Ketentuan Lomba-Lomba Bulan Bahasa UGM 2017

Posted: 15 September 2017 by Redaksi Kibul

LOMBA 1

CIPTA CERPEN

 

SYARAT UMUM

  • Lomba dibuka tanggal 24 Juni 2017 hingga 20 Oktober 2017 pukul 23.59 WIB.
  • Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada malam puncak Bulan Bahasa 2017 di The Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 23 November 2017 dan selanjutnya juga akan kami publikasikan di media sosial.
  • Peserta adalah umum (setiap orang dapat berpartisipasi dan tidak dibatasi usia).
  • Tema cerpen bebas.
  • Cerpen tidak berpotensi menimbulkan masalah SARA.
  • Cerpen merupakan hasil karya sendiri (bukan plagiarisme).
  • Setiap karya yang merupakan plagiarisme bukan merupakan tanggung jawab panitia dan akan didiskualifikasi.
  • Naskah lomba belum pernah diikutsertakan dalam lomba apa pun sebelumnya.  
  • Hak publikasi setiap cerpen menjadi milik panitia.  
  • Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

SYARAT KHUSUS

  • Peserta mengisi form pendaftaran online pada https://docs.google.com/forms/d/e/1FAlpQLSebiuWZxYGx86VA6INqOAR3puuozII jAIBrQ8EYosclpcZGNg/viewform  
  • Peserta boleh mengirim lebih dari satu cerpen.
  • Dikenakan biaya pendaftaran Rp 35.000 per naskah.
  • Format cerpen (diketik menggunakan MS Word, kertas A4, huruf Times New Roman 12, spasi 1,5, margin normal, rata kanan-kiri, minimal 4 halaman dan maksimal 8 halaman).
  • Peserta tidak diperbolehkan mencantumkan identitas dalam naskah.
  • Melampirkan fotokopi atau scan Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/SIM/KTP.
  • Melampirkan fotokopi atau scan bukti pembayaran pendaftaran.
  • Melampirkan data diri dalam lembar terpisah, berupa alamat, nomor telepon atau WhatsApp yang dapat dihubungi, dan alamat e-mail.
  • Naskah yang tidak memenuhi kriteria persyaratan akan didiskualifikasi.

LAIN-LAIN

  • HADIAH PEMENANG LOMBA
Pemenang I   Rp 2.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang II    Rp 1.500.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang III    Rp 1.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang IV-X   Hadiah Khusus + Piagam Pemenang.

*Lima pemenang tambahan mendapatkan “E-Piagam Pemenang” sebagai lima naskah favorit.

*Naskah terbaik akan diterbitkan dalam buku antologi pemenang.

*Seluruh peserta mendapatkan E-Piagam Penghargaan.

TATA CARA PENDAFTARAN

  • Membayar biaya pendaftaran dengan transfer melalui salah satu rekening di bawah ini:

BNI SYARIAH : a.n Pranatama Kesdihandaru 0425443677

BNI : a.n Tuhrotul Fu’adah 0503536879

BRI : a.n. Andre Wijaya 5259-01-009438-53-3

Mandiri : a.n Bening Anisa 900-00-3882099-0

BCA   : a.n Siti Fatonah 4450870302

  • Mengirim berkas dan kelengkapan lomba melalui email ciptacerpenbb17@gmail.com dengan subjek CERPEN_BB17_(NAMA), contoh CERPEN_BB17_ANDRE WIJAYA
  • Berkas dan kelengkapan lomba (termasuk naskah sebanyak 3 rangkap) juga dapat dikirim langsung ke sekretariat panitia Bulan Bahasa UGM 2017, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta. 52281. Mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera.
  • Pendaftaran juga bisa langsung dilakukan di stand pendaftaran lomba Bulan Bahasa 2017 (mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera).
  • Info lebih lanjut hubungi Yolanda HP/WA : 087702815013 dan ID Line : yolandahan22
  • Rincian acara dan informasi lainnya:
Website : kmsi.fib.ugm.ac.id  
Facebook : Bulan Bahasa UGM
Twitter : @bulanbahasaugm
Line : @JGG7917F
Instagram : @bulanbahasaugm
YouTube : KMSI UGM

 

LOMBA 2

CIPTA PUISI

SYARAT UMUM

  • Lomba dibuka tanggal 24 Juni 2017 hingga 20 Oktober 2017 pukul 23.59 WIB.
  • Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada malam puncak Bulan Bahasa 2017 di The Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 23 November 2017 dan di media sosial.  
  • Peserta adalah umum (setiap orang dapat berpartisipasi dan tidak dibatasi usia).
  • Tema puisi bebas.
  • Puisi tidak berpotensi menimbulkan masalah SARA.
  • Puisi merupakan hasil karya sendiri (bukan plagiarisme).
  • Setiap karya yang merupakan plagiarisme bukan merupakan tanggung jawab panitia dan akan didiskualifikasi.
  • Naskah lomba belum pernah diikutsertakan dalam lomba apa pun sebelumnya.  
  • Hak publikasi setiap puisi menjadi milik panitia.  
  • Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Naskah yang tidak memenuhi syarat akan didiskualifikasi.

SYARAT KHUSUS

  • Peserta mengisi form pendaftaran online pada https://docs.google.com/forms/d/e/1FAlpQLSebiuWZxYGx86VA6INqOAR3puuozII jAIBrQ8EYosclpcZGNg/viewform  
  • Peserta boleh mengirim lebih dari satu puisi.
  • Dikenakan biaya pendaftaran Rp 35.000 per naskah.
  • Format puisi (diketik menggunakan MS Word, kertas A4, huruf Times New Roman 12, spasi 1, margin normal, rata kanan-kiri, dan tidak ada batasan halaman).
  • Melampirkan fotokopi atau scan Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/SIM/KTP.
  • Melampirkan fotokopi atau scan bukti pembayaran pendaftaran.
  • Melampirkan data diri dalam lembar terpisah, berupa alamat, nomor telepon atau WhatsApp yang dapat dihubungi, dan alamat e-mail.

LAIN-LAIN

  • HADIAH PEMENANG LOMBA
Pemenang I   Rp 2.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang II    Rp 1.500.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang III    Rp 1.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang IV-X   Hadiah Khusus + Piagam Pemenang.

*Lima pemenang tambahan mendapatkan “E-Piagam Pemenang” sebagai lima naskah favorit.

*Naskah terbaik akan diterbitkan dalam buku antologi pemenang.

*Seluruh peserta mendapatkan E-Piagam Penghargaan.

TATA CARA PENDAFTARAN

  • Membayar biaya pendaftaran dengan transfer melalui salah satu rekening di bawah ini:

BNI SYARIAH : a.n Pranatama Kesdihandaru 0425443677

BNI : a.n Tuhrotul Fu’adah 0503536879

BRI : a.n. Andre Wijaya 5259-01-009438-53-3

Mandiri : a.n Bening Anisa 900-00-3882099-0

BCA   : a.n Siti Fatonah 4450870302

  • Mengirim berkas dan kelengkapan lomba melalui email ciptapuisibb17@gmail.com dengan subjek PUISI_BB17_(NAMA), contoh PUISI_BB17_ANDRE WIJAYA
  • Berkas dan kelengkapan lomba (termasuk naskah sebanyak 3 rangkap) dapat juga dikirim langsung ke sekretariat panitia Bulan Bahasa UGM 2017, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta. 52281. Mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera.
  • Pendaftaran juga bisa langsung dilakukan di stand pendaftaran lomba Bulan Bahasa 2017 (mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera).
  • Info lebih lanjut hubungi Afaf HP/WA : 081226755426 dan ID Line : afafmutia

 


          Rincian acara dan informasi lainnya:

Website : kmsi.fib.ugm.ac.id  
Facebook : Bulan Bahasa UGM
Twitter : @bulanbahasaugm
Line : @JGG7917F
Instagram : @bulanbahasaugm
YouTube : KMSI UGM

 

 

LOMBA 3

MENULIS ESAI

TEMA

  • BAHASA
  • SASTRA

*Panitia membebaskan penulis mengembangkan judul esai dari tema-tema yang sudah dituliskan di atas, dapat berupa isu-isu mutakhir sastra (kritik sastra atau sastra cyber) dan bahasa saat ini.  

SYARAT UMUM

  • Lomba dibuka tanggal 24 Juni 2017 hingga 20 Oktober 2017  pukul 23.59 WIB.
  • Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada malam puncak Bulan Bahasa 2017 di The Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 23 November 2017 dan di media sosial.   
  • Peserta adalah umum (setiap orang dapat berpartisipasi dan tidak dibatasi usia).
  • Esai tidak berpotensi menimbulkan masalah SARA.
  • Esai merupakan hasil karya sendiri (bukan plagiarisme).
  • Setiap karya yang merupakan plagiarisme bukan merupakan tanggung jawab panitia dan akan didiskualifikasi.
  • Naskah lomba belum pernah diikutsertakan dalam lomba apa pun sebelumnya.  
  • Naskah yang dikumpulkan menjadi arsip panitia dan tidak dikembalikan.  
  • Panitia memiliki hak untuk mempublikasikan naskah esai dalam media apapun dengan tetap mencantumkan nama penulisnya.
  • Keputusan dewan juri/tim penilai tidak dapat diganggu gugat.  

SYARAT KHUSUS

Melampirkan fotokopi atau scan bukti pembayaran pendaftaran.

  • Melampirkan data diri dalam lembar terpisah, berupa alamat, nomor telepon atau WhatsApp yang dapat dihubungi, dan alamat e-mail.

PENILAIAN ESAI

  • Orisinal
  • Inovatif
  • Tata Bahasa
  • Sistematis

KETENTUAN PENULISAN

  • Judul diketik dengan huruf kapital.  
  • Esai memuat pembuka/pengantar, isi, dan penutup.
  • Panjang naskah esai diwajibkan minimal 500 kata dan maksimal 600 kata.
  • Esai dibuat dalam Bahasa Indonesia yang baik dan baku.
  • Esai diketik spasi 1,5 pada kertas A4 dengan huruf Times New Roman 12pt.
  • Batas pengetikan (margin) : kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm, dan rata kanan-kiri.
  • Melampirkan daftar riwayat hidup pada bagian akhir.
  • Mencantumkan nomor telepon instansi, nomor telepon rumah, dan telepon genggam (HP) pada daftar riwayat hidup.
  • Mencantumkan daftar pustaka.
  • Jika diperlukan, diperbolehkan menambahkan catatan kaki.

LAIN-LAIN

  • HADIAH PEMENANG LOMBA
Pemenang I   Rp 1.500.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang II    Rp 1.250.000+ Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang III    Rp 1.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang IV-X   Hadiah Khusus + Piagam Pemenang.

*Lima pemenang tambahan mendapatkan “E- Piagam Pemenang” sebagai lima naskah favorit.

*Naskah terbaik akan diterbitkan dalam buku antologi pemenang.

*Seluruh peserta mendapatkan E-Piagam Penghargaan.

TATA CARA PENDAFTARAN

  • Membayar biaya pendaftaran dengan transfer melalui salah satu rekening di bawah ini:

BNI SYARIAH : a.n Pranatama Kesdihandaru 0425443677

BNI : a.n Tuhrotul Fu’adah 0503536879

BRI : a.n. Andre Wijaya 5259-01-009438-53-3

Mandiri : a.n Bening Anisa 900-00-3882099-0

BCA   : a.n Siti Fatonah 4450870302

  • Mengirim berkas dan kelengkapan lomba melalui email menulisesaibb17@gmail.com dengan subjek ESAI_BB17_(NAMA), contoh ESAI_BB17_ANDRE WIJAYA
  • Berkas dan kelengkapan lomba (termasuk naskah sebanyak 3 rangkap) dapat juga dikirim langsung ke sekretariat panitia Bulan Bahasa UGM 2017, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta. 52281. Mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera.
  • Pendaftaran juga bisa langsung dilakukan di stand pendaftaran lomba Bulan Bahasa 2017 (mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera).
  • Info lebih lanjut hubungi Karina HP/WA : 081399239800 dan ID Line : karinaadilah Rincian acara dan informasi lainnya:
Website : kmsi.fib.ugm.ac.id  
Facebook : Bulan Bahasa UGM
Twitter : @bulanbahasaugm
Line : @JGG7917F
Instagram : @bulanbahasaugm
YouTube : KMSI UGM

 

 

LOMBA 4

MENULIS DONGENG  

DESKRIPSI LOMBA

Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) dan dianggap oleh masyarakat sebagai suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng merupakan bentuk cerita tradisional atau cerita yang disampaikan secara turun-temurun dari nenek moyang. Dongeng berfungsi untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik), dan juga menghibur (Wikipedia bahasa Indonesia). Dongeng selalu menarik untuk diceritakan kepada anak-anak, selain itu dongeng menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak. Menulis dongeng bagi anak-anak dapat melatih kreativitas anak dalam membangun daya pikir dan imajinasi anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, Bulan Bahasa UGM tahun 2017 menyelenggarakan Lomba Menulis Dongeng untuk pelajar SD dan SMP.

DONGENG DAPAT BERBENTUK

  • Fabel (cerita binatang)
  • Legenda (asal-usul terjadinya suatu tempat)
  • Sage (unsur sebuah sejarah)
  • Epos (kepahlawanan)
  • Cerita jenaka

SYARAT UMUM

  • Lomba dibuka tanggal 24 Juni 2017 hingga 20 Oktober 2017 pukul 23.59 WIB.
  • Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada malam puncak Bulan Bahasa 2017 di The Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 23 November 2017 dan di media sosial.   
  • Peserta adalah pelajar SD dan SMP (dibuktikan dengan surat keterangan dari sekolah atau kartu pelajar).
  • Dongeng ditulis dengan latar budaya nusantara, tidak diperbolehkan mengambil latar di luar nusantara.
  • Diperbolehkan untuk menceritakan ulang dongeng yang sudah ada sebelumnya dengan gaya penceritaan dan sudut pandang yang lain (misalnya membandingkan dongeng tersebut dengan zaman sekarang).
  • Dongeng tidak berpotensi menimbulkan masalah SARA.
  • Dongeng merupakan hasil karya sendiri (bukan plagiarisme).
  • Setiap karya yang merupakan plagiarisme bukan merupakan tanggung jawab panitia dan akan didiskualifikasi.
  • Naskah lomba belum pernah diikutsertakan dalam lomba apa pun sebelumnya.  
  • Hak publikasi setiap dongeng menjadi milik panitia.  
  • Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

SYARAT KHUSUS

  • Peserta mengisi form pendaftaran online pada https://docs.google.com/forms/d/e/1FAlpQLSebiuWZxYGx86VA6INqOAR3puuozII jAIBrQ8EYosclpcZGNg/viewform  
  • Peserta boleh mengirim lebih dari satu dongeng.
  • Dikenakan biaya pendaftaran Rp 25.000 per naskah.
  • Dongeng dapat ditulis tangan atau diketik.
  • Dongeng 2-4 halaman.
  • Jika ditulis tangan, dongeng dapat ditulis rapi menggunakan format yang dapat diunduh di web (format dicetak lalu ditulis tangan oleh peserta, setelah selesai, dongeng dapat dikirim via pos atau via email dengan melakukan scan terlebih dahulu terhadap naskah).
  • Jika diketik, menggunakan MS Word, kertas A4, huruf Times New Roman 12, spasi 1,5, margin normal, rata kanan-kiri, minimal 2-4 halaman).
  • Panitia menyediakan contoh dongeng yang telah diketik dan dapat diunduh di sini.
  • Melampirkan fotokopi atau scan Kartu Pelajar/Surat Keterangan dari Sekolah.
  • Melampirkan fotokopi atau scan bukti pembayaran pendaftaran.
  • Melampirkan biodata narasi (ceritakan siapa diri Anda) maksimal 100 kata pada lembar yang terpisah.
  • Mencantumkan nomor orang tua atau guru pembimbing (disarankan orang tua dan guru pembimbing ikut serta untuk membantu kegiatan administratif peserta didik).
  • Panitia menyediakan beberapa naskah dongeng untuk dapat dijadikan sebagai bahan referensi oleh peserta. Naskah dapat dilihat di bagian lampiran di bawah.

PENILAIAN DONGENG

  • Kreativitas dan inovatif
  • Nilai Didaktis (Nilai Positif, Pesan-pesan kebaikan)
  • Konten cerita (Fakta-fakta cerita: Karakter, Latar, Tema, Plot)
  • Ekspresi bahasa (Gaya Bahasa, Pilihan Kata/Diksi)
  • Keunikan

LAIN-LAIN

  • HADIAH PEMENANG LOMBA
Pemenang I   Rp 500.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang II    Rp 400.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang III    Rp 300.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang IV-X   Hadiah Khusus + Piagam Pemenang.

*Lima pemenang tambahan mendapatkan “E- Piagam Pemenang” sebagai lima naskah favorit.

*Naskah terbaik akan diterbitkan dalam buku antologi pemenang.

*Seluruh peserta mendapatkan E-Piagam Penghargaan.

TATA CARA PENDAFTARAN

  • Membayar biaya pendaftaran dengan transfer melalui salah satu rekening di bawah ini: 

BNI SYARIAH : a.n Pranatama Kesdihandaru 0425443677

BNI : a.n Tuhrotul Fu’adah 0503536879

BRI : a.n. Andre Wijaya 5259-01-009438-53-3

Mandiri : a.n Bening Anisa 900-00-3882099-0

BCA   : a.n Siti Fatonah 4450870302

  • Mengirim berkas dan kelengkapan lomba melalui email menulisdongengbb17@gmail.com dengan subjek DONGENG_BB17_(NAMA), contoh DONGENG_BB17_ANDRE WIJAYA
  • Berkas dan kelengkapan lomba (termasuk naskah sebanyak 3 rangkap) dapat juga dikirim langsung ke sekretariat panitia Bulan Bahasa UGM 2017, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta. 52281. Mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera.
  • Pendaftaran juga bisa langsung dilakukan di stand pendaftaran lomba Bulan Bahasa 2017 (mohon membuat janji terlebih dahulu dengan narahubung yang tertera).  Info lebih lanjut hubungi Lely HP/WA : 08157675138 dan ID Line : whynrlaili2

Rincian acara dan informasi lainnya:

Website : kmsi.fib.ugm.ac.id  
Facebook : Bulan Bahasa UGM
Twitter : @bulanbahasaugm
Line : @JGG7917F
Instagram : @bulanbahasaugm
YouTube : KMSI UGM

 

LAMPIRAN

(Contoh dongeng untuk dijadikan referensi bagi peserta)

TIMUN EMAS (Dongeng dari Jawa Tengah)

Pada zaman dahulu kala, ada seorang janda yang sudah tua. Ia bertemu raksasa di hutan. Raksasa itu memberi biji mentimun kepada Mbok Rondo. Dari timun itu akan muncul anak perempuan. Jika anak itu sudah berusia enam tahun, raksasa akan datang memakannya. Mbok Rondo segera pulang dan menanam benih itu di halaman belakang. Dua minggu kemudian, tanaman itu sudah berbuah. Di antara buah mentimun yang tumbuh, ada satu buah yang sangat besar. Warnanya kekuningan. Kalau tertimpa sinar matahari, buah itu berkilau seperti emas. Mbok rondo memetik buah yang paling besar itu. Mbok Rondo mengambil pisau dan membelah buah itu. Lalu, ia membukanya dengan hati-hati. Astaga. Ternyata ada seorang bayi perempuan yang cantik!

Mbok Rondo sangat gembira. Ia menamakan bayi mungil itu Timun Emas. Hari, bulan, dan tahun pun berganti. Timun Emas tumbuh menjadi seorang gadis jelita. Mbok Rondo sangat menyayangi Timun Emas. Pada tahun keenam sebelum raksasa itu datang, suatu malam ketika Mbok Rondo sedang tidur, ia mendengar suara gaib dalam mimpinya. “Hai, Mbok Rondo, kalau kau ingin anakmu selamat, mintalah bantuan kepada seorang pertapa di bukit Gandul.”

Esok harinya, Mbok Rondo pergi ke bukit Gandul. Di sana ia bertemu dengan seorang pertapa. Pertapa itu memberikan empat bungkusan kecil yang isinya biji timun, jarum, garam, dan terasi.

Mbok Rondo menerimanya dengan rasa heran. Sang pertapa menerangkan khasiat benda-benda itu. Sesampainya di rumah, ia menceritakan perihal pemberian pertapa itu kepada Timun Emas.

Esok harinya pagi-pagi sekali, bumi berguncang pertanda raksasa datang. “Ho… ho…

ho… Mana Timun Emas! Ayo, cepat serahkan dia padaku. Aku sudah sangat lapar!” kata raksasa dengan suara menggelegar.

Mbok Rondo segera mengambil bungkusan pemberian sang pertapa, kemudian diberikan kepada Timun Emas. “Anakku, bawalah bekal ini. Pergilah lewat pintu belakang sebelum raksasa itu menangkapmu.”  

“Mbok Rondo, mana Timun Emas?!” Suara raksasa itu terdengar tidak sabar.

“Maafkan aku, Raksasa. Timun Emas ternyata sudah pergi.”

 


           “Apa kau bilang?” geram raksasa itu. Namun berkat kesaktiannya, raksasa itu dapat melihat Timun Emas yang sedang melarikan diri. Tanpa berkata-kata lagi, si raksasa langsung mengejar Timun Emas. Karena terus menerus berlari. Timun Emas mulai kelelahan. Dalam keadaan terdesak, Timun Emas teringat akan bungkusan pemberiaan sang pertapa. Cepat ia taburkannya biji mentimun di sekitarnya. Sungguh ajaib. Mentimun itu langsung tumbuh dengan lebat. Buahnya besar-besar. Raksasa itu berhenti ketika melihat buah mentimun terhampar di hadapannya. Dengan rakus ia segera melahap buah yang ada, sampai tak satu pun tersisa. Setelah kenyang, raksasa itu kembali mengejar Timun Emas. Pada saat itu juga, Timun Emas membuka bungkusan dan menaburkan jarum jam ke tanah. Sungguh ajaib! Jarum-jarum itu berubah menjadi hutan bambu yang lebat.

Raksasa itu berusaha menembusnya. Namun tubuh dan kakinya terasa sakit karena tergores dan tertusuk bambu yang patah. Ia pantang menyerah. Dan berhasil melewati hutan bambu itu dan terus mengejar Timun Emas.

“Hai, Timun Emas, jangan harap kamu bisa lolos!” Seru si raksasa sambil membungkuk untuk menangkap Timun Emas. Dengan sigap, Timun Emas melompat ke samping dan berkelit menghindar. “Oh, hampir saja aku tertangkap,” Timun Emas terengah-engah. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Ia ingat pada bungkusan pemberian pertapa yang tinggal dua itu. Isinya garam dan terasi.

Ia segera membuka tali pengikat bungkusan garam. Garam itu ditaburkan ke arah si raksasa. Seketika butiran garam itu berubah menjadi lautan. Raksasa itu sangat terkejut. Raksasa itu terus mengejar. Timun Emas melemparkan isi bungkusan yang terakhir. Terasi itu langsung dilemparkan ke arah si raksasa. Tiba-tiba saja terbentuklah lautan lumpur yang mendidih.

Raksasa itu terkejut sekali. Dalam sekejap, tubuhnya ditelan lautan lumpur. Dengan segala upaya, ia berusaha menyelamatkan diri. Ia meronta-ronta. Tapi, usahanya sia-sia. Tubuhnya pelan-pelan tenggelam ke dasar. Kini Timun Emas bisa bernapas lega karena selamat dari bahaya maut. Ia segera berjalan ke arah rumahnya. Di kejauhan nampak Mbok Rondo berlari ke arah Timun Emas kiranya wanita itu mengkhawatirkan keselamatan anaknya.   

SUMBER

Angelia, Yustitia. Kumpulan Cerita Rakyat 33 Provinsi. Yogyakarta: Lingkar Media.  

 

KEBO IWA (Cerita Legenda dari Pulau Bali)

Kebo Iwa adalah seorang raksasa bertubuh besar. Tubuhnya gendut dan doyan makan. Makin hari tubuhnya bertambah besar. Makannya banyak sekali. Ia suka membantu penduduk desa membuat rumah, mengangkat batu besar dan membuat sumur. Ia tidak meminta imbalan apa-apa, hanya saja penduduk desa harus menyediakan makanan yang cukup untuknya.  

Jika sampai dua hari Kebo Iwa tidak makan, maka ia akan marah. Jika marah, ia akan merusak apa saja yang ada di depannya. Tak peduli pura atau rumah akan dirusaknya. Kebun dan sawah juga akan dirusaknya.

Karena tubuhnya sangat besar, makannya pun sangat banyak. Porsi makan Kebo Iwa sama seperti menyiapkan makanan 100 orang. Walaupun penduduk desa sudah tidak membutuhkan tenaganya, mereka harus menyiapkan makan untuk Kebo Iwa. Karena jika Kebo Iwa lapar, ia akan marah dan menghancurkan apa saja.

Karena tibalah musim kemarau, semua lumpung padi milik penduduk mulai kosong. Beras dan bahan makanan lain sulit diperoleh. Setelah sekian lama, hujan tidak kunjung datang. Penduduk mulai khawatir keadaan Kebo Iwa. Jika ia lapar maka ia pasti akan mengamuk.   Benar saja kekhawatiran penduduk. Kebo Iwa merasa lapar, tapi makanan belum siap karena persediaan penduduk desa sudah habis. Jangankan untuk Kebo Iwa, untuk mereka sendiri saja sudah tidak ada.

Kebo Iwa pun marah dan mengamuk. Ia menghancurkan rumah-rumah penduduk. Pura sebagai tempat ibadah juga tidak luput dari amukan Kebo Iwa.  

Penduduk melarikan diri ke desa tetangga. Tapi kebo Iwa tetap mengejar sambil berteriak-teriak, “Mana makanan untukku? Atau kalian lebih suka kuhancurkan!”

Kebo Iwa semakin ganas. Ia tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memakan hewan-hewan ternak milik penduduk. Para penduduk pun juga menjadi korban keganasan Kebo Iwa.

Melihat kerusakan yang ditimbulkan Kebo Iwa maka penduduk menjadi kesal dan marah. Mereka mengatur siasat untuk membunuh Kebo Iwa. Mereka mengajak Kebo Iwa berdamai. Dengan segala cara akhirnya mereka bisa mengumpulkan makanan yang banyak lalu mendekati Kebo Iwa.

Pada saat itu Kebo Iwa baru saja menyantap seekor kerbau. Ia kekenyangan dan berbaring di atas rumput.

“Hai Kebo Iwa…..!” tegur kepala desa.

“Ada apa? Mau apa kalian mendekatiku?” tanya Kebo Iwa dengan curiga.

“Sebenarnya kami masih membutuhkan tenagamu. Rumah-rumah dan pura banyak yang kau hancurkan. Bagaimana kalau kau membantu kami membangunnya kembali. Kami akan menyediakan makanan yang banyak untukmu sehingga kau tak kelaparan lagi.” kata kepala desa.

“Makanan…? kalian akan menyediakan makanan yang enak untukku?” mata Kebo Iwa berbinar mendengar kata makanan.

“Aku setuju… aku akan membantu kalian.”

“Tapi kau juga harus membantu kami membuatkan sumur besar karena kebutuhan air penduduk semakin meningkat.”

Kebo Iwa senang dan tidak curiga sedikit pun. Keesokan harinya, Kebo Iwa mulai bekerja. Dengan waktu yang terhitung singkat, beberapa rumah selesai dikerjakan oleh Kebo Iwa. Sementara itu, para warga sibuk mengumpulkan batu kapur dalam jumlah besar. Kebo Iwa merasa bingung mengapa para warga sangat banyak mengumpulkan batu kapur. Padahal kebutuhan batu kapur untuk rumah dan pura sudah cukup.  

“Mengapa kalian mengumpulkan batu kapur begitu banyak?” tanya Kebo Iwa.  “Ketahuilah Kebo Iwa. Setelah kamu selesai membuat rumah dan pura milik kami, kami akan membuatkanmu rumah yang besar dan sangat indah. “ kata kepala desa.  Kebo Iwa sangat senang mendengarnya. Hanya dalam beberapa hari, rumah-rumah dan pura milik penduduk selesai dikerjakan. Pekerjaannya hanya tinggal menggali sumur besar. Pekerjaan ini memakan waktu cukup lama dan memerlukan lebih banyak tenaga. Kebo Iwa menggunakan kedua tangannya yang besar dan kuat untuk menggali tanah sampai dalam. Semakin hari lubang yang dibuatnya semakin dalam. Tubuh Kebo Iwa pun semakin turun ke bawah. Tumpukan tanah bekas galian yang berada di mulut lubang pun semakin menggunung. Karena kelelahan, Kebo Iwa berhenti untuk istirahat dan makan. Ia makan sangat banyak. Karena kelelahan setelah makan, ia mengantuk. Ia pun tidur dengan mengeluarkan suara dengkuran yang sangat keras.

Suara dengkuran Kebo Iwa terdengar oleh penduduk yang sedang berada di atas sumur. Akhirnya, para penduduk segera berkumpul di tempat lubang sumur tersebut. Mereka melihat Kebo Iwa sedang tertidur pulas di dalamnya. Pada saat itulah kepala desa memimpin warganya untuk melemparkan batu kapur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya ke dalam sumur.

Karena tertidur lelap, Kebo Iwa tidak menyadari dirinya dalam bahaya.

Ketika air di dalam sumur yang bercampur kapur sudah mulai meluap dan menyumbat hidung Kebo Iwa, barulah raksasa itu tersadar. Namun, lemparan batu kapur para warga semakin banyak. Kebo Iwa tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun memiliki badan sangat besar dan tenaga yang sangat kuat, ia tidak mampu melarikan diri dari tumpukan kapur dan air sumur yang kemudian menguburnya hidup-hidup. Kebo Iwa menggelepar-gelepar selama beberapa saat, gerakannya menimbulkan gempa sesaat tetapi kemudian reda dan diam. Kiranya Kebo Iwa telah tewas di dalam sumur.

Sementara itu air sumur semakin lama semakin meluap. Air sumur itu membanjiri desa dan membentuk danau. Danau itu kini dikenal dengan nama Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah yang cukup tinggi membentuk bukit menjadi sebuah gunung dan disebut Gunung Batur.

SUMBER

Angelia, Yustitia. Kumpulan Cerita Rakyat 33 Provinsi. Yogyakarta: Lingkar Media.

 

SANGKURIANG SAKTI (Cerita Legenda dari Jawa Barat)

Pada zaman dahulu kala ada seorang putri cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Pada suatu hari ketika ia sedang menenun kain, pintalan benangnya terjatuh, sedang ia berada di atas ketinggian. Ia merasa malas untuk mengambil pintalan benang itu. Iseng ia berkata, “Siapa yang bisa mengambilkan benangku jika perempuan akan kujadikan saudara, jika lelaki kujadikan suamiku”.  

Tak disangka Tumang si anjing istana mengambilkan benang itu dan membawanya ke hadapan Dayang Sumbi. Dayang Sumbi kaget sekali. Ia teringat akan ucapannya sendiri. Maka ia menikah dengan Tumang si anjing penjaga istana.

Tumang ternyata adalah titisan dewa yang dikutuk menjadi seekor anjing dan dibuang ke bumi. Dayang Sumbi akhirnya mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sayangnya Sangkuriang tidak mengetahui bahwa si Tumang adalah ayahnya.

Pada suatu hari Sangkuriang berburu ke hutan, tapi ia tak mendapat hewan. Karena marah ia membunuh si Tumang dan dagingnya dibawa pulang. Ibunya marah, kepala Sangkuriang dipukul dengan gayung hingga terluka dan berdarah. Sangkuriang melarikan diri, mengembara tak tentu arah.

Konon ia sering berguru kepada orang-orang berilmu tinggi sehingga ketika dewasa Sangkuriang menjadi sakti. Demikian saktinya ia sehingga jin dan makhluk halus lainnya dapat ia kuasai. Kemudian ia mengembara lagi. Sementara sepeninggal Sangkuriang, Dayang Sumbi bertapa di tempat sunyi, sehingga Dewa memberinya kecantikan abadi, wajahnya dan tubuhnya tetap ayu dan awet muda.

Dalam pengembaraannya, di pinggir sebuah hutan ia bertemu dengan seorang gadis cantik. Keduanya saling berkenalan dan sama-sama jatuh cinta. Pada suatu hari mereka sedang bercengkrama, si gadis mencari kutu di kepala Sangkuriang. Tiba-tiba si gadis terkejut melihat luka di kepala kekasihnya. Ia menanyakan sebab-sebab terjadinya luka itu. Sangkuriang menceritakan apa adanya.  

“Kalau begitu kau adalah Sangkuriang anakku sendiri!” pekik gadis itu yang tak lain adalah Dayang Sumbi. “Tidak mungkin aku menikah dengan anakku sendiri” kata Dayang Sumbi. Sangkuriang tak percaya dan terus mendesak agar Dayang Sumbi mau jadi istrinya. Dayang Sumbi minta dibuatkan telaga dan perahu di puncak gunung. Harus selesai dalam waktu semalam. Sangkuriang menyanggupi. Dibantu para jin ia membuat telaga. Namun Dayang Sumbi membuat muslihat, tengah malam ia membunyikan lesung hingga ayam semua berkokok.

Para penduduk ikut terbangun dan segera menumbuk padi. Para jin yang membantu Sangkuriang mengira hari sudah hampir pagi. Mereka menghentikan pekerjaannya membuat telaga yang belum selesai. Sangkuriang marah. Pemuda sakti ini menendang perahu yang dibuatnya, ketika tertelungkup ke bumi, perahu itu berubah menjadi sebuah gunung.  

Sesudah itu ia mendekati ke arah Dayang Sumbi. “Aku tak peduli, apapun yang terjadi kau harus menjadi istriku….!”

“Sangkuriang sadarlah, kau adalah anakku sendiri!” pekik Dayang Sumbi sembari berlari menjauh. Sangkuriang datang mengejar. Blar! Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh Dayang Sumbi lenyap tanpa bekas. Sangkuriang berteriak-teriak seperti orang gila.

Konon Nyi Dayang Sumbi diselamatkan oleh para Dewa, bagaimanapun para Dewa tidak mengizinkan seorang anak mengawini ibunya sendiri. Ia dijadikan ratu makhluk halus di laut selatan dan masyarakat mengenalnya sebagai Nyi Roro Kidul.

Sementara itu, perahu yang ditendang Sangkuriang lama-lama berubah menjadi bukit dan kemudian menjadi gunung yang besar. Gunung itu hingga sekarang dinamakan gunung Tangkuban Perahu.

SUMBER

Angelia, Yustitia. Kumpulan Cerita Rakyat 33 Provinsi. Yogyakarta: Lingkar Media.  

 

RAJA ULAR DAN KERBAU

Pada suatu hari ada seekor kerbau sedang makan rumput di dekat pinggir hutan.

Tiba-tiba, datanglah seekor ular besar dan dia adalah raja ular. Ular ini berkata kepada kerbau, “Hai kerbau, sebenarnya badan kamu cukup besar lagi bertanduk. Tidak ada yang bisa melawanmu, tetapi mengapa kamu membiarkan hidungmu dicocok dan ditarik oleh manusia?” Kerbau menjawab lalu katanya, “Sebenarnya manusia itu pintar dan berakal, pemikirannya tidak terjangkau dan tidak ada yang dapat menyamainya” Ular menyambung lagi dan berkata, “Cobalah panggil manusia itu supaya saya dapat melihat dan menyaksikan kemampuan dan kebolehannya.”

Kerbau pergi memanggil manusia dan membawanya untuk datang. Dalam pertemuan ini ular menyapa kepada manusia, “Cobalah perlihatkan kepadaku kebolehan dan kemampuanmu, sesudah itu akan kuperlihatkan pula kepadamu kejagoanku.” Dalam pertemuan ini sebenarnya ular bermaksud memanggil manusia dan manusia akan ditelannya kalau sudah datang. Dalam adu pikiran dan kejagoan ini manusia lebih dahulu meminta kepada ular supaya memperlihatkan bagaimana seharusnya ia berdempet dengan batang kayu yang terlentang di depannya. Kemudian ular memperagakan permintaan manusia dengan berimpit bersama batang kayu yang terlentang di depannya. Pada saat ular melakukan peragaan, maka manusia itu langsung mengikat ular dengan rotan sebanyak dua belas ikatan sehingga ular tidak dapat lepas, bahkan bergerak pun sukar sekali. Jadi, dalam adu ketangkasan dan pikiran ini ular sudah dikalahkan oleh kelicikan manusia.

Melihat peristiwa ini, datanglah kerbau menertawakan ular yang sudah terikat erat dengan rotan seraya ia berkata, “Sekarang sudah kamu rasakan dan alami akan kebolehan dan ketangkasan manusia itu.” Kerbau tertawa terus sambil melihat ular yang angkuh kepadanya sehingga ia tidak dapat merasakan bahwa air ludahnya mengalir keluar terus-menerus yang mengakibatkan giginya pada rahang atas terjatuh semua. Itulah sebabnya sampai sekarang kerbau tidak mempunyai gigi pada rahang atasnya. Kemudian ular tidak menggerakkan badannya di batang pohon kayu dan akhirnya ia pun mati.

Demikian akhir cerita ini.  

SUMBER

Mustari. 1999. Kumpulan Cerita Fabel Sulawesi Selatan. Jakarta: Pusat  Pembinaan  dan Pengembangan Bahasa.

 

LOMBA 5

VIDEO PUISI

SYARAT UMUM

  • Lomba dibuka tanggal 24 Juni 2017 hingga 20 Oktober 2017 pukul 23.59 WIB.
  • Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada malam puncak Bulan Bahasa 2017 di The Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 23 November 2017 dan di media sosial.   
  • Peserta adalah umum (setiap orang dapat berpartisipasi dan tidak dibatasi usia).
  • Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
  • Peserta adalah individu atau tim (maksimal 6 orang).
  • Naskah puisi telah disediakan oleh panitia dan dapat diunduh di sini.
  • Video puisi tidak berpotensi menimbulkan masalah SARA ataupun golongan tertentu.
  • Video puisi yang merupakan plagiarisme bukan merupakan tanggung jawab panitia dan akan didiskualifikasi.
  • Hak publikasi setiap video menjadi milik panitia. Panitia dapat memanfaatkan video puisi maksimal durasi pemakaian untuk proses publikasi dan penjurian lima video favorit.
  • Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

SYARAT KHUSUS

  • Peserta mengisi form pendaftaran online pada https://docs.google.com/forms/d/e/1FAlpQLSebiuWZxYGx86VA6INqOAR3puuozII jAIBrQ8EYosclpcZGNg/viewform  
  • Peserta boleh mengirim lebih dari satu video puisi.
  • Dikenakan biaya pendaftaran Rp 60.000 per video.
  • Durasi video puisi maksimal 5 menit.
  • Format video puisi mp4.
  • Kualitas video nimimal 720p.
  • Referensi berupa lagu, gambar, dan puisi harus dicantumkan (naskah puisi telah disediakan panitia).
  • Video diunggah ke YouTube dengan menandai akun YouTube KMSI UGM.
  • Diperbolehkan mengunggah video ke Instagram dengan menandai akun Instagram @bulanbahasaugm
  • Format subjek video puisi pada YouTube adalah JUDUL PUISI_LOMBA VIDEO PUISI BB UGM 2017.
  • Pada deskripsi video YouTube ditulis “Video puisi yang berjudul (diisi judul puisi) sedang mengikuti Lomba Video Puisi Bulan Bahasa UGM 2017”.
  • Mengirim alamat URL video, deskripsi video, tangkapan layar video yang diunggah, seluruh data diri anggota tim, dan nama tim (jika ada) ke email v.puisibb17@gmail.com beserta fotokopi atau scan Kartu

Pelajar/Mahasiswa/SIM/KTP, bukti pembayaran pendaftaran, dan melampirkan data diri berupa alamat, nomor telepon atau WhatsApp yang dapat dihubungi, dan alamat email.

PENILAIAN VIDEO PUISI

  • Kreativitas (Olahan Visual dan Audio).
  • Koherensi Isi Video dengan Puisi.
  • Alur, Penokohan, dan Ketersampaian Pesan Video.

LAIN-LAIN

  • HADIAH PEMENANG LOMBA
Pemenang I   Rp 2.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang II    Rp 1.500.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang III    Rp 1.000.000 + Plakat Penghargaan + Piagam Pemenang.
Pemenang IV-X Hadiah Khusus + Piagam Pemenang.

*Lima pemenang tambahan mendapatkan “E- Piagam Pemenang” sebagai lima video favorit, dilihat dari views dan likes terbanyak pada akun YouTube KMSI UGM.

*Video terbaik akan diputar pada Malam Puncak Bulan Bahasa UGM yang dilaksanakan di The Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

*Seluruh peserta mendapatkan E-Piagam Penghargaan.

TATA CARA PENDAFTARAN

  • Membayar biaya pendaftaran dengan transfer melalui salah satu rekening di bawah ini:

BNI SYARIAH : a.n Pranatama Kesdihandaru 0425443677

BNI : a.n Tuhrotul Fu’adah 0503536879

BRI : a.n. Andre Wijaya 5259-01-009438-53-3

Mandiri : a.n Bening Anisa 900-00-3882099-0

BCA   : a.n Siti Fatonah 4450870302

  • Info lebih lanjut hubungi Andre WA : 08122950894 dan ID Line : adrewjyy  Rincian acara dan informasi lainnya:
Website : kmsi.fib.ugm.ac.id  
Facebook : Bulan Bahasa UGM
Twitter : @bulanbahasaugm
Line : @JGG7917F
Instagram : @bulanbahasaugm
YouTube : KMSI UGM

 

LAMPIRAN NASKAH PUISI

Naskah Puisi 01

SATU

Sutardji Calzoum Bachri

kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku jika tanganmu tak bisa bilang tanganku kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu jika jari jemarimu tak bisa memetikku ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku kalau darahmu tak bisa mengucap darahku jika ususmu belum bisa mencerna ususku kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu kalau kelaminmu belum bilang kelaminku

aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu arwah kita satu walau masing jauh

yang tertusuk padamu berdarah padaku

(Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O Amuk Kapak. Jakarta: Sinar Harapan) Naskah Puisi 02

 

Naskah Puisi 02

CATATAN MASA KECIL 2

Sapardi Djoko Damono

Ia mengambil jalan pintas dan jarum-jarum rumput berguguran oleh langkahlangkahnya. Langit belum berubah juga. Ia membayangkan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga lalu berpikir apakah burung yang tersentak dari ranting lamtara itu pernah menyaksikan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkammenerkam. Langit belum berubah juga. Angin begitu ringan dan bisa meluncur ke mana pun dan bisa menggoda laut sehabis menggoda bunga tetapi ia bukan angin dan ia kesal lalu menyepak sebutir kerikil. Ada yang terpekik di balik semak. Ia tak mendengarnya.

Ada yang terpekik di balik semak dan gemanya menyentuh sekuntum bunga lalu tersangkut pada angin dan terbawa sampai ke laut tetapi ia tak mendengarnya dan ia membayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir hujan. Ia sampai di tanggul sungai tetapi mereka berjanji menemuinya ternyata tak ada. Langit sudah berubah. Ia memperhatikan ekor srigunting yang senantiasa bergerak dan mereka yang berjanji mengajaknya ke seberang sungai belum juga tiba lalu menyaksikan butir-butir hujan mulai jatuh ke air dan ia membayangkan mereka tiba-tiba mengepungnya dan melemparkannya ke air.

Ada yang memperhatikannya dari seberang sungai tetapi ia tak melihatnya. Ada.  

(Damono, Sapardi Djoko. 2015. Hujan Bulan Juni. Jakarta: PT Gramedia Pustaka)

 

Naskah 03

SAJAK JOKO TOBING UNTUK WIDURI

W.S Rendra

dengan latar belakang gubug-gubug karton, aku terkenang akan wajahmu. di atas debu kemiskinan, aku berdiri menghadapmu. usaplah wajahku, Widuri. mimpi remajaku gugur di atas padang pengangguran. Ciliwung keruh, wajah-wajah nelayan keruh, lalu muncullah rambutmu yang berkibaran kemiskinan dan kelaparan, membangkitkan keangkuhanku. wajah indah dan rambutmu menjadi pelangi di cakrawalaku.

(W.S Rendra. Potret Pembangungan dalam Puisi)

 

Naskah Puisi 04

TOPENG

Sapardi Djoko Damono

untuk Danarto

/1/

Ia gemar membuat topeng. Dikupasnya wajahnya sendiri satu demi satu dan digantungkannya di dinding. “Aku ingin memainkannya,” kata seorang sutradara.

Malam hari, ketika lakon dimainkan, ia mencari wajahnya sendiri di antara topengtopeng yang mendesah, yang berteriak, yang mengaduh: tapi tak ada. Ternyata ia masih harus mengupas wajahnya sendiri satu demi satu.

/2/  

“Di mana topengku?” tanyanya, entah kepada siapa. Dalam kamar rias: cermin retak, pemerah pipi, dan bedak berceceran di mana-mana; dan tak ada topeng. “Di mana topengku?’ tanyanya. Tegangan listrik yang rendah, sarang laba-laba di langit-langit, dan obat penenang di telapak tangan. Tak ada topeng itu. Mungkin maksud sutradara: Sang Tiran harus menciptakan topeng dari wajahnya sendiri.

/3/

Tapi topeng tak boleh menjelma manusia: ia, tentu saja, hafal sabda raja dan sekarat hulubalang. Ia kenal benar sorot mata dan debar jantung penonton. Ia, ya Allah, tak pernah tercantum dalam buku acara, tak menerima upah, dan digantung saja di dinding jika lakon usai. Tinggal berdua di belakang panggung yang ditinggalkan, sutradara tak juga menegurnya. Ia tak berhak menjadi manusia.

(Hujan Bulan Juni, Grasindo, 1994)

Naskah Puisi 05

SAJAK PUTIH

Chairil Anwar

Buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi kau depanku bertudung sutra senja di hitam matamu kembang mawar dan melati

harum rambutmu mengalun bergelut

senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba meriak muka air kolam jiwa dan dalam dadaku memerdu lagu

menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka selama matamu bagiku menengadah selama kau darah mengalir dari luka antara kita Mati datang tidak membelah…

buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri, dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!

kucuplah aku terus, kucuplah dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

(Anwar, Chairil. 2011. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *