[BBS #151] Setahun Kibul: Penulis Muda dan Sastra Daring

Posted: 24 April 2018 by Redaksi Kibul

Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan Media Sastra Alternatif Kolektif Kibul (http://kibul.in) menggelar acara Bincang-bincang Sastra edisi 151 dengan tajuk “Setahun Kibul: Penulis Muda dan Sastra Daring”. Acara ini akan digelar pada Sabtu, 28 April 2018 pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Kali ini Studio Pertunjukan Sastra menghadirkan pembicara T.S. Pinang (Sastrawan), Andreas Nova (Redaktur Umum Kibul), dan Titis Anggalih (Penulis Cerpen “Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup”). Bincang-bincang sastra akan dipandu oleh Cucum Cantini. Acara ini juga sekaligus peluncuran Buku Antologi Cerpen dan Puisi Kibul 2017. Bincang-bincang sastra edisi 151 juga menampilkan pembacaan cerpen dan beberapa puisi yang ada dalam Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017: Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup, oleh Agus Sandiko, Tubagus Nikmatulloh, Riska S.N, Neng Lilis Suryani, Ratih Farah Maudina, Olive Hateem, Maharani Khan Jade, dan Dita Yulia Paramita. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Kemunculan media daring adalah sebuah revolusi media ketiga. Yang pertama muncul setelah ditemukannya mesin cetak Guttenberg, dan yang kedua muncul setelah terciptanya televisi. Sebelum munculnya media daring, sastra identik dengan media cetak. Perkembangan sastra pada media daring diawali dengan munculnya komunitas-komunitas dunia maya yang memanfaatkan media daring melalui mailing list, forum diskusi, blog, hingga situs web. T.S. Pinang adalah salah satu pegiat sastra daring pada awal kemunculannya. Menurutnya, media daring menawarkan iklim kebebasan. Puisi tak lagi harus ditulis oleh penyair. Cerpen bisa ditulis oleh seorang sarjana sastra, maupun apoteker. Kebebasan menulis tersebut yang membuat banyak penulis-penulis muda lebih berani menampilkan karyanya melalui media daring.

Kibul adalah salah satu media daring independen yang setahun belakangan secara konsisten menyajikan karya-karya sastra yang eklektik. Tulisan-tulisan yang ditayangkan di situs web Kibul disajikan setelah melewati proses kurasi yang memberikan keleluasaan pada penulis untuk berekspresi, alih-alih berdasarkan selera redaktur. Kibul menghadirkan ruang baru bagi penulis-penulis muda yang menyambut tawaran tersebut dengan antusias. Selama tahun 2017, Kibul menayangkan 27 Cerpen dan 28 Puisi yang dikurasi dari ratusan naskah yang masuk melalui surel redaksi Kibul.

Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017 menyajikan 10 cerpen dan 16 judul puisi pilihan yang pernah muncul di situs web Kibul dan selama tahun 2017, yang dipilih oleh redaktur dan polling pembaca Kibul. Penulis cerpen dan puisi dalam buku ini didominasi oleh nama-nama baru yang mungkin belum begitu dikenal dalam kancah kesusastraan Indonesia. Titis Anggalih adalah salah satu nama baru yang belum dikenal publik kesusastraan Indonesia. Ia baru menulis secara serius sejak awal 2017. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang tidak berhubungan dengan kesusastraan, karyanya dianggap layak ditayangkan di situs web Kibul dan menjadi favorit pembaca dalam polling Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017. Hal ini sejalan dengan tujuan Kibul, yakni mendekatkan sastra dengan masyarakat, salah satunya dengan memunculkan nama-nama baru dalam arena kesusastraan Indonesia. Tujuan Kibul tersebut juga sejalan dengan apa yang diusung Studio Pertunjukan Sastra sebagai ruang alternatif untuk bertegur sapa, sekaligus sebagai ruang berkarya bagi penulis-penulis generasi baru. Pada akhirnya, baik daring maupun tidak, semangat gotong royong menciptakan ruang-ruang alternatif diperlukan untuk memperkaya dunia sastra Indonesia kontemporer.

 

Pendapat Anda: