Catatan tentang Penulis Muda dan Sastra Daring

Posted: 4 May 2018 by Cucum Cantini

Sudah hampir sepekan acara “Penulis Muda dan Sastra Daring” yang digelar di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta terlewat. Bukan karena pembukaan acara oleh lagu-lagu Padi yang membuat ingatan makin terngiang (Padi di concert hall, kami—kita di Ruang Seminar). Akan tetapi, fenomena urgensi dan estetika alih media: dari sastra internet (cyber) ke dalam bentuk cetak (print out) , sampai saat ini masih menghantui dunia perbukuan kita.

Berbekal mimpi-mimpi sederhana, ada kesamaan antara Teguh S. Pinang dan Andreas Nova, keduanya ingin memanfaatkan media internet sebagai wadah apresiasi kepenulisan. Meski, keduanya berada pada rezim yang berbeda, namun nyatanya tantangan masih sama. Di masa cybersastra.net masih berjaya, dan geliat penulis yang membabi-buta, kaum oposisi nyatanya tidak bisa terima pada saat itu, menurut Teguh, Republika menjadi salah satu media yang memberikan kritik sekaligus mewadahi sahut-menyahut-nya kaum cyber dan non-cyber (buku dan koran). Yang diperdebatkan adalah mengenai kuratorial sastra, memilih tulisan yang baik untuk dibaca dan layak untuk disebut sastra.

Berbeda dengan keadaan di tahun 2000-an dimana proses tulisan beralih ke dalam bentuk cyber masih sangat rumit dan tanpa interaksi langsung, di 2017 Nova dkk. kemudian membuat situs web Kibul (http://kibul.in) sebagai media yang memanfaatkan teknologi informasi yang tidak lagi rumit. Meski bukanlah media sastra dalam jaringan pertama, Kibul di ulang tahunnya yang pertama telah dengan berani mengadakan polling atas cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang pernah dipublikasikan setahun belakangan. Maka terjaringlah 16 penulis puisi dan 10 penulis cerpen untuk dibukukan. Alasan Nova untuk menerbitkan cerpen dan puisi atas dasar kedua rubrik tersebut lebih pendek secara kuantitas teks namun paling besar antusiasme dalam kepenulisannya.

Penulis-penulis terpilih dalam Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul lahir di antara tahun 1957 – 1998, yang artinya usia Kontributor Kibul berkisar antara 20 hingga 61 tahun. Hal lain yang tidak perlu dibahas dalam tulisan ini adalah tidak ada hubungannya dengan penulis muda, mengingat usia 61 tahun sulit untuk dikatakan demikian. Maka layaklah media semacam Kibul dikatakan merangkul karya-karya sastra yang tidak bertebaran di media-media cetak, memberikan peluang bagi penulis-penulis baru untuk berekspresi sebebas-bebasnya, menurut Nova.

Senada dengan Nova, Teguh S. Pinang menyadari bahwa media yang tidak memberlakukan aturan-aturan ketat, atau membebaskan penulis untuk berekspresi, memberikan estetika yang khas pada setiap konten tulisan. Ilmu-ilmu sastra yang mempelajari estetika sastra takkan mampu melampaui kreativitas dan imajinasi penulis dalam membuat karya sastra.

Dalam proses seleksi cerpen dan puisi Kibul 2017 sebelum mencetak buku antologi pertamanya, redaksi menyerahkan sepenuhnya pada hasil polling. Dalam hal ini, selera pembaca sangat memengaruhi nilai sastra yang akan diterbitkan. Meski sebelumnya, redaksi Kibul melakukan proses kuratorial pada naskah yang masuk melalui surel redaksi sebelum ditayangkan di situs webnya.

Masyarakat Indonesia mungkin masih terjangkiti stigma sastra adiluhung/kanon dan sastra populer dalam menilai sebuah sastra. Meskipun tak jarang pemahaman mereka hanya sebatas jumlah eksemplar, popularitas, serta tren-tren yang mengekorinya. Intitusi atau lembaga-lembaga kesusastraan yang berkepentingan memiliki kuasa untuk menyeleksi karya-karya yang tidak sejalan dengan ideologinya. Meski proses penulisan dan penyebaran yang demikian sudah lampau, sebelum penerbitan modern ala Belanda hadir di Indonesia, cara pandang masyarakat masih dihantui ketakutan berdosa jika membaca sastra populer.

Ada sedikit kekhawatiran Teguh selaku senior dalam sastra dalam jaringan, tidak hanya kepada Kibul tetapi juga kepada pegiat sastra cyber. Bahwa, sama halnya dengan sebuah unit kerja, Kibul harus memiliki manajerial yang kuat untuk bertahan dalam arus teknologi global. Akan ada wujud-wujud lain serupa Kibul yang mungkin akan lebih mutakhir dan bersponsor. Ini mengingatkan pada fenomena penerbitan indie dalam buku Declare! karya Adhe, bahwa banyak penerbit yang collapse karena terlampau idealis, dan penerbit yang makin besar namun hilang identitasnya karena terlalu komersil. Begitupun media-media yang hadir karena arus pop, Kibul harus menyiapkan dirinya dengan kekuatan manajemen yang tangguh. Menurut Teguh, berkomunitas adalah salah satu sarana untuk bersiap dengan segala halangan dan rintangan tersebut.

Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul yang pertama diberi judul Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup. Judul tersebut diambil karena cerpen tersebut meraih polling terbanyak di antara cerpen lainnya. Penulisnya merupakan asisten apoteker di salah satu apotek di Yogyakarta, yang sekilas mungkin tak mempelajari mengenai estetika sastra. Titis Anggalih selaku penulis cerpen tersebut mengakui belum pernah menulis sastra sebelum 2017. Dirinya belakangan aktif di komunitas Omah Aksara, yang aktif mempertemukan penulis-penulis berlatar belakang beragam profesi. Meski mengaku belum pernah menulis sastra, habitus Titis telah memahatnya menjadi sosok yang mengenal estetika sastra. Sejak dirinya kecil, sebelum tidur keluarganya telah mengajarkannya untuk mendengarkan kisah-kisah pengantar tidur, dan Titis menjadi member rental-rental buku yang 15 tahun yang lalu masih berjaya.

Kini setelah hilangnya jejak-jejak kios rental buku, Titis memanfaatkan internet untuk belajar, membaca, dan memahami dunia melalui literatur-literatur yang mudah diakses. Titis menyarankan kepada para pengguna internet untuk tidak hanya memanfaatkan media-media dalam jaringan untuk berekspresi, namun juga menggunakan sebaik-baiknya untuk belajar dan membaca fenomena-fenomena dunia dengan kemudahaan saat ini.

Cerpen Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup merupakan hasil Titis membaca informasi di media sosial mengenai perempuan yang membalurkan kotoran sapi pada kemaluannya untuk mencegah pelecehan seksual di Afrika. Dia kemudian menuliskan perasaannya atas fenomena tersebut, diramu dengan imajinasinya, lalu disampaikan dalam sebuah cerpen dan banyak pembaca yang ternyata mengapresiasi tulisan Titis.

Titis adalah satu di antara banyak penulis muda yang memahami, meski tidak menyadari, estetika sastra yang menurut Teguh S. Pinang hadir dari karakter pribadinya. Dan Titis berani menulis dan membagikannya setelah dirinya aktif berkomunitas. Komunitas sendiri melahirkan nilai-nilai kompetisi, inspirasi, serta motivasi bagi anggota-anggotanya. Meski bukan hal yang dianggap besar, buku Antologi Cerpen dan Puisi Kibul 2017, telah menjadi hal yang monumental bagi para penulisnya. Seperti halnya Pram berkata, orang boleh pandai setinggi langit tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. (*)

 

*Foto dokumentasi Studio Pertunjukan Sastra

This slideshow requires JavaScript.

Pendapat Anda: