Sastra (untuk) Anak: Bergembira di Taman Sastra

Posted: 26 October 2017 by Sukandar

Merayakan perjalanan usia Studio Pertunjukan Sastra (SPS) ke-17 dan Bincang-bincang Sastra (BBS) ke-12, SPS menggelar “Hari Bersastra Yogya yang ke-5” dengan mengambil satu topik pembahasan Sastra (untuk) Anak, dengan tajuk “Bergembira di Taman Sastra”. Kegiatan ini digelar dengan sederhana namun kaya makna pada hari Minggu, 29 Oktober 2017 pukul 09.00 sampai 15.00 di Ruang Seminar dan Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Dalam kegiatan ini disajikan satu “laboratorium” kecil terkait dengan dunia literasi, sastra, dan anak. Sastra adalah salah satu media dan ruang bagi kehidupan literasi. Karenanya, sastra (untuk) anak diperlukan sebagai sebuah medan ajar sekaligus upaya membangun tradisi literasi. Sastra mengajarkan bagaimana sebuah peristiwa, pengalaman, benda, dan banyak hal lain dicermati, disimak untuk digenggam sebagai sebuah makna. Dan sastra (untuk) anak, mencoba meletakkan kembali dasar-dasar literasi lewat hal-hal sederhana: tentang rambut yang terus tumbuh di kepala, cacing yang menggeliat-geliat ketika sebagian tubuhnya hilang, juga tentang rumput atau pohon yang tumbuh di halaman rumah.

Anak-anak diajak untuk kembali mendekat dan mencatat: mengapa, siapa, dan bagaimana rambut, si cacing, rumput, dan pohon itu? Bersama membuka kamus-kamus, menyerap arti denotasi/umumnya yang hari ini seperti diabaikan. Semangat itu menjadi titik tolak dari kegiatan ini. “Iqra”, membaca kembali segenap tanda, peristiwa yang terjadi baik di dalam maupun di luar diri manusia. Khususnya bagi dunia anak, mengajak mereka untuk menyerap segenap peristiwa kehidupan, mengumpulkan sebanyak-banyaknya arti denotasi sebagai bekal kelak di tumbuh, hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Orang bijak mengatakan, “sastra adalah cermin kehidupan”. Dengan demikan sastra (untuk) anak merupakan cara untuk terus-menerus mengenalkan kepada mereka sekian proses dan peristiwa kehidupan. Karena kelak, membaca pohon tidak saja membaca makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang dengan proses fotosintesa di daun-daun, namun juga mencatat semut-semut berbaris rapi di dahan dan batang, kupu-kupu terbang di atas bunga-bunga, burung-burung yang membuat sarang, juga tentang khasiat daun, akar, buah juga mungkin kulit pohonnya. Lewat pohon ternyata bisa hadir pelajaran biologi, botani, ekologi, dan banyak lainnya. Visi sederhana inilah yang kami usung dalam gelaran kegiatan “Hari Bersastra Studio Pertunjukan Sastra ke-5”. Dengan tajuk “Bergembira di Taman Sastra” segenap pelaku, pemerhati, dan tentunya anak-anak diajak untuk bergemberia dalam “kadarnya” masing-masing. Mengajak semua untuk kembali menapak pada pengalaman keseharian, peristiwa terdekat, untuk belajar tentang sastra lewat membaca kehidupan. Sebab, sekali lagi kata orang bijak, “sastra adalah cermin kehidupan”.

Bentuk kegiatan yang kemudian diwujudkan adalah rangkaian workshop/pelatihan, Sarasehan, dan Pertunjukan sastra untuk anak. Workshop menghadirkan satu pertunjukan yang dikhususkan untuk ditonton, disimak, dimatke, oleh anak-anak peserta pelatihan. Menyajikan pergelaran Wayang Kartun dengan dalang Bagong Soebardjo yang mengangkat cerita Timun Mas. Anak-anak benar-benar diberi keleluasaan untuk menyaksikan sebuah pertunjukan tanpa ‘campur tangan’ orang tua/pendamping. Dari sana, mereka diminta untuk menuliskan apa yang telah mereka temukan dalam bentuk tulisan tangan. Respon inilah yang nantinya menjadi salah satu bahan sarasehan sekaligus pengenalan potensi anak-anak terkait proses bersastra. Metode ini  mengajak si anak untuk memikirkan apa yang mereka tuliskan dari hasil melihat, ngematke.

Anak-anak yang dilibatkan dalam pelatihan “diseleksi” awal oleh para pendamping di masing-masing komunitas/sekolah/sanggar. Usia 9-13 tahun menjadi pilihan karena mereka dianggap sudah ‘selesai’ dengan kemampuan teknis membaca dan menulis. Mereka bersiap menuju proses literasi dan bersastra, yakni pembacaan secara terus menerus sehingga lahir daya pikir, kemampuan analisis, kritis, yang pada akhirnya lahir buah-buah yang  bisa bernama puisi, cerpen, esai dan bentuk karya lainnya. Tentu prosesnya sangatlah panjang dan tidak instan. Tidak bisa dalam sehari dua hari  pelatihan saja, namun sepanjang hayat.

Selanjutnya adalah Sarasehan. Forum ini menghadirkan para pihak yang punya perhatian dalam dunia sastra dan anak. Menghadirkan Iman Budhi Santosa, seorang penyair/sastrawan, Effy Widjono Putro (pengasuh rubrik “Anak” koran Kedaulatan Rakyat), Kak Acep Yonni, seorang pendongeng dan juga guru, Yona Primadesi (orang tua dari penulis cilik), serta Ade Yulia Nurdiana (penulis cerita anak). Selain itu akan ada pendampingan edukatif oleh penggiat sastra dan literasi anak. Tulisan-tulisan dari para pemantik diskusi akan diperdalam bersama para peserta. Peserta yang melibatkan komunitas dan kantong literasi anak di Yogyakarta, serta peserta umum yang berkenan terlibat dalam “urun rembug” bersama tentang sastra (untuk) anak. Lewat proses ini dicatat bagaimana pikiran, ide serta tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh para pihak untuk ditata menjadi referensi kecil tentang sastra (untuk) anak. Hasilnya akan disatukan dalam bentuk buku yang akan diusahakan penerbitannya oleh SPS.

Di akhir kegiatan akan dihadirkan beberapa pertunjukan sastra. Mendongeng oleh Kak Arif Rahmanto, drama anak disajikan oleh Komunitas Ajar Sastra Kulon Progo yang dimotori Muhammad Shodiq, dan baca puisi dari para penulis cilik seperti Abinaya Ghina Jamela, Niha Khoirunnisa, dan Mahanani Nismara Bumi. Arena ini dimaksudkan untuk memberikan tontonan, hiburan yang diperuntukkan bagi anak-anak, orang tua, komunitas. Sajian ini barangkali bisa menjadi referensi bagaimana sastra (untuk) anak dipanggungkan. Karena diperlukan respon kreatif terhadap karya-karya sastra (teks) dalam beragam bentuk sebagai bagian dari apresiasi dan publikasi. last but not least, akhir tapi bukan yang terakhir, seluruh rangkaian kegiatan ini, selain sebagai medan “Iqra” dalam pengembangan sastra untuk anak, juga sebagai sarana tegur sapa antar komunitas. Ruang bersama untuk memperkuat ‘atmosfer’ gerakan literasi anak di Yogya khususnya yang sudah ramai berkembang. Di kegiatan ini, komunitas diberikan ruang untuk mengabarkan segenap kegiatan dan kiprah mereka. Lewat stand sederhana dan ruang bersama untuk bertegur sapa, bertukar alamat dan bersahut senyum.

Demikianlah, “Bergembira di Taman Sastra” versi SPS ini didukung oleh banyak pihak: Komunitas-komunitas, Taman Budaya Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY, serta para narasumber yang telah meluangkan tenaga dan pikiran untuk berkenan manjing ajur-ajer di kegiatan yang sangat prasojo ini. Inilah salah satu cara merayakan perjalanan usia SPS. Terima kasih, semoga bermakna, jabat erat dari kami, SPS-Man yang terus belajar hadir dan mengalir, serta ready on stage, mengawal geliat sastra Yogya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *