Malam Sastra Seribu Bulan: Merayakan Kembali Sastra Pesantren

Posted: 14 June 2017 by Redaksi Kibul

pesantren

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Kaliopak, menggelar Bincang-bincang Sastra (BBS) edisi ke 141 dalam rangkaian acara Malam Sastra Seribu Bulan putaran ke 10 mengusung tajuk “Merayakan Kembali Sastra Pesantren”. Acara akan berlangsung pada Kamis, 15 Juni 2017, pukul 20.00 WIB. di Pondok Pesantren Kaliopak, Jalan Wonosari km 11,5 Klenggotan, Dusun Srimulyo, Piyungan, Bantul. Dalam acara ini akan hadir selaku pembicara ialah M. Jadul Maula, pimpinan Pondok Pesantren Kaliopak dan Sholeh U.G., pegiat sastra pesantren yang akan dipandu oleh Salman Rusydi Anwar dari Komunitas Kutub. Selain itu, acara ini juga akan menampilkan Paguyuban Emprak Pesantren Kaliopak, Mata Langit, Sasono Hinggil, Komunitas Kutub, Nurel Javissyarqi, dan Cak Udin mempertunjukan karya-karya sastra bernuansa Islami dari kitab-kitab klasik dan karya sastra modern.

Mustofa W. Hasyim selaku ketua Studio Pertunjukan Sastra menuturkan bahwa, “Pertama, keberadaan sastra di pesantren berupa sastra kitab (sastra ilmu). Hampir semua kitab klasik ditulis dengan konstruksi dan bahasa sastra. Hal itu menunjukkan bahwa antara pesantren dengan sastra sesungguhnya sudah terjalin keakraban sejak lama. Kedua, tidak sedikit isi kitab klasik yang diolah menjadi suluk, serat, babad. Ketiga, karya sastra ekspresi ulama atau kiai berupa sesingiran, kasidah, salawat-salawat seperti Al Barjanzi, Dibai, Burdah, Dlurori, dan lain sebagainya. Empat, sastra eksptesi santri berupa karya sastra modern seperti puisi, cerita pendek, novel, esai, dan naskah drama.”

Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran Islam di Indonesia, telah tumbuh dan berkembang seiring sejalan dengan sejarah penyebaran agama tersebut. pengembangan ajaran agama Islam melalui unsur-unsur tradisi dan budaya pesantren, memungkinkan sastra tumbuh dan berkembang di pesantren dan lingkungan sekitarnya. Maka di era modern berkembanglah sastra pesantren bahkan sempat ramai diperbincangkan mengenai soal-soal yang meliputis sastra dan pesantren itu.

“Pesantren dan sastra pesantren sebagai khazanah perkembangan peradaban Islam di Indonesia adalah fenomena. Sastra pesantren adalah genre, kanon sastra pesantren, industri sastra pesantren, merebaknya sastra Islami, label sastra Islami, pernah mewarnai ‘perdebatan’ di dalam sastra Indonesia. Yogyakarta merupakan salah satu sumbu yang membuat sastra pesantren menyala. Di Yogyakarta, untuk menyebut beberapa, ada Pesantren Sunan Pandanaran, Pesantren Hasyim Asy’ari (Kutub), Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Pesantren Maulana Rumi, Pesantren Tradisional Roudlotul Fatihah, dan Pondok Pesantren Budaya Kaliopak yang sejauh ini diketahui memiliki cukup perhatian terhadap kesenian dan sastra. Hal tersebut tidak luput dari peran pengasuhnya yang juga seorang sastrawan-budayawan. Sebut saja (alm.) Zainal Arifin Thoha, M. Fuad Riyadi, Kuswaidi Syafi’i, M. Jadul Maula, dan beberapa nama yang memilih jalur budaya untuk berdakwah,” ujar Mustofa.

“Agaknya bukanlah suatu hal yang mengada-ada manakala Studio Pertunjukan Sastra hari ini mengajak masyarakat untuk menilik kembali bagaimana sastra pesantren hadir dan melahirkan banyak karya dan sejumlah nama sastrawan di Yogyakarta, khususnya, dan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *