Catatan Orang Dalam di #TahunBaruDiJBS

Posted: 11 January 2018 by Ifan Afiansa

Selepas mengerjakan tugas di minggu tenang, saya memacu motor menuju Gang Semangat di daerah Wijilan. Jika masih merasa asing dengan Kedai Jual Buku Sastra (JBS), dipastikan kau  tak akan pernah menghitung berapa jumlah rumah makan gudeg yang harus dilalui untuk sampai di sana. Ada sekitar delapan. Atau sepuluh? Entahlah. Sesampainya di sana, terlihat Indrian Koto—penyair, sang finalis kategori karya perdana di Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, sekaligus pemilik dari Kedai JBS. Saya disambut hangat sore itu, dan dipersilakan masuk ke dalam.

Tahun Baru di JBS Season 5 yang berlangsung dari 28 Desember 2018 sampai dengan 2 Januari 2018 menggaet Klub Buku Yogyakarta (KBY) sebagai partnership dalam pengerjaan workshop—yang menjadi salah satu rangkaian acara tahunan di Kedai JBS ini. Ada empat orang anggota KBY yang akan membantu dalam acara ini, yaitu saya sendiri, Olivia Hatim, Farrahnanda, dan Aziz A. Rifai. Setelah formasi lengkap, Bang Koto mulai menjabarkan satu per satu konsep acara yang beliau inginkan. Dalam seminggu, kami rapat dua kali, setiap rapatnya selalu diselingi oleh gorengan hangat dan kopi. Seperti tahun yang sudah-sudah, Tahun Baru di JBS juga menghadirkan pameran buku yang diikuti pelbagai penerbit indie, acara launching buku dan diskusi yang menghadirkan para penulis dan pegiat literasi. Sebutlah nama-nama beken seperti Joko Pinurbo, Bernard Batubara, Muhidin M. Dahlan, Bandung Mawardi, Eko Triono sebagai pemateri workshop. Nama-nama lainnya pun turut meramaikan acara tahunan ini, seperti Mahfud Ikhwan, Katrin Bandel, Kedung Dharma Romansha, Asef Saeful Anwar, Sinta Ridwan, Royyan Julian, dll.

Begitu satu per satu konsep rangkaian acara fixed dan proposal pameran buku disebar, di minggu ketiga bulan Desember, mulai berdatang kurir-kurir yang mengantarkan buku-buku dari penerbit, dan toko buku kecil itu mulai dipenuhi kardus-kardus coklat. Dimulailah para anggota KBY bersama Muharwi Mukal, Anik Setyaningrum, Chaerul Sabry, Achmad Sabil, dkk mulai menyortir, membuat katalog, dan melabeli harga tiap bukunya. Buku-buku yang sudah dilabeli diletakkan sisi utara dan sisi lainnya untuk tumpukan kardus. Terkadang jika satu kardus—yang rata-rata berisi 80-100an buku—selesai dilabeli, ada kelegaan sembari merenggangkan sendi-sendi yang pegal. Posisi saya saat itu lebih senang duduk bersandar membelakangi kardus, jadi saat melabeli tiap  buku, pemandangan saya adalah tumpukan buku yang sudah dilabeli berjejer, senang rasanya sudah menyelesaikan begitu banyak buku, begitu menoleh ke belakang, “oh, masih sepuluhan kardus.”

Ah, tanggal 28 semakin dekat saja, buku-buku juga masih saja banyak yang belum dibuat katalog dan dilabeli. Ada beberapa buku yang tidak disegerakan karena tidak ada list harga dari penerbit. Hal itu tentu cukup mengganggu kinerja kami. Saat buku-buku sudah sebagian besar dilabeli, lalu kami mulai mendisplai buku-buku tersebut di tempat-tempat sesuai arahan Bang Koto.

Dan dimulailah hari-hari #TahunBarudiJBS, setiap pagi diawali dengan workshop-workshop yang diisi oleh penulis dan penyair. Untuk workshop menulis novel diisi oleh Bernard Batubara, lalu dilanjutkan hari berikutnya dengan kelas kritik puisi oleh Bandung Mawardi, setelahnya kelas penulisan puisi oleh Joko Pinurbo, lalu penulisan resensi buku oleh Muhidin M. Dahlan, dan hari terakhir diisi oleh Eko Triono dalam kelas penulisan cerpen. Dari kursi kasir, saya mengamati para peserta memenuhi tiap kursi. Pelbagai jenis mimik saya perhatikan saat para pembicara menyampaikan materinya, wajah-wajah yang menyimak langsung ke pembicara, mata yang terus mengikuti ke mana pembicara berjalan, atau pun ada yang menyelingi dengan mengobrol dengan teman sebelah atau pun sekadar bermain handphone. Di sesi tanya jawab pun, peserta banyak mengajukan pertanyaan, baik berkaitan dengan proses kreatif hingga problematika kritik sastra dewasa ini. Pada sesi kelas penulisan puisi, Joko Pinurbo memberi kesempatan tiap peserta untuk menulis, membacakan puisi, dan diulas langsung oleh Joko Pinurbo. Begitu pun pada kelas penulisan resensi, Gus Muh (Muhidin M. Dahlan) memberikan waktu peserta cukup lama untuk menulis resensi buku, dan mendapatkan masukan langsung dari pemateri.

Begitu selesai workshop, peserta biasanya mendatangi displai buku-buku, buku-buku para pemateri biasanya langsung ludes dibeli saat itu. Seperti Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran karya terbaru Bernard Batubara, buku puisi Tahilalat dan Telepon Genggam karya Joko Pinurbo, ataupun kumcer eksperimental Eko Triono berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini. Saya sebagai kasir, dibantu oleh Muharwi Mukal, Aziz A. Rifai juga Fitriawan Nur Indrianto, cukup kewalahan menanggapi serbuan para pembeli. Kupikir menjadi kasir di toko buku itu menyenangkan. Pemikiran dangkal itu berubah, selama enam hari kami kerepotan jika kembalian habis, atau terkadang pembeli minta dicarikan buku-buku tertentu.

Pada sore hari, rangkaian acara dilanjutkan oleh launching dan diskusi buku. Sore itu menjadi lahan berkumpul para penulis dan pembacanya. Tiap-tiap penulis yang hadir disambut oleh pelbagai pertanyaan atau tanggapan pada karya yang didiskusikan. Saking serunya, bahkan ada beberapa sesi diskusi melewati waktu yang dijadwalkan. Kopi hangat dan donat selalu tersaji menemani tiap sesi diskusi. Selain diskusi, ada pula sesi pembacaan puisi atau penampilan musik kecil-kecilan.

Keseluruhan rangkaian acara #TahunBarudiJBS Season 5 berlangsung hangat dan menyenangkan. Dalam segi kuantitas, mungkin tidak seramai pertunjukkan musik atau pun hiburan urban lainnya. Seperti halnya acara bernapaskan sastra dan buku lainnya, mengalami dan merayakan sastra bersama penulis, penggiat sastra dan pembaca merupakan hal selalu meninggalkan kesan dan membahagiakan. Dengan absennya sekat antara penulis dan pembaca—toh, penulis pun juga seorang pembaca, tercipta ruang obrolan yang hangat. Harapan besar tentunya bisa tetap kembali merayakan sastra dan buku di #TahunBaruDiJBS Season 6 mendatang di akhir tahun 2018.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *