[BBS #152] Malam Sastra Seribu Bulan

Posted: 25 May 2018 by Studio Pertunjukan Sastra

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta menggelar acara Bincang-Bincang Sastra edisi 152 dengan edisi khusus Malam Sastra Seribu Bulan #11 bertajuk “Senandung Rindu Rasul: Tadarus Puisi-Puisi untuk Nabi”. Digelar di Bulan Ramadan 1439 H, acara Bincang-Bincang Sastra kali ini menghadirkan pembicara Ki H. Ashad Kusuma Djaya (Penulis) dan Ahmad Athoillah, M.A. (mahasiswa S-3 Sejarah FIB UGM). Dalam acara ini juga akan disajikan tadarus puisi-puisi untuk Nabi Muhammad saw oleh Khairur Rosikin, Mohammad Ali Tsabit, Ach. Khotibul Umam, Rini D.A., Neng Lilis Suryani, Bayu Aji Setiyawan, Sri Utami, Destriana Prastica, Teater Topy, dan IKAMARU Yogyakarta. Bertempat di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, acara akan dilangsungkan pada Sabtu, 26 Mei 2018 pukul 20.15, terbuka untuk umum dan gratis.   

Sukandar, selaku koordinator acara menyampaikan, “Kebaikan Nabi Muhammad dalam berbagai aspek kehidupan dapat menjadi salah satu sumber terciptanya karya sastra, dalam hal ini puisi. Ada banyak hal yang bisa digali hingga menerbitkan ide-ide dan dapat diwujudkan dalam bentuk puisi. Sejumlah penyair Indonesia, seperti Emha Ainun Nadjib, A. Mustofa Bisri, D Zawawi Imron, Abdul Hadi W.M., Hamid Jabbar, Taufiq Ismail, Jalaluddin Rahkmat telah menulis puisi tentang dan untuk Nabi Muhammad. Puisi karya para penyair tersebut menjadi contoh kecil bagaimana hidup dan kehidupan Nabi Muhammad saw adalah mata air ide yang tidak habis memancar.”

Mustofa W. Hasyim menambahkan, “SPS mencoba menghadirkan tradisi baru para sastrawan Yogyakarta untuk memaknai Ramadan. Tahun lalu kami silaturahim ke Pondok Pesantren Kaliopak. Kali ini memaknai cinta kepada Rasul yang telah mengenalkan ‘aplikasi’ beribadah intensif di Bulan Ramadan bernama tarawih, tadarus, iktikaf, dan sedekah. Dengan meningkatkan cinta kepada Rasul akan memudahkan untuk mengoperasikan ‘aplikasi-aplikasi’ itu. kita jadi bersemangat dan semua terasa ringan. Puasa kita menjadi penuh makna.”

“Malam Sastra Seribu Bulan merupakan edisi khusus Bincang-Bincang Sastra yang digelar setiap Ramadan. Acara ini menjadi semacam upaya untuk kembali merenungkan bahwa esensi sastra ialah spiritualitas,” pungkas sastrawan kenamaan Yogyakarta yang sekaligus Ketua Studio Pertunjukan Sastra itu.

Pendapat Anda: