Pergulatan Kho Ping Hoo di Dunia Persilatan Sastra Indonesia

Posted: 4 May 2017 by Latief S. Nugraha

kho ping hoo

Dunia persilatan sastra Indonesia sempat diwarnai dengan merebaknya sejumlah nama penulis cerita silat berlatar sejarah Cina. Sebut saja Gan K.L. (Gan Kok Liang), O.K.T. (Oey Kim Tiang), Auyang Hong, dan Tjan I.D. (Tjan Ing Djiu). Hingga kini beberapa nama tersebut masih bisa dijumpai di pasar buku-buku loak dan lewat penerbitan-penerbitan ulang karya mereka. Cerita silat berlatar sejarah Cina agaknya mempunyai arti penting di hati para pembacanya di Indonesia, terutama bagi keturunan Cina yang dibesarkan di bawah tekanan rezim Orde Baru. Dalam suasana tersebut, cerita-cerita silat Cina menjadi salah satu sumber kebudayaan, sejarah, agama, bahkan moral yang penting bagi masyarakat.

Membicarakan cerita silat berlatar sejarah Cina di Indonesia, ganjil rasanya jika melewatkan nama Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo yang biasa menuliskan namanya Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan lebih akrab disebut namanya Kho Ping Hoo. Berbeda dengan para penulis cerita silat yang sudah disebutkan, Kho Ping Hoo tidak menceritakan ulang cerita silat berbahasa Cina ke dalam bahasa Indonesia, tapi mengarang sendiri dengan meramu fantasi dan pengetahuannya. Ia juga memadupadankan latar sejarah Cina dan Jawa ke dalam fantasinya menjadi cerita silat.

Kho Ping Hoo merupakan seorang Cina peranakan kelahiran Sragen, Jawa Tengah, tepatnya tanggal 17 Agustus 1926. Ia wafat pada tanggal 22 Juli 1994 karena serangan jantung dan dimakamkan di Solo. Seumur hidup ia tinggal di Indonesia. Menarik! Sungguh pun ia tidak dapat membaca dan menulis dalam bahasa Cina dan belum pernah sekali pun menginjakkan kakinya ke Cina. Namun, imajinasi dan bakat menulisnya menunjukkan bahwasannya ia memiliki wawasan luas terhadap tanah leluhurnya itu.

Konon, cerita-cerita silat karyanya justru lebih banyak mendapat inspirasi dari film-film silat Hong Kong dan Taiwan. Dari situlah gambaran mengenai detail lokasi kejadian cerita khayalnya berikut nama tempat dan  lanskap alamnya didapat. Keterbatasan penguasaan bahasa Cina membuat Kho Ping Hoo tidak dapat membaca dan memperoleh sumber-sumber sejarah negeri Cina. Walhasil, banyak fakta historis dan geografis Cina yang tidak sesuai dengan kenyataan, terkadung dalam cerita karangannya. Meskipun demikian, selama 30 tahun karier kepenulisannya, lebih kurang ada 400 judul serial cerita silat berlatar sejarah Cina dan 50 judul serial berlatar sejarah Jawa yang telah dihasilkan. Kepiawaiannya menuturkan cerita berdasar pengalaman fantasi yang nyaris realistis tidak hanya berisi omong kosong belaka, namun juga memuat filsafat hidup kemanusiaan. Katanya:

 

“… sudah terlalu sering terbukti bahwa sang pemimpin sama sekali tidak sama dengan anak-anak buahnya. Watak baik seorang pemimpin sama sekali tidak mencerminkan watak daripada anak buahnya, sungguh pun keadaan baik para petugas tentu tergantung daripada kebijaksanaan sang pemimpin. Dengan lain penjelasan, biarpun seorang pemimpin amat bijaknya dan berbudi mulia, adil dan mencintai rakyat, namun belum tentu kalau anak buahnya, yakni para petugas pemerintahannya, juga adil dan mencintai rakyat! Sebaliknya, kalau para petugas itu melakukan tugas dengan hati bersih daripada korupsi dan penindasan kepada rakyat, sudah boleh dipastikan bahwa sang pemimpin tentu seorang berjiwa besar! Seorang ahli bangunan takkan mungkin mendirikan sebuah bangunan yang indah dan kuat sebagaimana ia rencanakan semula kalau tukang-tukang dan para pekerjanya tidak melakukan pekerjaan dan tugas masing-masing sebagaimana mestinya. Sebaliknya, kalau para petugas itu bekerja baik sehingga terbangun sebuah bangunan yang hebat, sudah dapat ditentukan bahwa pekerjaan itu dipimpin oleh seorang ahli bangunan yang pandai. Pendek kata, kemajuan dan sukses bukan tergantung kepada pemimpin semata, melainkan sebagian besar tergantung kepada para pelaksana tugas.”

 

Secara esensial Kho Ping Hoo berpendapat bahwa segala yang dibuat dan dilakukan oleh manusia dengan maksud untuk dihidangkan kepada orang lain, tidak lepas dari dua hal, yaitu: Mutu dan Nilai. Mutu tidak selalu berjalan dengan nilai, seperti kelezatan dan gisi dalam makanan. Yang bermutu belum tentu bernilai, seperti juga yang lezat belum tentu bergizi. Sebaliknya, yang bernilai belum tentu bermutu dan yang bergizi belum tentu lezat. Mutu selalu ada kaitannya dengan selera, dan selera itu selalu condong ke arah yang enak-enak. Oleh karena itu, yang bermutu itu yang selalu enak, enak dipandang, enak didengar, enak dicium, enak dimakan, enak dipakai, dan selanjutnya yang serba enak lagi.

Demikian pula dengan buatan manusia berupa karya seni, tulisan atau yang lain sebagainya. Cerita silat sebagai hasil karya seni tulisan tentu tidak lepas dari mutu. Mutu dalam hal ini ialah mutu sesuai jenisnya, yakni jenis cerita silat. Maka sudah barang pasti bahwa cerita silat yang bermutu sajalah yang dapat menarik banyak penggemar dan dapat memiliki daya tahan yang lama, dan tentu saja “enak” dibaca.

Lantas, bagaimana tentang nilai dalam cerita silat? Bicara soal nilai hasil karya tulisan, lukisan, dan sebagainya, dan sejenisnya, pasti akan menimbulkan pendapat-pendapat yang berbeda dan kadang-kadang bahkan bertentangan satu sama lain. Hanya para ahli sastra, para cerdik pandai sarjana dalam kesastraan sajalah yang suka melakukan penilaian dalam hal nilai sastranya. Sering kali tidak terdapat keseragaman, masing-masing mempertahankan pendapat pribadi masing-masing. Sehingga yang terjadi adalah perdebatan tentang bernilai atau tidaknya sebuah hasil karya tulisan. Debat sastra ini terkadang sedemikian sengitnya sehingga sastranya sendiri menjadi tidak penting, karena masing-masing tenggelam di dalam untuk mencari kemenangan dalam perdebatan itu.

***

Ketika diajukan pertanyaan, “Mengapa memilih menulis cerita silat berlatar Cina di tengah banyaknya penulis cerita berlatar belakang sejarah di Jawa?” maka Kho Ping Hoo akan menjawab, “Sebaiknya lebih dulu kita selidiki apa hubungannya antara cerita silat dengan Cina!”

Menurut Kho Ping Hoo, kata “silat” identik dengan Cina atau ada hubungan yang amat dekat, terutama ketika istilah “silat” dipergunakan di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah, sejak zaman dahulu orang menganggap bahwa “silat” adalah ilmu beladiri bangsa Cina. Sedangkan untuk ilmu beladiri bangsa Jawa disebut “pencak”. Akhirnya, kini dipergunakan istilah “pencak-silat” untuk ilmu beladiri pada umumnya di Indonesia. Cukup menarik pendapat tersebut. Betapa pun juga, agaknya identitas itu masih menebal manakala kita ingat bahwa “film silat” pada umumnya merujuk pada film Cina yang terjadi banyak adegan perkelahian dengan ilmu silat. Itulah sebab Kho Ping Hoo tidak menamakan “cerita silat” kepada karangan-karangannya yang berlatar belakang sejarah di Jawa, meski di dalamnya terdapat adegan-adegan perkelahian dengan pencak-silat.

Sekarang kita kembali kepada pertanyaan awal, mengapa Kho Ping Hoo menulis cerita silat Cina. Kho Ping Hoo yang hanya mencecap bangku sekolahan sampai kelas I HIS (Hollandsche Inlandsche School) dikenal memiliki minat baca dan keinginan untuk menulis yang cukup besar. Sejak tahun 1952 ia sudah menulis cerita pendek. Umurnya baru 26 tahun kala itu. Enam tahun setelahnya, cerpen pertamanya dimuat di majalah terbesar Indonesia masa itu, Star Weekly. Tampaknya, hal inilah yang mendorong untuk mengembangkan bakat kepenulisannya.

Kho Ping Hoo mengenal dunia persilatan sudah sejak kecil berkat bimbingan ayahandanya. Namun, ia mengaku bahwa kepengarangan cerita silat yang ia tekuni sesungguhnya bermula dari kebetulan semata. Kisaran tahun 1960-an, hampir semua majalah dan koran yang terbit di Indonesia, di Jakarta khususnya, memuat cerita silat bersambung. Sebagai seorang yang suka menulis cerpen untuk dikirimkan kepada majalah-majalah, ia melihat peluang di antara banyaknya penggemar cerita silat kala itu. Ia pun menulis cerita silat. Tanpa diduga-duga sebelumnya, cerita silatnya yang berjudul “Si Teratai Merah” memperoleh banyak penggemar. Maka mulailah ia menjadi penulis cerita silat.

Semakin banyak penggemar cerita silat karangannya, Kho Ping Hoo pun mendirikan Percetakan dan Penerbit CV Gema, beralamat di Mertokusuman 761 RT 02 RW VII, Solo. Penerbitan yang dibangunnya sendiri itu menjadi penerbit tunggal cerita-cerita silat yang novelnya dalam bentuk serial buku saku, dan sangat laris di pasaran, juga di persewaan-persewaan buku.

Untuk menulis cerita silat berlatar belakang sejarah kuno Cina, tentu saja dibutuhkan pengetahuan yang cukup memadai tentang sejarah, kebudayaan, agama, yang terdapat di Cina pada masa itu, di samping pengetahuan silat itu sendiri. Walaupun sebagian besar hanya teoretis saja, semua itu lalu dirangkai menurut hasil khayali. Dan seperti juga yang sudah pasti terjadi kepada setiap orang penulis, tidak mungkin terlepas dari pengaruh lingkungan. Kesan-kesan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang politik dan sosial mewujud dalam karya-karyanya. Sebagaimana ungkapan “kita adalah buku yang kita baca,” pengaruh dari bacaan-bacaan pun tak dapat dihindarkan lagi pasti menyelinap masuk ke dalam tulisan-tulisan Kho Ping Hoo.

Seperti sudah disinggung, tak hanya menulis cerita silat berlatar Cina, kakek dari Deddy Mahendra Desta “Club 80’s” itu juga menulis cerita berlatar sejarah Jawa. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, ia pun menanamkan ideologi nasionalisme melintasi batas agama, suku, dan ras dalam cerita silatnya. Karya serial berlatar Jawa yang boleh terbilang melegenda antara lain Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut Selatan.

Ia mencintai pekerjaan menulis, menuangkan segala yang terasa dan terpikir ke dalam tulisan. Ia tidak peduli lagi apakah itu berbentuk cerita silat, ataukah cerita berlatar belakang sejarah Jawa, atau roman. Dalam penulisan cerita silat Cina, ia menemukan kebebasan seluas-luasnya untuk menuangkan apa saja yang terkandung dalam hati. Ia hidangkan bacaan ringan yang menghibur, di samping ajakan untuk menghadapi kehidupan dengan lebih serius lagi. Melalui cerita silat ia merasa dapat berkomunikasi dengan pembaca. Bukan hanya melalui silat, ia pun mengajak para pembaca merasakan penderitaan kehidupan, sama-sama menghadapinya, mempelajarinya, menyelidikinya, dan menanggulanginya.

Dengan kesadaran bahwa pekerjaan seorang pengarang/penulis mirip dengan pekerjaan seorang juru masak, kalau masyarakat menghendaki bakso, atau pecel, atau martabak, maka seorang juru masak harus membuat dan menyajikannya. Tak peduli apakah itu bakso, atau pecel, yang penting adalah mutu dan nilai di baliknya.

Maksudnya, seorang penulis apa pun juga tidak mungkin terlepas dari dunia pembacanya. Apalah arti penulis tanpa pembaca? Jelas bahwa bagi seorang penulis, pembaca merupakan suatu kebutuhan mutlak yang tak dapat ditiadakan. Oleh karena itu, sudah selayaknya penulis mempelajari keadaan pembaca. Masyarakat pembaca memiliki tingkat-tingkat kemampuan daya tangkap. Masyarakat pembaca memiliki seleranya masing-masing.

Meskipun demikian, Kho Ping Hoo berpendapat bahwa bukan berarti penulis boleh melakukan penjilatan macam apa pun demi memenuhi selera pembaca. Bukan berarti seperti yang sering atau pernah dikatakan orang, penulis boleh melacurkan diri demi menyenangkan pembaca yang berarti demi memperoleh banyak uang. Sudah menjadi penulis tentu setidaknya tahu akan selera apa yang tidak selayaknya dilayani dan selera macam bagaimana yang pantas diberi toleransi.

***

Cerita-cerita kepahlawanan, kemenangan-kemenangan seorang pendekar, merupakan bagian dari sejarah psikoanalisis sambungan sumbangan terhadap pandangan dunia yang pernah ada. Mengapa cerita-cerita wayang, cerita-cerita epos, cerita-cerita lama atau kuno yang menggambarkan tentang pertentangan yang tiada kunjung henti antara si jahat dan si baik, si kuat dan si lemah, si penindas dan si pendekar, selalu disukai oleh pembaca? Demikianlah persoalan esensial di dalam sastra sebagai sebuah usaha merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan perjuangan paham yang benar melawan paham yang salah sesuai prototipe yang dikehendaki oleh ide sang pengarang sesuai yang dikehendaki pembaca.

Kho Ping Hoo berpendapat, seperti juga cerita wayang, kalau cermat dan pandai mengolahnya, cerita silat mampu menyuguhkan pergolakan si baik dan si jahat tanpa memungkiri realisme dunia. Cerita silat merupakan ajang untuk menumpahkan semua perasaan dendam dan penasaran pembaca yang tak terlampiaskan tatkala terdapat dua kepuasan pembaca betapa si jahat terhukum oleh si pendekar, sebagai obat dari sakit hatinya sendiri yang tak dapat dibalasnya. Bahwa benar adalah benar, dan salah tetaplah salah. Di samping itu, di dalam cerita silat juga dapat dimasukkan masalah-masalah kehidupan sehari-hari, tentang cinta kasih, tentang kebencian, tentang iri hati, keserakahan, dan sebagainya. Maka, akrablah dalam ingatan nama-nama tokoh dunia persilatan seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, serta tokoh-tokoh lain dalam Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum yang legendaris itu.

Mudah-mudahan sekelumit tentang Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan cerita silat ini ada manfaatnya bagi para pembaca.

 

Sumber Bacaan:

Catatan Asmaraman S. Kho Ping Hoo berjudul “Cerita Silat” dalam Pesta Tulisan produksi ke 7 Pabrik Tulisan Yogyakarta, 1977.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *