Talkshow English Day 2017: Mitos dalam Film, Buat Apa?

Posted: 19 October 2017 by Redaksi Kibul

film

Film adalah media yang populer semenjak kehadirannya di akhir abad ke 19. Kehadiran film yang menyajikan gambar bergerak menambah keragaman media yang digunakan manusia sebagai alat penyampai informasi. Kepopuleran film menjadi salah satu alasan teman-teman Panitia English Day 2017 untuk mengadakan Talkshow pada tanggal 13 Oktober 2017 di Auditorium FIB UGM bertajuk: Each Movie Has Its Own Beauty. Landung Simatupang hadir sebagai pembicara bersama Prof.Dr. Ida Rochani Adi, S.U. Diskusi menarik ini dipandu oleh Ari Bagus Panuntun, alumni Sastra Prancis UGM, sekaligus Redaktur Kibul.in.

Diskusi diawali dengan pembahasan mengenai “beauty” yang menjadi fokus dalam tajuk diskusi. Seperti apa konsepsi beauty? Kedua pembicara sama-sama mengamini bahwa beauty terkadang hanya dinilai secara fisikal saja. Apa yang memberikan pleasure dan enjoyment secara visual itulah beauty. Padahal beauty sendiri tidak hanya perkara visual, tapi melibatkan rasa dan logika. Ida menambahkan bahwa banyak film yang mengajak penontonnya berpikir dan mendapatkan apresiasi yang baik dari penontonnya. Hal tersebut terjadi karena film itu mampu memberikan pleasure dan enjoyment yang melibatkan logika. Ada pula film komedi yang menggelitik rasa humor penontonnya, juga film drama membuat haru dan melibatkan emosi penontonnya. Unsur-unsur yang menggelitik atau dramatis tersebut, seringkali akan menghadirkan pleasure dan enjoyment yang melibatkan emosi penontonnya. Landung juga menambahkan bahwa beauty sendiri adalah sebuah idea yang definisinya masih terus dirombak dan mengalami dialektika. Konsep beauty dalam film  tentu saja tidak bisa dilepaskan dari unsur visual. Hal ini karena unsur visual dalam film menjadi ujung tombak kekuatan komunikasi yang bersifat universal, sehingga relasi komunikasi film tidak hanya mempengaruhi penonton secara individual namun juga mampu mempengaruhi masyarakat secara luas.

Setelah membahas konsepsi beauty, kedua pembicara kemudian diarahkan moderator untuk membahas perkara mitos. Secara luas mitos adalah cerita yang diturunkan dan direproduksi berulang-ulang. Cerita-cerita yang terus direproduksi ini sebenarnya belum tentu bisa dibuktikan secara empiris, namun cerita tersebut tetap disampaikan karena membawa nilai tertentu. Mitos yang diulang-ulang sepanjang generasi ini perlahan bahkan menjadi bahasa dalam masyarakat. Film berhubungan erat dengan mitos karena film juga digunakan manusia untuk menyampaikan kisah dan informasi. Ida mengatakan bahwa mitos, baik yang sengaja diciptakan atau yang terbentuk secara arkais tertanam sebagai cultural mindset. Cultural mindset inilah yang berpengaruh dalam produksi film, karena bagaimanapun hasil ciptaan tidak bisa terlepas dari pengaruh penciptanya.

Film yang dijadikan contoh pembahasan adalah film Sang Penari (Ifa Isfansyah, 2011) yang pernah dibintangi oleh Landung Simatupang dan serial fantasi Game of Thrones (David Benioff & D. B. Weiss, 2011- ) yang sedang populer. Kebetulan dua film tersebut mengalami alih wahana dari buku menjadi film. Game of Thrones (GoT) diadaptasi dari seri A Song of Ice and Fire karya George RR Martin sedangkan Sang Penari diilhami dari Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Landung menegaskan bahwa Sang Penari bukan diadaptasi namun hanya diilhami karena sang sutradara lebih banyak berfokus pada kisah percintaan Srinthil dan Rasus yang berada pada waktu yang salah.

Hal menarik dari pembahasan kedua film tersebut, Landung mengakui belum pernah menonton GoT karena memang tidak pernah menonton televisi secara intensif. Hanya saja kepopuleran serial fantasi yang ditayangkan di HBO ini sampai ke telinganya dan secara visual juga menarik perhatian sehingga memantik rasa penasaran dan membuatnya mencari tahu melalui mesin pencari. Dari hasil pencarian tersebutlah, Landung mengaku mengagumi kepiawaian George RR Martin yang mampu meramu berbagai mitos yang ada di seluruh dunia menjadi satu cerita orisinal yang luar biasa. Dia menyebutkan banyak mitos dari berbagai belahan dunia yang dijadikan satu dalam GoT. Selain inspirasi yang datang dari peristiwa Wars of the Roses dan novel Prancis Les Rois Maudit (The Accursed King karya Maurice Druon), GoT juga mengandung mitos dari saga Islandia, Mongolia, mitos Eropa tentang Naga dan lain sebagainya, yang kemudian diramu menjadi satu cerita yang utuh.

Ida selanjutnya menyebutkan banyaknya mitos yang sudah dikenal dan sudah menjadi cultural mindset adalah salah satu faktor yang membuat serial ini melejit popularitasnya. Apalagi, George RR Martin ini piawai dalam memainkan perkembangan karakter dalam GoT. Tidak ada tokoh yang benar-benar hitam ataupun putih dalam kisahnya. Bahkan ia berani untuk mematikan tokoh yang sudah kadung dicintai oleh penggemar serialnya. Terkait dengan hal ini, Ida menambahkan bahwa dalam serial GoT ada dekonstruksi Mitologi Yunani. Sebagaimana kita tahu, karakter-karakter dalam mitologi Yunani jelas terlihat yang hitam dan putih, atau menonjolkan dikotomi tokoh antagonis dan protagonis. Akan tetapi, GoT justru merombak hal tersebut. Namun di saat bersamaan, GoT juga mempertahankan stereotyping dari cultural mindset yang sudah terbentuk di benak penontonnya. Sebagai contoh, ia menyebutkan ada unsur stereotyping di rambut putih anggota House of Targaryen atau rambut merah Lady Melisandre, The Red Woman. Jika putih telah dikenal sebagai signifiant dari hal-hal yang kuno  (sebagaimana Klan Targaryen yang telah berdiri selama tiga abad), maka merah adalah signifiant dari ilmu sihir atau kaum-kaum penyihir. Stereotyping yang dibentuk oleh mitos tersebut digunakan sebagai media untuk reconciling kreator sekaligus menghadirkan pleasure bagi penontonnya.

Lebih jauh, Ida sedikit menjelaskan mengenai pleasure dalam konsep Lacanian. Jacques Lacan membedakan antara plaisir (pleasure) dan jouissance (enjoyment). Lacan menganggap jouissance itu tidak hanya dicapai melalui plaisir. Sebagai contoh ia mengungkit tentang kreator GoT yang berani mematikan karakter yang digemari oleh penonton. Menurutnya pematian karakter tersebut adalah displeasure, tapi justru dari displeasure itulah enjoyment tercapai. 

Sementara dalam Sang Penari, mitos yang diangkat adalah mitos mengenai ronggeng. Landung menjelaskan bahwa mitos ronggeng secara sederhana hanyalah mitos bahwa kesuburan bumi dipersonifikasikan dalam tubuh perempuan. Ronggeng menurutnya bukan semata-mata penari pelacur yang gampang untuk dikeloni tapi proses dikeloni itu menjadi sarana untuk memohon kesuburan. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa proses alih wahana dari Ronggeng Dukuh Paruk ke Sang Penari tentu saja mereduksi mitos yang dibawa. Penonton Sang Penari belum tentu memahami mitos ronggeng secara utuh tanpa membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Tapi biarpun seperti itu, ia menjelaskan bahwa buku dan film adalah dua hal yang berbeda. Maka keduanya harus diperlakukan dengan cara berbeda sehingga tidak harus dibandingkan satu sama lain.

Produk-produk media populer menggunakan mitos sebagai salah satu cara memberikan enjoyment pada konsumennya. Film-film selalu menyelipkan mitos baik dalam bahasa sinematik maupun bahasa naratif yang dikandungnya. Ida menyebutkan bahwa mitos itu sifatnya universal karena ada kesamaan nilai dalam memandang kehidupan. Mitos tentang baik dan buruk selalu dapat diterima oleh semua orang. Yang terikat waktu dan tempat hanyalah selera masyarakat. Belum tentu film yang disukai masyarakat saat ini akan disukai masyarakat di masa lalu atau di masa depan. Belum tentu film yang disukai di satu negara juga disukai di negara lain. Munculnya film remake, reborn, reboot adalah salah satu cara menyesuaikan narasi yang ada ke selera yang baru. Di dalam narasi tersebut tentu ada mitos yang dikandung dan dikomunikasikan kepada khalayak, sehingga mitos tersebut akan bertahan di benak masyarakat. Bagaimanapun, film adalah salah satu cara manusia untuk mengekalkan apa yang sudah dilakukan manusia sejak beribu-ribu tahun, yakni menyampaikan kisah

 

PS.

Landung Simatupang, lahir di Yogyakarta, 25 November 1951 merupakan seorang aktor film dan teater serta sutradara teater. Beberapa film yang pernah dibintanginya adalah Sang Pemimpi (2009), Soegija (2011), Sang Penari (2011), Pendekar Tongkat Emas (2014)

Prof.Dr. Ida Rochani Adi, S.U. Pakar di bidang ilmu sastra dan pengkajian Amerika sekaligus guru besar Universitas Gadjah Mada. Pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM periode 2008-2012

 

*Teks oleh Andreas Nova

*Foto adalah dokumentasi Panitia English Day 2017

*Kibul.in adalah Media Partner dari rangkaian acara English Day 2017

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *