Memperpendek Jarak, Mempersempit Ruang: Catatan atas Diskusi Bahasa dan Sastra di Era Multimedia

Posted: 18 October 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Sebuah diskusi bertajuk Bahasa dan Sastra di Era Multimedia baru saja di gelar di Balai Bahasa Yogyakarta pada 13 Oktober 2017. Diskusi ini mendatangkan dua pakar di bidang bahasa dan sastra yakni Prof.Dr. Faruk dan Prof.Dr. Suminto A. Sayuti. Agaknya diskusi yang semula dirancang untuk melihat persoalan bahasa dan sastra di era multimedia ini pada gilirannya tanpa sadar tergiring pada pembahasan mengenai kondisi kekinian di mana perkembangan teknologi multimedia telah mempengaruhi kehidupan manusia, khususnya dalam interaksi sosial. Selain itu, ujung dari diskusi adalah menemukan bagaimana cara menyikapi realitas tersebut. Memang dalam diskusi yang merupakan rangkaian dari perayaan Bulan Bahasa ini, pembicaraan mengenai posisi bahasa dan sastra juga sempat dibahas, namun nampak bahwa diskusi ini lebih terfokus pada persoalan yang general dibanding yang spesifik.

Dalam diskusi kali ini, kedua pembicara dalam terminologi tertentu sepakat memandang bahwa kecanggihan di bidang teknologi, khususnya komputer yang mampu menggabungkan dan menyajikan dunia teks, visual, suara, gambar, animasi, dan video, telah  memudahkan penggunanya dalam melakukan aktivitas seperti berkomunikasi, berkarya dan bernavigasi. Yang juga sama-sama disepakati, multimedia tak bisa dipungkiri membawa dampak yang besar dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, dunia multimedia/digital telah menciptakan ruang baru yang menyebabkan aktivitas manusia kemudian terkotak dan terpusatkan ke dalam sebuah layar laca. Hal ini mengingatkan kita pada  apa yang diungkapkan Baudriliard, bahwa layar kaca merupakan sebuah ruang simulasi saat segala aktivitas tubuh menjadi lumpuh dan segalanya kemudian terpusat dalam otak. Sementara itu, dalam taraf tertentu, manusia tanpa sadar telah teralienasi dalam kehidupan di luar dunia virtual ini. Komunikasi dan interaksi dengan sesamanya di ruang konkrit pun menjadi berkurang, waktu pun banyak dihabiskan untuk memandangi layar kaca.

Konsekuensi yang hadir di dalam ruang virtual ini tanpa sadar disebut Faruk telah menjadikan manusia menjadi kehilangan dirinya sebagai subjek. Segala sesuatu kemudian dikendalikan media. Faruk misalnya memberikan contoh ketika ia hendak mengungkapkan pikiran melalui tulisan di Facebook, maka pemikirannya harus terbatasi oleh jumlah karakter yang menyebabkan adanya reduksi terhadap apa yang hendak disampaikannya. Manusia tak lagi menjadi subjek yang merdeka karena kebebasan berekspresi pun terbatasi. Selain itu, kehadiran media mau tak mau juga telah menghadirkan sebuah distorsi, mengingat media semakin menyebabkan segala sesuatu berada dalam bermacam lapis tanda. Apa yang hendak disampaikan (ide) kemungkinan besar menjadi kabur dan mungkin saja akan berbeda pada penangkapan pembaca. Dalam titik inilah kita pun mengetahui bahwa dalam semesta sistem yang luas ini, segala sesuatu menjadi  sangat berjarak. Inilah yang kemudian menjadi ironi di mana media sebenarnya diciptakan untuk memperpendek jarak dan mempersempit ruang namun di sisi lain juga menciptakan ambigiutas. Faruk juga memberikan contoh saat cucunya melakukan video call dengan ibunya. Dalam komunikasi ini, sang anak merasakan ketidaknyamanan ketika bertemu dengan sosok ibu “maya” tersebut. Di satu sisi, layar HP telah menghadirkan sosok ibu tapi sosok ibu tersebut bukan merupakan ibu yang sebenarnya, mengingat ibu tersebut tak bisa disentuh dan dibaui selayaknya ibu yang sesungguhnya.

Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Faruk, Suminto juga mengatakan bahwa kehadiran dunia multimedia telah mengubah sistem komunikasi secara luas. Suminto misalnya berpendapat bahwa seseorang yang tak terlibat dalam ruang ini akan teralienasi dari dunia sosialnya. Suminto memberikan contoh misalnya adanya informasi yang disampaikan melalui media Grup Whatsapp. Mereka yang tak masuk dalam grup ini maka akan ketinggalan infomasi, bahkan dalam taraf tertentu di dunia konkrit mereka bisa disalahkan karena tak mengetahui hal tersebut. Hal yang sama juga dialami Suminto saat ia ditanya soal kasus Denny JA dan dengan spontan menjawab, “Saya tidak tahu.”

Kedua pembicara sebenarnya juga menyinggung dampak dari perubahan sosial atas munculnya kecanggihan teknologi multimedia yang berpengaruh dalam ranah bahasa dan sastra.

Dalam sesi tanya jawab, Faruk menjabarkan bagaimana bahasa di satu sisi juga musti tunduk pada aturan-aturan yang berlaku dalam ruang virtual. Bahasa (teks) kemudian juga harus berbagi ruang dengan unsur-unsur lain seperti gambar, musik, video, animasi dan lain-lain. Teks kemudian bukan menjadi bagian utama dalam dunia multimedia, berbeda dengan saat ia masih maujud dalam teks cetak, misalnya. Dalam ranah inilah, pikiran dan pengalaman tak lagi hanya menjelma dalam wujud bahasa tulis atau lisan, namun menjelma dalam bentuk bahasa yang baru. Suminto memberikan contoh pada kasus powerpoint. Dalam ruang ini, teks kemudian musti berbaur dengan gambar, animasi dan lain-lain. Dampaknya, seseorang bisa mengalami ketergantungan terhadap keberadaan powerpoint yang menyebabkan mereka seringkali gagap ketika menyampaikan sesuatu tanpa disertai tayangan tersebut.

Apa yang menjadi pokok pikiran kedua pembicara tersebut nampaknya dipengaruhi juga dari latar belakang keduanya. Kedua profesor sastra tersebut boleh dikatakan “tak sama tapi serupa, serupa tapi tak sama.” Keduanya sama-sama berasal dari era di mana tradisi tulisan cetak sedang mencapai puncak kejayaannya sementara tradisi lisan pun “belum luntur.” Keduanya kemudian terdampar ke sebuah zaman baru multimedia era digital di mana internet kemudian mulai menampakkan taringnya lalu berkuasa penuh dalam sendi kehidupan manusia.

Posisi keduanya sebagai orang yang masuk ke dalam dunia yang bisa dikatakan baru tersebut bisa menjadi pembeda dengan generasi yang lahir pada saat multimedia telah mencapai puncak kejayaannya seperti sekarang ini. Generasi sekarang mungkin saja memiliki cara pandang yang berbeda atas masalah tersebut karena menerima segalanya sebagai taken from granted. Generasi sekarang mungkin akan lebih senang mengekspresikan alam pikirannya melalui media yang multipleks tersebut. Hal tersebut juga akan mempengaruhi selera, di mana generasi sekarang mungkin lebih mencintai video game atau lebih senang menonton film dibandingkan dengan membaca buku, atau lebih memilih menggunakan powerpoint sebagai media menyampaikan gagasan dibandingkan dengan menggunakan media tunggal berupa teks atau lisan.

Meskipun demikian, hal tersebut tak lantas pula bisa digeneralisasi. Sebagai contoh, Faruk agaknya lebih memilih mencoba memasuki dunia yang baru itu, sementara Suminto lebih memilih menjaga jarak. Faruk kemudian menjajal telepon pintar, menggunakan media sosial seperti Facebook, Whatsapp, Twitter,dan Instagram untuk berinteraksi, sementara Suminto lebih memilih dibilang gaptek dan tetap menggunakan ponsel lawas dengan fitur secukupnya. Meskipun demikian, Suminto tidak serta merta mentah menanggapi perubahan sosial dan tetap mengikuti perkembangan dalam jarak tertentu. Ia misalnya tetap menggunakan layanan surel sebagai sarana berkomunikasi.

Akhirnya, segala sesuatu kemudian akan mengerucut pada kesadaran setiap individu dalam menghadapi realitas yang dihadapinya.

Dalam kondisi inilah, sensibilitas seseorang dituntut untuk menghadapi era baru tersebut. Kita tak mungkin menolak mentah-mentah apa yang kemudian hadir di hadapan kita. Dua pembicara pada diskusi tersebut telah memberikan contoh bagaimana musti bersikap. Apa yang dialami oleh cucu Faruk barangkali bisa menjadi gambaran, bahwa meskipun lahir di dunia yang batas antara yang fiksi dan yang nyata menjadi semakin tak kentara, ia tetap memiliki kepekaan untuk menerima tapi sekaligus juga menolak apa yang ada di hadapannya. Salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari generasi yang lahir di era multimedia seperti cucu Faruk barangkali adalah: kita mungkin bisa ikut serta mengikuti arus peradaban tanpa harus terhanyut, tetap berada dalam perahu yang bisa dikendalikan andaikata arus telah membawa perahu dalam pusaran yang berbahaya. Dengan perahu yang bisa kita kendalikan, kita tak akan kehilangan subjektivitas, kesadaran dan kemampuan kita, yang sesungguhnya merupakan kreator atas teknologi yang kita ciptakan sendiri.

PS.

Prof.Dr. Faruk Tripoli, S.U. lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Februari 1957 adalah pakar di bidang ilmu budaya serta guru besar Universitas Gadjah Mada. Selain menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, Faruk juga pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (2007—2009) serta aktif melakukan penelitian (1998—2009). Faruk juga sering tampil sebagai pemakalah, narasumber, dan penanggap dalam kegiatan ilmiah, baik bahasa, sastra, maupun budaya.

Prof.Dr. Suminto A. Sayuti, lahir di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Oktober 1956 adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui sejumlah karya sastra, baik yang diterbitkan sebagai buku ajar maupun dipublikasikan di berbagai media massa. Suminto A. Sayuti merupakan salah satu guru besar di Fakultas Bahasa dan Seni dan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *