Kampung Buku Jogja #3: Bukan Sekadar Pameran Buku Mahal

Posted: 12 October 2017 by Bagus Panuntun

Apa yang paling kita harapkan dari sebuah pameran buku? Barangkali buku-buku murah adalah jawabannya. Satu minggu lalu, tepatnya di awal bulan Oktober, saya baru saja menyambangi Bazar Buku Murah di Mungkid, Magelang. 2 jam berada di sana menjadi waktu yang kelewat mengasyikkan. Saya berada di tengah ribuan buku yang dijual mulai harga 5.000-an. Beruntungnya, saya bisa mendapat buku The Boy in the Striped Pijamas karya John Boyne terbitan Vintage Classics, Skandal karya Shusaku Endo, dan satu novel berjudul Neraka Kamboja yang ditulis oleh Haing Ngor dan Roger Warner untuk menceritakan masa tergelap negeri Kamboja di bawah kekuasaan Khmer Merah. Dua buku yang disebut terakhir sama-sama diterbitkan Gramedia pada awal 2000-an. Berapa harga untuk tiga buku tersebut? Jawabannya adalah: 30.000 rupiah. Yak 30.000 rupiah ! Setara dengan harga celana kolor berbahan saringan tahu.

Lantas ketika satu minggu berikutnya saya mendengar kabar tentang Kampung Buku Jogja, saya pun begitu bersemangat untuk datang ke pameran tersebut. Angan-angan untuk mendapat buku-buku lawas nan langka dengan harga terjangkau seketika membuncah begitu kabar tersebut datang. Kampung Buku Jogja sendiri adalah event sastra tahunan yang sebelumnya telah dilaksanakan dua kali. Untuk perhelatan yang ketiga ini, Kampung Buku Jogja atau biasa disebut KBJ dihelat di area Foodpark Lembah UGM mulai tanggal 4 sampai 8 Oktober 2017.

Saya datang ke KBJ pada hari ketiga. Begitu tiba di lokasi, para pengunjung disambut oleh lima mahaguru yang secara mengejutkan berkostum à la rakjat Indonesia. Para kakung memakai kaos oblong dan sarungan, sementara yang putri memakai kemben dan kebaya. Para mahaguru tersebut adalah Albert Camus, Haruki Murakami, Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Karl Marx. Mereka berjajar berlima bagaikan Power Ranger yang hendak membasmi segala kejumudan dan kebodohan di Indonesia. Tentu saja mereka tidak hadir langsung dalam bentuk fisik. Murakami kita tahu tengah sibuk bersimpuh pasrah menunggu penghargaan nobel sastra jatuh ke tangannya. Murakami adalah Leonardo Di Caprio-nya dunia sastra. Sementara itu, empat mahaguru yang lain telah mati sejak berpuluh bahkan beratus tahun lalu. Akan tetapi, di KBJ mereka datang sebagai ikon di photobooth yang barangkali menjadi simbol ing ngarsa sung tuladha bagi murid-muridnya yang datang seperti saya.

Setelah berswafoto di  photobooth yang yahud tadi, pengunjung selanjutnya bisa melihat tiga suguhan utama dalam acara ini: area buku lawas, area buku indie, dan panggung utama. Tepat ketika saya memilih melihat-lihat ribuan koleksi di area buku lawas, harapan awal saya datang ke KBJ langsung sirna. “Bajigur, bukune larang-larang tenan”, batin saya. Bayangkan saja, satu buku Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra dijual seharga 250.000. Sementara, buku Keluarga Gerilya bahkan dijual seharga 800.000. Sementara rata-rata buku lawas lainnya dijual di atas 60.000 rupiah. Harga yang kurang ramah bagi saya. Harga tersebut sebenarnya masih bisa kita maklumi mengingat sebagian besar buku yang dijual di situ memang merupakan koleksi langka. Sayangnya, saya menemukan beberapa buku yang hingga hari ini masih dicetak ulang seperti 1984-nya George Orwell dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer yang dijual di atas harga normal, bahkan 50 persen lebih mahal dalam harga normal. Asem. Di titik inilah seorang kawan bahkan berseloroh “Ini mah bukan Kampung buku Jogja, tapi Mall buku Jogja”.

Kekecewaan saya di area buku lawas sedikit terobati ketika saya berkunjung ke area buku Indie. KBJ 2017 benar-benar menjadi surga bagi para pecinta buku Indie. Panitia KBJ tahun ini tak hanya mengundang penerbit-penerbit kondang asal Jogja namun juga mengundang penerbit-penerbit Indie dari berbagai daerah lain. Di area ini, kita bisa membeli buku-buku Indie yang bahkan sulit ditemukan di Toga Mas Affandi, seperti buku-buku Penerbit Banana, Trubadur, Ultimus, atau Daun Malam. Harga buku-buku yang dijual di area ini menurut saya juga cukup bersahabat. Rata-rata harga buku di sini dijual dengan diskon 10 persen dari harga normal. Saya mengira buku-buku indie terbaru seperti Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto, Dongeng dari Negeri Bola karya Yusuf Dalipin Arif, dan Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia karya Max Lane adalah tiga buku yang paling banyak diincar oleh para pembaca sastra di Jogja. Tak terkecuali saya.

Kamu boleh kecewa dengan mahalnya harga-harga buku lawas. Kekereanmu yang akut barangkali juga membuatmu makin muram dan menangis tatkala melihat harga buku-buku Indie yang lebih “mayor” daripada mayor itu sendiri. Namun kekecewaanmu akan segera terobati tatkala kamu berkunjung ke panggung utama Kampung Buku Jogja. Selama empat hari berturut-turut, panggung KBJ diisi oleh para pegiat literasi pilih tanding di bidangnya, mulai dari sosok sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, Puthut EA, dan Saut Situmorang, penulis esai-esai bola seperti Romo Sindhunata, Dalipin, dan Eddward Kennedy, para penerjemah seperti Max Lane, AN Ismanto dan Lutfi Mardiansyah, hingga para pegiat buku Indie Jogja seperti Adhe Maruf, Arif Doelz, Irwan Bajang dan Eka Pocer.

Jika saja waktu saya teramat senggang, barangkali saya akan hadir di setiap talkshow yang dihadirkan di panggung utama. Tapi saya bukan pengangguran full-time. Alhasil, saya hanya bisa hadir di talkshow kepenulisan esai bola dan diskusi buku Tak Ada Indonesia di Bumi Manusia karya Max Lane.

Sedikit bercerita, talkshow kepenulisan esai bola lebih banyak bercerita tentang perkembangan kepenulisan esai bola di Indonesia. Esai-esai bola di Indonesia sebenarnya dipelopori oleh Romo Sindhunata yang pada awal 90-an rutin menulis untuk harian Kompas. Romo Sindhunata sendiri tidak membahas bola dari segi analisa taktik atau strategi. Ia lebih sering membahas sepakbola dari apa yang terjadi di luar lapangan, menghubungkannya dengan teori-teori sosial-filsafat, hingga mencari benang merah antara sepak bola dengan pelbagai peristiwa politik di Indonesia. Salah satu hal menarik dari apa yang diceritakan Romo Sindhunata adalah ketika ia mengkritik gaya kepemimpinan Gus Dur dalam menghadapi “musuh-musuhnya” yang menurutnya terlalu catenaccio. Menurut Romo Sindhunata, sekali-kali Gus Dur perlu melakukan permainan menyerang à la Inggris atau Belanda. Tak disangka, Gus Dur justru membalas kritik Romo Sindhunata dengan menjelaskan filosofi catenaccio à la Gus Dur yang punya cara dan filosofi lain dibanding catenaccio Italia. Melihat kritiknya dibalas oleh Gus Dur, Romo Sindhunata hanya memberi satu tanggapan “Sampeyan sudah jadi presiden kok bisa masih sempat nulis bola, Gus?”.

Dalipin barangkali bisa disebut sebagai “Man of the match” di talkshow tersebut. Sebagai seorang penulis yang pernah tinggal 11 tahun di Inggris, Dalipin tak henti-hentinya menceritakan pelbagai “dongeng” dari negeri sepak bola tersebut. Ia menceritakan pengalamannya melihat berbagai fenomena sepakbola di Inggris yang barangkali jarang diliput media. Ia bercerita tentang sejarah kebencian fans Arsenal-Tottenham, tawuran fans Everton dengan jemaat gereja yang berebut tempat parkir, hingga kebiasaan para pemain bola Inggris yang literasinya rendah. Sementara itu, sebagai pembicara yang paling muda, Eddward S Kennedy lebih banyak bercerita tentang pengalamannya membaca karya-karya Sindhunata dan Dalipin yang menginspirasinya menulis esai-esai bola. Ia juga berpendapat bahwa dalam menulis esai sepak bola, seorang penulis tidak harus bersifat netral. Ia misalnya, tak jarang bersikap sebagai seorang “Milanista” ketika menulis suatu esai.

Di hari terakhir perhelatan Kampung Buku Jogja, saya kembali datang dan mengikuti diskusi buku Tak Ada Indonesia di Bumi Manusia yang dipimpin langsung oleh penulisnya, Max Lane. Max Lane sendiri adalah penerjemah 6 karya Pramoedya Ananta Toer ke bahasa Inggris. Hasil-hasil terjemahannya telah diterbitkan oleh penerbit Penguin. Dalam diskusi tersebut, Max mengatakan bahwa tak ada satu pun kata Indonesia dalam tetralogi Bumi Manusia. Meskipun demikian, Bumi Manusia merupakan upaya Pram untuk menjelaskan proses terbentuknya identitas Indonesia. Indonesia bagi Pram adalah “makhluk baru” di Bumi Manusia yang dibentuk rakyatnya sendiri namun dipengaruhi oleh andil dari dunia internasional. Ide tersebut ia tuangkan melalui karakter Minke, seorang pribumi asal Jawa, yang mengalami perkembangan pemikiran berkat karakter-karakter lain yang berasal dari luar Hindia. Sebut saja Jean Marais dan keluarga De la Croix yang memperkenalkannya dengan revolusi Prancis dan prinsip liberté, égalité, fraternité (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan) atau Khouw Ah Soe dan Ang San Mey yang mengajarkannya prinsip revolusi Dr. Sun Yat Sen dan pentingnya pergerakan angkatan muda.

2 hari mengunjungi Kampung Buku Jogja adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Terlepas dari kekecewaan saya tentang harga buku lawasan yang keterlaluan mahal, namun KBJ telah menggratiskan “buku” yang seharusnya jauh lebih mahal, yaitu buku-buku yang mewujud dalam sosok-sosok pegiat literasi yang hadir secara langsung di Kampung Buku Jogja. KBJ saya kira juga menunjukkan bahwa dunia perbukuan indie di Indonesia semakin menggeliat, buku-buku bermutu semakin banyak lahir, dan penulis-penulis muda semakin bermunculan.

Sebagai penutup, saya ingin menutup artikel ini sebagaimana sebuah artikel event pada umumnya. Ya, artikel ini akan ditutup dengan sebuah harapan: semoga Kampung Buku Jogja bisa digelar kembali di 2018 dengan Haruki Murakami asli sebagai bintang tamunya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *