Sal Murgiyanto: Ketika Cahaya Merah (Tetap) Berpijar [Bagian Pertama]

Posted: 22 February 2017 by Michael H.B. Raditya

Sal

Catatan Redaksi:

Artikel ini cukup panjang, demi kenyamanan pembaca kami membagi artikel ini menjadi dua bagian.

Ini adalah bagian yang pertama.

 

Pada tahun 1993, kalimat yang senada dengan tajuk tulisan ini menjadi judul dari sebuah buku. Buku bertajuk Ketika Cahaya Merah Memudar terbit dan cukup menyita perhatian pelbagai kalangan seni ketika itu. Jika dicermati tajuk dari buku tersebut, mungkin anda akan mengiranya sebagai sebuah buku puisi, novel, atau sejenisnya. Memang tak pelak terhindarkan, dengan tajuk buku yang puitis konotasi para pembaca lazimnya akan tertuju pada karya sastra. Namun yang cukup mengejutkan, ternyata buku tersebut berisikan tulisan akan kritik pertunjukan— khususnya tari—, dari Sal Murgiyanto (selanjutnya dipanggil Pak Sal), yang ia kumpulkan dari tulisan kritiknya di beragam media cetak (koran) kala itu.

Lantas atas dasar apa buku kritik pertunjukan justru menggunakan kalimat puitis sebagai tajuk? Apakah hanya strategi belaka untuk membumikan kritik yang lazimnya berurai kata “pedas” dan menyakitkan? Atau karena penerbitan di kala itu memang didominasi buku sastra? Mengapa pula hal tersebut perlu dirunut, terlebih sebenarnya sah-sah saja penggunaan gaya bahasa tertentu ketika menyampaikan sebuah gagasan. Namun di luar dari itu semua, salah satu alasan mengapa tajuk puitis tersebut saya runut adalah untuk memperlihatkan bahwa bahasa menjadi media yang tidak kalah penting dalam menyampaikan gagasan dan rangkaian gerak dari para seniman tari. Dalam hal ini, Pak Sal telah memberikan sebuah kultur mengurai pertunjukan dengan gaya berbahasa yang puitis serta kritik santun kepada para penampil. Alhasil para pembaca mendapatkan informasi, mengetahui kritik atas pertunjukan, dan dapat menentukan sebuah pertunjukan berkualitas atau sebaliknya.

Selain gaya penyampaian, konotasi dari tajuk Ketika Cahaya Merah Memudar pun cukup beragam. Mulai dari interpretasi pembaca yang menganggap bahwa tajuk adalah pesan reflektif atas cerminan dari kualitas tari dan kebiasaan kritik pertunjukan di kultur Indonesia, hingga alasan yang hanya merujuk salah satu tajuk dalam buku tersebut, yaitu ketika Pak Sal menceritakan kematian Ki Ageng Mangir oleh Panembahan Senopati dengan simbolisasi cahaya merah yang perlahan memudar. Entah konotasi mana yang pantas menggambarkan,  namun saya melihat  Ketika Cahaya Merah Memudar adalah sebuah sikap dari Pak Sal yang menstimulasi masyarakat akan kesadaran atas kritik pertunjukan dan itu lah yang ditanamkan Pak Sal sedari ia memilih untuk mulai menulis kritik pertunjukan.

Lantas, apakah logika yang ditanamkan Pak Sal masih subur hingga kini? Atau tidak perlu jauh-jauh, apakah nama Sal Murgiyanto masih dikenal bagi generasi milenial? Berawal dari keisengan, saya menanyakan secara acak mahasiswa tari semester awal dan muda-mudi penggiat seni1)Entah mahasiswa ataupun penggiat seni dengan tahun kelahiran 1994 hingga kini., ternyata nama Pak Sal cukup asing di telinga. Namun itu pun tidak bisa disalahkan, toh memang Pak Sal sudah tidak lagi menulis kritik pertunjukan di media koran, sehingga mereka cenderung lebih mengenal Putu Fajar Arcana dan Aryo Wisanggeni (Kompas), atau Bambang Bujono dan—yang lebih muda—Seno Joko Suyono (Tempo). Jika ada yang mengetahui Pak Sal, lazimnya mereka adalah mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah kritik tari atau mereka yang giat membaca literatur seni.

Kalau begitu, apakah benar kesadaran kritik Pak Sal yang kita ibaratkan sebagai cahaya merah telah benar-benar pudar?, atau bagaimakah cara cahaya merah itu tetap berpijar dan merona?, dan yang terpenting, apakah yang ia tanamkan kepada kita? Bertolak dari hal tersebut, maka dalam tulisan ini saya akan mencoba mengenalkan Pak Sal kepada anda. Dengan tidak mengumbar segudang prestasi yang ia miliki—jelas hal tersebut rentan dengan narsistik—, melainkan dengan merujuk pada konstelasi yang terjadi ketika itu. Alhasil kita paham mengapa sosok Sal Murgiyanto terlahir sebagai seorang yang perlu kita ketahui atas jalan kesenian yang ia yakini.

 

Mengupas Pak Sal Mencermati Konstelasi

Sejak keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No II tahun 1960 menghasilkan dua proyek pembangunan dengan salah satu isinya adalah pembangunan pada sektor pariwisata. Ketika itu menteri Djatikoesoemo selaku pimpinan Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata berupaya mengembangkan sektor pariwisata di pelbagai tempat. Dengan tur keliling luar negeri sebagai stimulasi mengemas pariwisata Indonesia kelak, terhentilah Pak Menteri di sebuah pertunjukan Ballet Royale du Camboge yang dipentaskan di Angkor Wat2)Soedarsono, R.M. 1999. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.. Pertunjukan seni di site spesific agaknya sangat berkesan bagi Pak Menteri sehingga dari pengalaman tersebut ia bercita-cita menciptakan pertunjukan serupa. Alhasil, dengan kenyataan bahwa site spesific tidaklah sulit dicari di negara ini, terpilihlah candi Prambanan untuk dieksplorasi dengan sebuah pertunjukan.

Sepulangnya dari perjalanan keliling menonton pertunjukan seni, Pak Menteri memantapkan keputusannya menciptakan pertunjukan baru dengan merekrut hingga 1200 orang teknisi serta pekerja sekaligus memercayakan proyek tersebut pada Ir. Harsojo. Dalam waktu hanya 3 bulan saja, sebuah infrastruktur pertunjukkan berukuran 50 x 12 meter dengan kapasitas penonton 2000 hingga 3000 kepala telah diselesaikan. Infrastruktur sudah terjalin, maka Pak Djatikoesoemo menyerahkan konten pertunjukan pada Pangeran Suryohamijoyo dan Dr. Soeharso, serta tim yang terdiri dari penata tari dan pelatih tari3)Soedarsono, R.M. 1999. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.. Alih-alih mempertunjukan wayang wong atau pertunjukan budaya lainnya, proyek ini memformulasikan sebuah pertunjukan baru di Indonesia ketika itu, yakni Sendratari—akronim dari seni drama dan tari. Pertunjukan itu setidaknya melibatkan sekitar 865 orang yang terdiri dari penari, penabuh, gamelan, perancang busana, dll. Layaknya cerita Rorojongrang dan 1000 candinya, dalam waktu 52 hari pentas sendratari Ramayana siap dipertunjukan4)Soedarsono, R.M. 1999. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia..

Tidak dapat ditampik bahwa di kala itu proyek tersebut sangat besar. Bayangkan saja 865 kepala yang mempunyai spesifikasi seni tradisi dilibatkan. Sebuah pengelolaan yang apik dalam mengakomodasi pekerja seni dari kota sekitar, seperti: Surakarta, Klaten, dan Yogyakarta, baik dari sanggar, kelompok pemuda, ataupun institusi pendidikan seni.

Dipertunjukkan secara bergantian, pertunjukan Sendratari Ramayana semakin terkesan variatif dengan sisipan yang dibuat per kelompok dalam mengisi struktur pertunjukan yang telah ditentukan. Dari sekian banyak penari yang terlibat, seorang penari pria berbadan mungil, berambut sebahu, dengan kepenarian cakap turut serta di dalam proyek seni tersebut. Dia adalah Sal Murgiyanto.

Pak Sal belajar menari bukan karena mega proyek, melainkan ia telah belajar menari sejak kecil. Maklum, darah seni telah mengalir dari kakeknya, R.M. Sastrotenoyo. Sedikit mengulas R.M. Sastrotenoyo, berkat beliau pengadaan busana dan gamelan slendro-pelog wayang wong Sriwedari tersedia. Tidak hanya itu, beliau juga merupakan direktur artistik masa mula Wayang Wong Sriwedari, Surakarta5)Raditya, Michael H.B. dan Anastasia Melati. 2016. Jalan Tari Pak Sal. Yogyakarta: Lintang Pustaka Utama.. Selain tari, R.M. Sastrotenoyo juga dikenal sebagai seniman batik6)Hardjoprasonto, Soemardjo. 2017. “Darah Seni Mengalir dari Kakeknya”, dalam Sal Murgiyanto: Membaca Jawa, oleh Anastasia Melati (ed.) Surakarta dan Yogyakarta: ISI Press dan Komunitas Senrepita.. Oleh karena pengalaman personal Sal kecil dengan seni telah kental, maka belajar seni bukanlah hal mengagetkan bagi Pak Sal, dan kepada tarilah Pak Sal jatuh cinta.

Alhasil ketika proyek Sendratari Ramayana dilangsungkan, Pak Sal yang tengah menekuni tari turut serta dalam mekanisme pertunjukan tersebut. Kendati berbadan mungil, karir Pak Sal di sendratari Prambanan dapat dibilang menanjak, dimulai dengan memerankan tokoh-tokoh sederhana seperti bala tentara kera dengan honor sebutil telur, hingga dipromosikan menjadi penari utama, seperti: Hanggodo, Hanilo, dan Hanuman dengan honor hingga Rp.150,-7)Walujo, Djoko. 2016. “Pekerja Seni yang Gigih, Peka, dan Penari Sala ‘Betulan’”, pada Sal Murgiyanto: Hidup untuk Tari oleh Michael HB Raditya (ed.). Surakarta dan Yogyakarta: ISI Press dan Senrepita. . Pak Sal pun menyadari keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan dirinya mendapat peran penting seperti Rama atau Rahwana, namun dari sinilah ia belajar satu hal, yakni untuk sadar akan keterbatasan dan mengubahnya menjadi keistimewaan. Ketekunannya berbuah penjiwaan yang mendalam ketika ia memerankan figur Hanggodo atau Hanuman.

Menanjaknya karir Sal muda ketika itu ditandai dengan kesempatan pergi melawat ke India untuk misi kesenian. Sal muda yang menari cakap ketika itu ditanya oleh seorang penggiat seni di India, namun karena keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris serta pengetahuan yang belum mendalam akan tari, Sal muda tidak bisa menjawab dengan baik dan sontak pengalaman tersebut membuat sesal dalam dirinya. Dari momen itulah ia berjanji untuk mempelajari bahasa dan memperdalam pengetahuan tari dari literatur akademis. Keseriusannya berbuntut pada pilihan untuk mengambil jurusan tari di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada tahun 1968. Di ASTI, Sal mematangkan tubuh kepenarian serta pemahaman literatur tari dengan sungguh-sungguh.

Tidak hanya membaca, Sal muda juga turut aktif mendatangi pelbagai seminar terkait seni dan budaya. Salah satu seminar yang berkesan bagi Pak Sal adalah seminar yang dihelat di Surakarta tahun 1972 yang mendatangkan Umar Kayam dan Soedjatmoko sebagai pembicara. Sal muda pun terperangah melihat kecerdasan dua pemikir budaya tersebut, dan semenjak itu dua sosok tadi menjadi inspirasinya untuk belajar lebih giat pada ranah akademis. Sal pun menjadi dikenal kerap membaca buku, sebuah aktivitas yang cukup jarang dilirik oleh para penari ketika itu. Alhasil Sal muda yang ketika itu belum lulus sudah menjadi asisten mata kuliah Literatur Tari8)Widaryanto, FX. 2016. “Pernak Pernik bersama Mas Sal Murgiyanto”, pada Sal Murgiyanto: Hidup untuk Tari oleh Michael HB Raditya (ed.). Surakarta dan Yogyakarta: ISI Press dan Senrepita.. Di tahun 1975, Pak Sal lulus dari ASTI. Ya memang cukup lama, namun durasi perkuliahan yang memakan waktu ini ternyata dikarenakan dua pencapaiannya di ASTI: pertama, gelar B.A. (setingkat sarjana) yang ia dapatkan pada tahun 1970; dan kedua, gelar S.ST (Seniman Seni Tari) yang ketika itu memakan waktu lima tahun.

Di tahun kelulusannya, Pak Sal mendapat kesempatan untuk menjadi dosen dari tiga institusi berbeda, yakni ajakan R.M. Soedarsono di ISI Yogyakarta, Gendon Humardani di ISI Surakarta, dan Sardono W. Kusumo dkk di LPKJ (kini IKJ). Pak Sal pun cukup bingung memilih salah satu dari tiga tawaran hebat tersebut, namun Pak Sal akhirnya memilih tempat yang dapat memberikan kesempatan sekolah strata dua. Melalui bantuan Bu Edi Sedyawati dalam mencari beasiswa, Sal muda diberangkatkan untuk melanjutkan studi master di University of Colorado. Hanya memakan waktu satu tahun, dengan beberapa hal yang patut dibayar seperti: summer harus tetap berkuliah, dsbnya, Pak Sal jalani.

 

Artikel ini berlanjut ke bagian kedua.

Silakan menuju ke Sal Murgiyanto:  Ketika Cahaya Merah (Tetap) Berpijar [Bagian Kedua]

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

References   [ + ]

1. Entah mahasiswa ataupun penggiat seni dengan tahun kelahiran 1994 hingga kini.
2, 3, 4. Soedarsono, R.M. 1999. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
5. Raditya, Michael H.B. dan Anastasia Melati. 2016. Jalan Tari Pak Sal. Yogyakarta: Lintang Pustaka Utama.
6. Hardjoprasonto, Soemardjo. 2017. “Darah Seni Mengalir dari Kakeknya”, dalam Sal Murgiyanto: Membaca Jawa, oleh Anastasia Melati (ed.) Surakarta dan Yogyakarta: ISI Press dan Komunitas Senrepita.
7. Walujo, Djoko. 2016. “Pekerja Seni yang Gigih, Peka, dan Penari Sala ‘Betulan’”, pada Sal Murgiyanto: Hidup untuk Tari oleh Michael HB Raditya (ed.). Surakarta dan Yogyakarta: ISI Press dan Senrepita.
8. Widaryanto, FX. 2016. “Pernak Pernik bersama Mas Sal Murgiyanto”, pada Sal Murgiyanto: Hidup untuk Tari oleh Michael HB Raditya (ed.). Surakarta dan Yogyakarta: ISI Press dan Senrepita.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *