Sastra Syawal: Kembali ke Kampung Halaman

Posted: 13 July 2017 by Redaksi Kibul

sastra syawal

Ajar Sastra Kulon Progo bekerja sama dengan Studio Pertunjukan Sastra menggelar acara Sastra Syawal #1 “Kembali ke Kampung Halaman: Peluncuran dan Diskusi Buku Kumpulan Puisi karya Latief S. Nugraha Menoreh Rumah Terpendam”. Dalam acara ini hadir sebagai pembicara ialah Iman Budhi Santosa (Sastrawan) dan Ahmad Athoillah (Sejarawan Kulon Progo). Acara ini akan dipandu oleh Muhammad Shodiq Sudarti (Penggiat Sastra Kulon Progo). Selain itu akan ada pembacaan puisi oleh Latief S. Nugraha. Acara ini akan digelar pada hari Minggu, 16 Juli 2017 pukul 10.00-13.00 bertempat di Perpustakaan Daerah Kulon Progo, Jalan Sugiman, Wates, Kulon Progo. Tema “Kembali ke Kampung Halaman” sengaja dipilih karena acara ini sekaligus menjadi ajang syawalan dan silaturahmi sastrawan dan pencinta sastra di Kulon Progo khususnya dan Daerah Istimewa Yogyakarta umumnya. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

“Latief S. Nugraha merupakan penyair asal Kulon Progo, tepatnya dari Kecamatan Samigaluh, yang telah banyak berkecimpung di arena sastra Yogyakarta. Puisi-puisinya acap kali terbit di media massa. Selain menulis puisi ia juga menulis esai dan cerpen. Ia juga dikenal sebagai penggiat sastra di Yogyakarta. Tahun 2016 lalu Latief menerbitkan buku kumpulan puisi Menoreh Rumah Terpendam. Kumpulan puisi tersebut sebagian besar isinya adalah puisi-puisi tentang suasana dan tempat-tempat di Kulon Progo. Sejauh ini belum banyak penyair di Yogyakarta yang mencoba mengolah Kulon Progo menjadi puisi. Terlebih lagi, Latief adalah penyair asli Kulon Progo. Saya kira kumpulan puisi Menoreh Rumah Terpendam menjadi penting nilainya melihat situasi kondisi Kulon Progo Saat ini yang menuju ke arah perubahan dan perkembangan,” ujar Muhammad Shodiq Sudarti, koordinator acara.

Bagi sejarah sastra Yogya dan sejarah sastra Kulon Progo, utamanya, buku karya alumnus Pascasarjana Ilmu Sastra UGM itu tentu saja penting nilainya. Dengan puisi Latief kembali menghadirkan sejarah yang telah terpendam di kedalaman masa silam. Judul buku Menoreh Rumah Terpendam karya Latief itu menurut Shodiq, merepresentasikan suatu upaya untuk menoreh rumah-rumah sejarah yang terpendam di bukit Menoreh.

“Kulon Progo berada pada posisi ambang. Sebentar lagi sebuah kota besar akan tumbuh di Kulon Progo. Sementara itu, apakah masyarakat Kulon Progo sudah disiapkan kondisi sosial budayanya untuk memasuki dunia baru itu? Agaknya itulah yang dipertanyakan oleh Latief. Sejarah Kulon Progo sebagai sebuah rumah bersama yang selama ini terpendam dan tak juga terkuak bukan tidak mungkin dengan adanya pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA), jalur Bedah Menoreh, kota satelit, dan pintu gerbang Borobudur, berkemungkinan akan memberi dampak pada tercerabutnya nilai-nilai kebudayaan dan karakter masyarakat Kulon Progo sebagai pemilik sah bumi Menoreh. Oleh karenanya kumpulan puisi tersebut hadir setidaknya dapat menjadi sebuah pintu kecil untuk memasuki sejarah yang telah terpendam itu,” ujar Shodiq.

“Acara ini semoga dapat menjadi ruang masyarakat sastra dan masyarakat umum untuk mengkaji ulang masa lalu, masa kini, dan masa depan Kulon Progo. Untuk itu kami menghadirkan sastrawan kawakan Yogyakarta, Iman Budhi Santosa dan sejarawan Kulon Progo, Ahmad Athoillah. Diharapkan akan ada titik temu antara sejarah sastra dan sejarah sejarah di Kulon Progo,” pungkas Shodiq.

 

Tertanda,

Muhammad Shodiq

Koordinator Acara

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *