Memperbincangkan Cerpen dan Puisi di dalam Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017

Posted: 17 May 2018 by Andreas Nova

Membincangkan Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017 di Indie Book Corner

Jumat pekan lalu, 11 Mei 2018, saya bersama Asef Saeful Anwar dan Fitriawan Nur Indrianto berkesempatan untuk berbincang-bincang mengenai proses dibalik terbitnya Buku Antologi Cerpen dan Puisi Kibul 2017 di 7PM Coffee and Books dalam acara Pasar Buku #1 yang diadakan oleh Indie Book Corner (IBC). Acara itu pun sebenarnya mendadak, karena kami baru dihubungi hari Senin sore oleh Dian Dwi Anisa dari Indie Book Corner via Whatsapp. Hari Selasa, saya datang ke IBC dan berbincang dengan mbak Dian sekalian mengkonfirmasi kesanggupan tawaran mengisi acara tersebut. Saya dan Asef bisa dan bersedia mengisi bincang-bincang tersebut. Ya, rencana awal adalah saya dan Asef saja. Waktu itu tidak terpikirkan oleh saya untuk menanyakan mengapa buku tersebut yang dipilih. Bukankah IBC juga memiliki buku-buku menarik untuk dibahas?

Jawaban dari pertanyaan itu barangkali terjawab dari obrolan singkat sebelum acara ketika Mbak Dian mengenalkan pada saya dan Asef pada Margareth Ratih Fernandez selaku moderator acara bincang-bincang yang menanyakan judul buku antologi tersebut yang ia rasa cukup provokatif. Oh, mungkin ini yang membuat buku ini yang dipilih IBC untuk dibicarakan. Bukan karena bukunya berwarna kuning atau covernya yang mengandung gambar mbak-mbak ayu yang sedang naik sapi (madura?).

Meskipun sisa-sisa abu akibat letupan freatik Gunung Merapi yang turun pada pagi harinya masih menyisa, acara bincang-bincang tersebut cukup asyik. Hari itu, Kibul (terutama Redaktur Cerpen dan Redaktur Puisi) ditelanjangi oleh mbak Ratih ketika membahas masalah kuratorial kedua rubrik yang mendapatkan atensi yang luar biasa dari rekan-rekan kontributor Kibul.

Asef menjelaskan secara rinci bagaimana ia berbakti (istilah yang selalu dipakai oleh Asef ketika menjelaskan bagaimana cara kerjanya) sebagai Redaktur Cerpen Kibul, mulai dari menyeleksi naskah, kriteria subyektif yang ia gunakan ketika menyeleksi naskah, bagaimana ia menyikapi naskah yang hampir masuk ke kriteria tersebut namun gagal di kriteria yang lain.

Sementara Fitriawan Nur Indrianto pun mau tak mau menjadi pembicara dadakan karena bagaimanapun, Buku Antologi tersebut membuat Cerpen dan Puisi. Rasanya tak berimbang jika Redaktur Puisi tak berbicara. Menarik ketika di acara ini ia “mengaku dosa” pernah meloloskan puisi yang kurang masuk kriteria subyektifnya sendiri. Lucunya, puisi tersebut juga diakui kurang layak terbit oleh empunya karya.

Saya sendiri lebih banyak membuka proses terbitnya buku tersebut, bagaimana karya-karya yang masuk di buku tersebut dipilih dan kemungkinan menerbitkan buku serupa tahun depan. Pertanyaan kemungkinan buku tersebut akan berlanjut di tahun depan pun saya sendiri masih belum bisa memastikannya saat ini.

Kalau niatnya sih tentu saja Kibul ingin menerbitkan buku serupa di tahun-tahun berikutnya. Jika kami niatkan sebagai perayaan dan apresiasi terhadap teman-teman kontributor, tentu saja kami mau tak mau harus menerbitkan Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2018 dan tahun-tahun berikutnya. Tapi kalau niatnya untuk komersil saya rasa menerbitkan buku antologi bukan pilihan yang cukup baik.

Ketika saya mengirimkan naskah buku antologi ini kepada Penyair Indrian Koto untuk ia komentari, ia sempat bilang kalau menjual buku antologi itu susah apalagi kalau isi dalam buku tersebut bisa dibaca melalui situs web. Masih mending menjual kumpulan cerpen dari penulis baru, bahkan buku puisi lebih mudah laku.Tapi kalau niatnya sebagai perayaan dan apresiasi terhadap kontributor-kontributor di Kibul ya, jalani saja.

Perkataannya saya ingat baik-baik dalam benak saya. Bahkan perkataan tersebut beranak pinak menjadi pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah Kibul mau komersil atau tidak? Apakah karya-karya di dalamnya layak untuk diperbincangkan atau tidak? Pertanyaan kedua ini cukup menggelitik, karena sampai malam itu, acara-acara diskusi yang saya ikuti dan memperbincangkan buku antologi tersebut belum sampai menyentuh karya di dalamnya. Hingga sampailah pada acara Dikunyah #13 yang diadakan hari Minggu sore, 13 Mei 2018 di Erha Coffee&Literacy.

 

Memperbincangkan Cerpen dan Puisi dalam Buku Antologi bersama Ngopinyastro

Dalam acara Dikunyah #13 (Diskusi Nyante Hore), Kibul bekerja sama dengan komunitas Ngopinyastro. Komunitas ini sendiri sudah dikenal cukup lama di Yogyakarta, dan sudah berumur 7 tahun. Sesuai namanya diskusi yang diadakan di Erha Coffee&Literacy di daerah Gorongan, Condongcatur, Depok, Sleman itu berlangsung santai dan guyub.

Sore itu, Kibul dan Ngopinyastro membedah cerpen Barangkali karya Suci Wulandari dan puisi Cinta pada Sebuah Ladang karya Neng Lilis Suryani. Dalam diskusi Cerpen tersebut, Drajat Teguh Jatmiko bertindak sebagai moderator diskusi yang menghadirkan Riska SN, Asef Saeful Anwar, dan Suci Wulandari untuk membedah cerpen Barangkali karya Suci. Sedangkan diskusi Puisi dimoderatori oleh saya, menghadirkan Fuad Cahyadiputra, Fitriawan Nur Indrianto, dan Neng Lilis Suryani.

Ada ketakjuban ketika membaca ulasan Riska dan Fuad yang cukup dalam ketika membedah kedua karya tersebut. Rasa takjub yang sama ketika melihat penampilan visualisasi cerpen Percakapan dalam Rahim karya Irwan Apriansyah yang dipertunjukan oleh Riska SN, Tubagus Nikmatulloh, dan Agus Sandiko ketika membuka Bincang-Bincang Sastra edisi 151 yang diadakan oleh Studio Pertunjukan Sastra pada tanggal 28 April 2018 lalu. Ternyata sebuah karya bisa dibaca dengan cara seperti ini, ya.

Ulasannya dari rekan-rekan Ngopinyastro cukup dalam. Riska membahas tentang sentuhan puitis dalam dimensi prosa. Sementara Fuad membahas mengenai kegelisahan dalam lanskap dan cinta di puisi Neng Lilis Suryani. Keduanya menulis esai menarik yang akan dipublikasikan di Kibul.

Setelah melihat antusiasme dari rekan-rekan kontributor dan pembahasan yang dalam dari karya-karya di buku antologi oleh rekan-rekan komunitas sastra. Saya semakin yakin, menerbitkan buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul ini bukan merupakan langkah yang salah. Ini bukan masalah komersialisasi atau kapitalisasi atau apalah, you named it. Ini adalah apresiasi. Kibul tidak akan mencapai usia satu tahun tanpa karya-karya kiriman rekan-rekan kontributor, tanpa apresiasi dari rekan-rekan komunitas. Hal ini sungguh menyulut semangat kami untuk tetap konsisten merawat dan mewartakan kesusastraan, seni, dan budaya. Kibul dengan tangan terbuka menerima kerjasama dengan rekan-rekan komunitas sastra, seni, dan budaya, baik sebagai rekan media, maupun rekan diskusi. Dengan diskusi kita dapat membuka dialog untuk menyemarakkan dunia sastra, seni, dan budaya di Indonesia.

 

Esai Fuad Cahyadiputra dapat dibaca di tautan ini.

Esai Riska SN dapat dibaca di sini

 

Pendapat Anda: