[Ruang Ngibul #1] Didi Kempot: Saya Bukan Musisi Campursari

Posted: 9 June 2017 by Bagus Panuntun

Tak sampai satu menit saya menjawab “Ayo bung!”, ketika Amin, founder HookSpace tiba-tiba mengajak Kibul berkolaborasi membuat sebuah –dalam istilah si Amin—talk show asik-asikan yang menyajikan obrolan-obrolan baik ringan maupun berbobot bersama tokoh-tokoh seni, sastra, dan budaya.

Dengan kelincahan seorang mahasiswa kere yang dulunya hobi ngevent, kami pun segera memikirkan konsep talk show seperti apa yang nantinya hendak kami buat. Sampai tercetuslah sebuah nama: Ruang Ngibul. “Ruang” diambil dari kata space dalam HookSpace, sedang “Ngibul” diambil dari kata “Kibul” (sebenernya nggak perlu dijelasin juga udah pada ngerti sih).

Ruang Ngibul sedianya mempunyai konsep yang benar-benar mulia: mengembalikan titah dan fungsi kamar kos. Ha ha. Maksudnya begini, kau tahu, kini kamar kos lebih identik dengan sebuah ruang yang eksklusif. Kau kuliah dan pergi ke Jogja, lalu tinggal di sebuah ruangan ber-AC yang nampaknya mewah dengan kamar mandi dalam yang baunya wangi. Namun di satu sisi, untuk masuk ke dalamnya kau diatur sedemikian rupa sehingga kau musti menembus gerbang sebelum angka menunjuk 10 malam. Belum lagi kau harus melapor pada sang induk semang siapa saja teman yang hari ini akan menginjak lantai keramik kamarmu. Bukankah itu menyedihkan?

Maka di sinilah Ruang Ngibul hadir sebagai sebuah ruang di mana hampir tak mungkin kita masuk ke dalamnya hanya untuk tidur. Dan alih-alih segera ngorok lalu pergi ke dunia mimpi, kita akan terus berceracau tentang segala hal, dari mulai yang penting sampai yang sama sekali tidak penting, dari hal-hal yang sungguh penuh makna sampai yang nyaris nirmakna, dan dengan ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok, maka kita akan melewatkan menit demi menit dengan satu kegiatan: ngibul.

Sayangnya kami tak bisa menyajikan konsep yang direncanakan tersebut pada episode awal. Tentu saja ini menyedihkan, sebab konsep yang sedari awalnya kami anggap cukup keren, ternyata belum bisa terlaksana. Namun di satu sisi, menyenangkan berhasil mendapat kesempatan untuk mewawancarai seorang legenda seperti Didi Kempot. Maka kami pun memutuskan bahwa di episode awal ini, Ruang Ngibul dilakukan di dalam ruang dan waktu yang tak senggang, di restoran sebuah hotel mewah, di waktu yang sempit sebelum Didi Kempot harus segera menuju panggung.

Kami bersapa dengan musisi tembang Jawa ini pada pukul 6 petang. Setengah jam setelah kedatangannya, dan satu jam sebelum ia berangkat ke Panggung Kemepyar Etnika Fest FIB UGM 2017. Di sela waktu yang sempit itu, kami sangat beruntung masih bisa menemui Mas Didi yang ternyata berkenan untuk ngobrol dengan kami hingga tak terasa lebih dari 30 menit kami lewatkan untuk berceracau tentang segala hal, terutama terkait karier Mas Didi yang lebih dikenal sebagai musisi campursari. Dan yang paling spesial, di episode pertama ini, kami berhasil menemukan jawaban dari pertanyaan “Mas Didi ini sebenarnya musisi campursari bukan sih?”

 

Jadi musisi sejak tahun berapa sih, Mas?

Saya mulai jadi musisi jalanan tahun 1984 di Solo, Malioboro, Jakarta. Saya anggap saat  itu saya sudah jadi musisi meskipun saya belum kenal rekaman. Saya ngamen sambil nulis lagu dan Tuhan memberi kesempatan rekaman saya tahun 1989. Jadi saya lima tahun ngamen bawa lagu-lagu sendiri.

Jadi lagu “Cidro” mulai dinyanyikan sejak masih ngamen?

Iya, saya karang-karang sendiri, tak nyanyikan sendiri, dapat uang, saya bangga.

Kalau lagu pertama yang langsung nge-hits di kalangan masyarakat luas apa, Mas? Kok bisa jadi nge-hits?

“Cidro” sama “Modal Dengkul”. “Kamu datang modal dengkul sama kumismu saja”. Kalau lagu Modal Dengkul itu bukan saya yang bikin, tapi temen saya, temen ngamen. Dan lirik lagu tersebut memang pas untuk orang perantauan seperti kita yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Kan kita datang cuma modal dengkul sama kumis. Dan kebetulan waktu itu saya punya kumis. Dan lagu itu kita nyanyikan tahun 1989 dan Alhamdulillah lumayan laku juga. Terus saya membuat album di tahun itu juga lalu lagu “Cidro” terkenal.

Siapa yang memproduseri?

Musica Studio.

Kok bisa dari ngamen langsung ada yang nawarin rekaman?

Kami yang menawarkan karya lagu dulu dong. Kalau zaman itu kan menawarkan lagu pasti direkam di kaset atau tape, ternyata produser tertarik. Dia bilang “Yang ngasih contoh lagu kok bagus-bagus, siapa nih?”. “Ya, saya sendiri”, jawab saya. Rekamannya dulu nggak masuk studio. Pinjem tape tetangga sebelah, terus nyanyi aja, dan direkam. Dan itu pun sebenarnya berkali-kali ditolak juga. Jadi nggak mulus-mulus juga.

Oh ya, hari ini kan tampil di Etnika Fest nih, Mas Didi sering nggak sih tampil di acara kampus?

Kayaknya UGM yang kedua kalinya ini. Dulu namanya masih (Fakultas) Sastra, itu pas top-top-nya lagu “Sewu Kutho”.

Lho, berarti dulu di FIB juga? Hehe..

Iya, tapi dulu namanya masih (Fakultas) Sastra. Ha ha.

Tema Etnika Fest tahun ini kan Zaman Edan, bagaimana pandangan Mas Didi mendengar istilah “Zaman Edan”?

Wah kalau soal “Edan”, bingung juga ya. Tapi semua tergantung dari mana kita melihat. Nggak usah tarik ke politik ya, kita ngomongin budaya aja. Kalau budaya, untuk ukuran seni di Indonesia tuh edan-edanan. Misalnya lagu-lagu Korea di sini “tembus”. Tetapi ternyata itu cuma sekilas saja. sebagai seniman Indonesia saya sangat bangga, karena ternyata kita bisa lebih ngedan lagi dengan melihat munculnya grup-grup band atau penyanyi-penyanyi lagu Jawa yang dibuat seperti anak-anak NDX itu, saya kira itu edan. Edan yang positif !

Tapi lagu berbahasa Jawa nampaknya tidak lagi se-nge-hits di awal tahun 2000-an.

Kalau kita sebagai pelaku seni malah melihat lagu-lagu kita yang lagu-lagu tradisional saat ini masih sangat produktif dan produser-produser masih merekam lagu kita semua. Walaupun banyak toko musik menyatakan bangkrut atau collapse, tapi ternyata lagu tradisional masih terus berkembang. Walau dijual di lapak atau di manapun, ternyata dijual di mana pun bisa.

Mungkin karena lagu-lagu Jawa sudah punya pangsa pasarnya sendiri ya, Mas? Orang-orang “pinggiran” atau orang-orang desa misalnya kan nggak bisa lepas tuh dari lagu Jawa.

Setiap genre musik pasti ada pangsa pasarnya masing-masing. Mau jazz, rock, atau apa pun pasti ada konsumennya sendiri. Kebetulan untuk lagu tradisional, kita juga sudah ada penikmatnya. Makanya saya bilang, produser tidak pernah stop untuk memproduksi karya-karya tradisional.

Kembali ke “Zaman Edan” ya, Mas. Menurut Mas Didi fenomena apa yang paling edan di ranah seni atau budaya?

Kalau saya bilang apa yang saya jalani di dunia seni musik tradisional ya melihat lagu Jawa yang biasanya pakai pakem seperti ini-itu, dengan banyak ukuran yang dibuat jelas, tapi sekarang ada anak muda yang berani bikin hiphop Jawa, itu edan. Ada NDX Aka. Terus misalnya Endank Soekamti tanya saya “lagune Parang Tritis digawe ngene yo, Mas?”, dibikin punk, ya nggak papa. Jadi sasarannya malah anak muda. Dan kena juga ternyata. Jadi siapa pun bisa menikmati lagu tradisional, mau di bawah pohon bambu, di pelosok desa, mau di hotel berbintang.

Positif sekali ya edannya.

Ya begitu. Edannya seniman ya positif.

Kalau soal politik, ada keedanan “demo-demo ber-angka”, mulai dari 212, 313, dan seterusnya. Edan nggak?

Saya ndak berani ngomentari. Tapi kayaknya kalau kita melihat di stasiun televisi, TV-nya yang malah edan. Kalau ada begitu malah ditayangin terus menerus dari menit ke menit. Coba kalau nggak ditayangin terus, kan akhirnya nggak semua orang mudeng yang begituan.

Kembali ke lagu, lagu apa yang paling Mas Didi sukai dari sekian banyak lagu Mas Didi?

“Sewu Kutho”. Ini lagu yang membuat mimpi saya berhasil. Saya punya mimpi pejabat itu mau nyanyi lagu daerah, ternyata lagu saya yang “Sewu Kutho”, ada jenderal, ada gubernur ikut menyanyikan. Dan orang buta huruf yo nyanyi lagu kuwi. Pada akhirnya itu jadi kebanggan bagi saya.

Ada lagu lainnya?

Ya tentunya “Stasiun Balapan”. Waktu saya menulis itu kan dulu zaman Reformasi, saya menemukan tulisan itu “Jare lunga mung sedhela, malah tanpa ngirim warta”, “pergi sebentar malah ndak ada kabar”. Saya buat lagu. Saya suka.

Lagu-lagunya Mas Didi kan banyak mengangkat romantisme ruang, ada Parang Tritis, Stasiun Balapan, Tanjung Mas, Pantai Klayar, itu kenapa sih, Mas?

Kayaknya semacam kalau kita buat lagu gitu, kita sudah menang promosi duluan. Misal (ketika) tahu lagu Parang Tritis, kan orang bilang “Oooo… Parang Tritis to”, ya tinggal dibikin cerita aja lah di sana lagi apa.

Kalau saya perhatikan, lagu-lagunya Mas Didi yang dulu, terutama yang awal-awal 2000-an kan cenderung lebih sendu. “Tanjung Mas Ninggal Janji” misalnya, kan lagunya dari awal sampai akhir kan sendu terus. Tapi untuk lagu-lagu yang sekarang cenderung diawali kesenduan lalu disambung dengan irama koplo yang lebih ceria. Kenapa sih, Mas?

Ha ha, masih mellow terus sebenarnya: dicidrani, ditinggal mbojo, pacar tidak setia.

Itu soal pasar ya. Kadang ada pesenan produser juga karena dia yang berbisnis. Tapi dia tanya dulu sama saya, “boleh gini ndak?”, “oke ndak masalah”.

Tapi ada keinginan bikin lagu yang full sendu lagi nggak?

Nah lagu saya yang sekarang yang lagi banyak disukai anak muda, “Suket Teki”, itu kan mellow banget. Wis tak ngalah wae tapi malah damai. Itu cengeng-cengengnya malah kayak zaman Rinto Harahap.

Tapi kenapa kok galau-galau banget Mas, apakah karena pasar? Karena banyak anak galau misalnya?

Karena waktu saya mengeluarkan itu langsung direspons bagus. Selama pasar menerima ya halal-halal aja untuk meneruskan. Tapi saya juga nyelingi lagu jenaka juga, “Cilikanku rambutku dicukur kuncung”, “Cintaku sekonyong-konyong koder”. Jadi ada lagu jenaka juga. Boleh dibilang mellow-nya 75 persen, lagu jugjug-nya 25 persen.

Dari lagu-lagu itu yang paling “zaman edan” apa? Menurut saya sih “Tuyul Amburadul” dengan lirik: “Siki ana goda wanita lan banda, do elingo yen mati ora digawa”.

Ha ha. “Tuyul Amburadul” ya. Terlalu banyak lagu, kakehan lagu malah lali. Sekarang balik galau-galau lagi e.

Dalam lagu “Cintaku Sekonyong-konyong Koder” ada lirik “Cintaku Sekonyong-konyong koder, karo kowe cah ayu sing bakul lemper. Lempermu pancen super, resik tur anti laler. Yen ra pethuk sedina ning sirah nggliyer”. Nah, waktu saya kecil, ibu saya mengatakan kalau “lemper” dalam lagu itu sebenarnya metafor dari narkoba. “Resik. Anti laler. Sedina ra pethuk, sirah nggliyer”. Itu kan narkoba banget. Bener nggak sih, Mas?

Ha ha, itu lagu ceritanya antara penjual dagangan dengan anak-anak pengamen jalanan aja. Lagu guyon aja. Lagu itu kadang diarti-artikan, padahal empunya kan kadang tidak ke sana. Tapi ya boleh-boleh saja orang mengartikan. Ha ha ha, kalau seorang ibu mencontohkan lagu dan bilang “Mas Didi nulis lagu iki, supaya kowe aja nyedhaki iki”, nah kan boleh juga. Lagu Jawa itu dari dulu memang penuh nasihat dan filosofinya tinggi. Seperti “Tak lela ledhung” yang digunakan untuk meninabobokan anak, “aja pijer nangis, ning njaba ana butha”. Itu kan kaya filosofis. Lagu saya yang “Aku pancen wong cilik ora kaya raja, bisa mangan wae aku wis nrima”, itu kan filosofi bahwa  kita orang Jawa dididik prihatin dari kecil. Orang Jawa kan gitu, mereka bilang “wis to urip ki sing semeleh”. Ya, tentang kesederhanaan masyarakat Jawa.

Tapi ya semoga untuk ke depannya negara ini  jangan “bisa mangan wae uwis nerima”, semoga ya lebih sejahtera lah, ha ha.

Kebetulan pada tahun 2014 saya pernah melakukan penelitian tentang musik campursari di Desa Playen, desa kelahiran Manthous. Nah ada sedikit kontroversi nih. Ha ha. Wah, gimana ya dibilang “kontroversi”.

Oh boleh, boleh, boleh. Lanjutkan saja.

Mas Didi kan berkibar di bawah nama campursari. Akan tetapi, dari versi yang saya pelajari, genre campursari ini memiliki pakem, yaitu ada perpaduan antara nada pentatonik dengan diatonik, antara tradisional dengan modern, antara gamelan dengan alat band. Nah, sedangkan kalau saya perhatikan, lagu-lagu Mas Didi hampir nggak pernah ada unsur gamelan. Nah Mas Didi sebenarnya musisi apa sih?

Saya bukan musisi campursari. Saya musisi Congdut, alias keroncong dangdut. Kalau orang nyebut Didi Kempot musisi campursari, saya sendiri tidak pernah bicara campursari. Saya pasti bilang keroncong dangdut. Kalau produser, karena nama campursari memang sudah booming nasional, jadi album saya dinamakan campursari. Kalau kita ya bilangnya keroncong dangdut, ada kendang, ada ukulele, itu sudah pasti. Congdut.

Jadi ndak pernah klaim ya mas?

Ndak. Lha kalau saya bilang congdut, malah banyak yang bilang “Wah, Mas Didi malah menemukan genre baru nih?” ha ha. Di acara Bukan Empat Mata-nya Mas Thukul, saya juga pernah ketemu dengan adiknya Mas Manthous, dan kita bicara soal itu.

Kalau musik Jawa kan banyak Mas, ada langgam, klenengan, pangkur jenggleng, di Jogja ada Mbah Basiyo, terus Macapat, kalau dikasih merek masing-masing kan lebih bagus, nah musik Jawa memang kaya sekali.

Pendapat Mas Didi tentang Manthous, Sony Joss, dan NDX AKA?

Kalau Sony Joss itu musisi keroncong dangdut yang banyak terpengaruh budaya timur. Genrenya mirip lagu saya? Iya.

Kalau NDX ya seperti tadi saya bilang, anak muda yang luar biasa.

Kalau Mas Manthous, yang jelas dia sudah dinobatkan sebagai Bapak Campursari dan yang mengibarkan bendera campursari. Tapi Mas Manthous menyanyikan lagu di luar campursari juga lho, seperti “Duh Aduh Jamilah” dan itu juga luar biasa sekali. Dia seniman multitalenta. Jadi apa pun bisa. Selain dia menemukan ramuan perpaduan gamelan dan keyboard itu, dia juga termasuk komposer lagu-lagu genre lain.

Mas Didi banyak meng-cover lagu-lagu musisi lain, seperti “Ada Apa Denganmu” dari Peterpan, lagunya Deddy Dores, bahkan meng-cover lagu Tarling Sunda dalam tembang “Jambu Alas”. Apakah ini bagus untuk perkembangan karier Mas Didi?

Bagus sekali. Empunya lagu juga mempercayakan lagunya dinyanyikan saya. Itu sebuah kebanggaan luar biasa. Lha ada Peterpan kok percaya sama Didi Kempot? Dulu kebetulan produsernya sama dengan dia, Musica Studio.

Saya bukan orang idealis, saya berdiri sebagai seniman, sebagai penyanyi, dan semua akan saya lakukan selama saya mampu menyanyi. Waktu saya ke Suriname, saya juga belajar nyanyi lagu Suriname.

Adakah musisi yang menginspirasi Mas Didi?

Kalau yang saya kagumi, ada. Ya seperti Mus Mulyadi, dia menyanyikan lagu keroncong dan bisa “kena”. Saat itu beliau bersaing dengan grup musik manapun seperti The Mercys, dan lain-lain, tapi dia tetap bisa tembus nasional dengan berkeroncong.

Kalau yang berkarakter ya Broery Pesolima, dia setiap membawakan lirik lagu itu nyampai betul ke orang yang mendengarkan.

Lagunya Mas Didi juga langsung nyampe di hati, dess…

Ya mungkin karena dari belajar itu. Ya karena saya memperhatikan, emosinya gimana, bahwa menulis bukan soal mangap saja.

Rencana terdekat apa nih? Ada proyek lagu baru?

Menjelang lebaran nanti ada dua album. Saya membuat lagu judulnya “Aku Ra Dolan”. Hidup itu ndak main-main. Aku sekolah, yo ora dolan. Aku diharapkan betul-betul sama orangtua. Kalian sendiri datang ke kampus, jauh-jauh ke Jogja, kan bukan untuk plesiran. Maka saya bilang, “Aku ora dolan”. Saya sendiri kalau keluar rumah dalam hati bicara “Aku ora dolan. Aku golek duwit”. Liriknya “Lungaku ora dolan, rekasa golek pangan”. Apa pun profesinya itu sebetulnya berat, kalau mau enteng-entengan ya nggak mungkin. Saya pun sering bilang ke anak saya “Bapak lunga-lunga ki ora dolan, Le”. Makanya saya bikin lagu itu. Bahwa kita hidup itu tidak main-main.

Cari duit penting, tapi ikut passion tetap penting ya, Mas?

Oh sangat penting. Nyanyi Jawa, kaose cah enom. Ha ha ha (menunjuk ke kaos Jim Morisson warna hitam yang tengah dikenakannya).

Mas Didi itu self-branding-nya kan rambut gondrong. Kalau misal Mas Didi potong rambut, model apa sih yang Mas Didi pingin?

Sementara belum. Belum ada kepinginan. Sampai mbrodol pun tak openi. Ha ha.

Wah nek rambute ilang, suarane ilang, Mas?

Ha ha ha, memangnya aku Samson?

Kenapa Didi Kempot, bukan Didi Tembem?

Kempot itu punya latar belakang historisnya ya. Kempot itu Kelompok Pengamen Trotoar ya.

Owalaaah…

Ya itu kenangan di Jakarta waktu kami hidup di Bunderan Slipi, Palmerah. Anak-anak Kempot kan sampai sekarang masih ikut saya. Jadi saya membuat lagu, bisa laku, bisa diundang kemana-mana, saya syukuri, dan saya tidak pernah melupakan teman-teman saya. Dan Didi ndak punya manajemen, kalau ada yang kasih job yo kuwi manajerku. Ha ha ha.

Wah berarti kalau telepon ke manajemen, jangan-jangan Mas Didi sendiri yang angkat?

Seringnya gitu. Ha ha. Kan yang penting aku nyaman seperti ini. Pingin ke pasar, pingin iwak pithik ya tuku dewe.

Mas Didi suka baca buku nggak? Buku kesukaan Mas Didi apa?

Sementara belum, entah nanti setelah kenal Kibul. Ha ha.

Pertanyaan terakhir, masih pingin nangis nggak kalau ke Parang Tritis?

Ha ha, sekarang nggak-lah. Tapi saya bangga, Parang Tritis pernah membuat saya jadi lebih terkenal lagi. Dan digandrungi anak-anak muda, termasuk di-cover Endank Soekamti.

Nangis-nya nangis bahagia ya Mas sekarang?

Iya, nangis bahagia. Karo nek klilipen. Ha ha ha ha…

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *