan kisah yang super heroik.

Waktu pertama kali saya memegang dan membaca Alkudus, ingatan saya langsung jatuh pada kisah film itu. Saya membayangkan pada suatu masa Asef sedang mengemban sebuah misi suci. Misi suci Alkudus, hingga keberadaannya akan diperebutkan oleh banyak orang. Misi suci ini sesungguhnya bisa tersirat dari kata-kata pembuka sebelum Alkudus ini didedahkan. Kata-kata itu berbunyi: Sucikanlah dirimu sebelum menyentuh kitab ini, dan letakkanlah kitab ini pada tempat yang tinggi lagi suci (terdapat di lebar sebelum halaman daftar isi). Dalam bayangan saya, ketika Asef sedang dikejar-kejar musuhnya untuk merebut Alkudus, pada saat itu Asef langsung membakar Alkudus. Kita akan menyangka bahwa jika memang demikian yang dilakukan Asef, pada saat itu mungkin Asef sedang frustasi. Tetapi tidak demikian, karena sesungguhnya dia sedang melakukan aksi heroik. Saya memikirkan kisah selanjutnya sama dengan ending di film The Book of Eli.  Pada saat Alkudus itu akan diperbanyak untuk kepentingan peradaban manusia. Asef tidak menunjukkan buku fisik Alkudus karena memang buku itu sudah dibakarnya. Asef mendiktekan isi Alkudus, karena Asef telah hapal isinya di luar kepala.

 

Nihilisme Nietzsche dan Kegelisahan Asef

Nietzsche mengatakan bahwa semua yang dia kisahkan adalah sejarah dua abad ke depan, tentang datangnya masa nihilisme, dimana dalam taraf itu manusia tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, bahkan takut untuk merenungkan. Nihilisme akan ditandai dengan runtuhnya seluruh sendi nilai-nilai kemanusiaan. Lalu apa hubungannya hal itu dengan Asef? Alkudus, karya Asef, menurut saya adalah wujud kegelisahannya. Kegelisahan untuk menangkap apa yang dikatakan oleh Nietzsche tersebut. Karena selanjutnya Nietzsche menambahkan bahwa sesungguhnya masa depan dari nihilisme sudah berbicara pada saat sekarang ini. Menurut saya, Asef berusaha meminimalisir gejala nihilisme tersebut dengan memunculkan Alkudus. Setidak-tidaknya kehadiran Alkudus diharapkan dapat berperan  memperlambat munculnya gejala nihilisme total.

Saya membayangkan Alkudus akan hadir di garda depan sebagai seteru abadi dari nihilisme. Dalam bayangan saya kata-kata terkenal yang pernah diucapkan Nietzsche: Membuat gelisah itulah tugas saya, kini bukan hanya dia yang mempunyai kekuatan itu, menurut saya Asep pun punya kekuatan itu dengan Alkudusnya. Dan jika Anda ingin membuktikan apakah yang saya katakan ini benar atau tidak, bahwa tulisan ini dapat membuat Anda gelisah, syaratnya hanya satu, Anda harus membaca dengan khusyuk seluruh isi kitab Alkudus ini.

 

Pengarang dan Obsesinya Budi Darma dan Obsesi Asef

Dalam pengantar bukunya yang berjudul Kritikus Adinan, Budi Darma bercerita tentang pertemuannya dengan beberapa penulis besar. Dalam pertemuan itu Budi Darma bertemu dengan pengarang yang berkaraoke dengan semangat. Pengarang itu hafal banyak lagu dan menyanyikannya dengan sangat menghayati. Budi Darma tidak heran melihat itu. Mengapa? Karena beliau sudah membaca beberapa karya-karya besar pengarang itu dan dari sekian yang dibaca, beliau mengira referensi dalam menulis pengarang itu antara lain, dunia pop yang diantaranya tentang lagu-lagu bertema cinta. Budi Darma menganggap meski lagu itu pop bertema cinta tapi dalam novel, pengarang itu sanggup meramu mana yang akan dimaknai pop dan mana yang serius dan filosofis.

Ketika saya melihat Asef, saya jadi teringat cerita Budi Darma tersebut. Kalau tidak salah Asef adalah salah satu penulis yang tertarik mengulas lagu-lagu dangdut, dimana pengertian secara umum dan dangkal, syair-syair lagu dangdut adalah syair-syair kampungan dan jauh dari rasa intelektual. Tetapi di tangan Asef, tak jarang syair-syair lagu dangdut itu disulap menjadi bahan tulisan yang aduhai asyiknya. Menurut saya seasyik goyangan di dalam dangdut. Jadi, di tangan Asef syair dangdut saja bisa menjadi tulisan bagus, lalu bagaimana jadinya kalau dia membuat tulisan dengan bahan yang lebih serius? Intinya tak heran jika Alkudus bisa lahir dari tangannya? Harapan saya semoga saya bisa melihat suatu saat nanti mendengar Asef bernyanyi beberapa ayat di Alkudus dengan nada-nada dangdut. Dan jika saya boleh menerka, misi Asef dalam Alkudus ini sesungguhnya termaktub dalam Bab 21, berjudul Nama Tuhan, ayat 6 sampai 8, berbunyi: Apabila ada yang tak menuruti apa yang engkau sampaikan janganlah bermurung diri. Dan tak perlu engkau meminta ampun kepada-Ku sebab Aku tiada mengampuni siapa pun yang tak berbuat salah. Sungguh bila telah sampai kepada mereka apa yang diturunkan kepadamu, tugasmu telah selesai.

 

Panggilan hatinya Priya Kumar dan Mimpi Asef

Priya Kumar dalam awal pengantarnya dalam novel Panggilan Hati, mengatakan bahwa semua jawaban ada di dalam hati. Semua orang memiliki panggilan hati, alasan yang membuat kita hidup di planet ini. Semua orang hidup di dunia ini demi alasan yang jauh lebih besar daripada sekedar pergi bekerja dan menghasilkan uang. Saya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Priya Kumar tersebut, demikian juga saya percaya Asef mempunyai itu. Menurut saya Alkudus bukan novel pop yang diharapkan dengan mudah menjaring pembaca, agar bisa menjadi buku terlaris. Saya meyakini, Asef menghadirkan Alkudus bukan untuk terkenal, juga bukan untuk segepok uang, tetapi ada sesuatu yang ingin dia sumbangkan bagi kejiwaan manusia yang semakin lama tidak semakin membaik jiwanya tetapi cenderung semakin akut sakit mentalnya. Menurut saya, inilah panggilan hati Asef Saeful Anwar.

Tetapi untuk lelucon bagian ini begini, pernahkah Anda membayangkan, Asef tiba-tiba datang di hadapan Anda dan berkata seperti ini: “Malaikat datang kepadaku. Malaikat itu memberi tugas kepadaku untuk membantu Eralah Sang Utusan menyempurnakan kitab sucinya.” Untuk perihal tersebut, jika Anda bertanya kepada saya, saya akan menjawab, saya pernah membayangkan itu.***

Pendapat Anda: