Seni & Multi-medialitas

Posted: 4 November 2017 by Redaksi Kibul

Program studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gajah Mada Yogyakarta secara berkala mengadakan seminar atau diskusi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memproduksi keilmuan seni. Berbagai tema telah diusung dalam tiga tahun terakhir, seperti Seni Politik-Politik Seni, Art and Beyond, dan The Power of Art. Tahun ini tema Seni dan Multi-medialitas akan diwacanakan melalui kegiatan seminar dan artist talk. Dua kegiatan ini akan dihelat pada Sabtu, 11 November 2017 pukul 08.00 hingga pukul 16.00 di Auditorium lantai 5 gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada, jalan Teknika Utara Pogung Sleman Yogyakarta.

    Tema Seni dan Multi-medialitas diusung atas pembacaan perjalanan seni dalam beberapa dekade ini yang kerap melibatkan lebih dari satu medium ungkap, atau bahkan melakukan pemindahan dari media satu ke media lain pada kerja kreatifnya. Dalam praktik multi-medialitas, pemaknaan seni menjadi berkembang sesuai dengan jiwa zamannya. Hal ini disebabkan karena peluang tafsir baru yang muncul dan meluasnya ruang pemaknaan karya. Telaah serta interpretasi atas seni dan multi-medialitas akan dibicarakan secara kontekstual dalam seminar dan artist talk. Seminar akan dihadiri oleh tiga pembicara yakni Sardono W. Kusumo, Setiawan Sabana, dan Sapardi Djoko Damono. GR Lono Lastoro Simatupang akan memoderatori ulasan mengenai tarik ulur praktik kreatif dalam lanskap multi-medialitas. Seminar dilanjutkan dengan artist talk yang akan dihadiri oleh Jompet Kuswidananto, Titarubi, dan Gea OF Parikesit. Sesi yang akan dimoderatori oleh Kusen Alipahadi ini, melihat sejauh mana kerja kreatif yang telah dan akan dilakukan oleh para seniman atas praktik multi-medialitas sesuai konteksnya. Kreativitas yang dituangkan dalam praktik multi-medialitas akan tertangkap dalam sudut pandang seni.  

Kehadiran karya seni di tengah publik memunculkan berbagai tanggapan dari siapa saja yang menemuinya: kekaguman, memunculkan banyak pertanyaan, cibiran, membangkitan ingatan masa lalu, hingga renungan atas kehidupan.  Tanggapan tersebut nampak berhubungan dengan ungkapan bahwa seni memiliki cara yang halus, namun halus seperti apa yang dimaksudkan? Lantas mengapa demikian? Melalui seni, orang dapat mengungkapkan apa yang seolah tidak mungkin menjadi mungkin, yang tersembunyi menjadi tampak, yang buruk menjadi baik, yang tidak boleh menjadi boleh, bahkan yang dianggap tabu menjadi terungkap. Kreativitas menjadi hal utama untuk menuangkan gagasan ke dalam media ungkap sehingga dapat teralami secara indrawi.

    Beberapa dekade belakangan, berbagai karya seni tidak melulu menggunakan satu medium tetapi menghadirkan medium-medium lain yang cenderung bersifat multi-medialitas. Media berfungsi untuk memediasi, menjadi perantara, menjadi jembatan dari dua pihak. Fungsi ini selanjutnya diolah secara kreatif dalam huruf, warna, garis, gerak, suara, dan sebagainya. Tak hanya dalam beberapa media, pemindahan dari media satu ke media lain dan seterusnya juga menjadi peluang kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan peran mediasi.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *