BBS #144: Srawung Kawruh Media Sastra Jawa

Posted: 20 September 2017 by Redaksi Kibul

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta kembali menggelar Bincang-bincang Sastra (BBS) yang pada bulan September 2017 ini memasuki edisi ke 144. Bincang-bincang Sastra kali ini mengusung tajuk “Kalamangsa: Srawung Kawruh Media Sastra Jawa ”. Sedianya acara akan berlangsung pada hari Sabtu, 23 September 2017, pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Dalam acara ini akan hadir sebagai pembicara, Ratun Untoro (Kalawarti Pagagan Balai Bahasa DIY), Ahmad Jalidu (Penerbit Garudhawaca), Fajar Laksana (Kalawarti Mapah Mangsa Sastra Nusantara, UGM). Bertindak sebagai moderator dalam acara ini Taufiq Hakim. Selain itu, dalam acara ini akan ditampilkan pembacaan sandiwara bahasa Jawa oleh Titer Kamasutra (Jurusan Sastra Nusantara UGM) dan pembacaan cerkak oleh Cak Kandar (Studio Pertunjukan Sastra).

Mustofa W. Hasyim selaku ketua Studio Pertunjukan Sastra menyampaikan, “Kalau di zaman sekarang manusia Jawa mengalami kesenjangan dalam srawung rasa-rasanya wajar-wajar saja. Pasalnya, tempat untuk srawung pengetahuan tentang budaya Jawa semakin sedikit. Tidak menutup kemungkinan lama-lama akan hilang. Media massa berbahasa Jawa dan khusus sastra Jawa yang memuat nilai-nilai Jawa menjadi salah satu cara yang barangkali bisa diharapkan peranannya. Apalagi saat ini media informasi sudah berkembang amat sangat cepat dengan adanya internet. Di situlah tempat pasrawungan manusia Jawa hari ini. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat Jawa memanfaatkan keberadaan media informasi itu untuk perkembangan budaya dan sastra Jawa? Sementara kita tentu saja tidak bisa meninggalkan yang namanya kalawarti bahasa dan sastra Jawa yang ada hingga saat ini. Lantas bagaimana peranan media cetak, dalam hal ini kalawarti bahasa dan sastra Jawa di tengah masyarakat? Apakah masih banyak yang menantinya terbit lalu membacanya?”

Ditemui di tempat berbeda, Latief S. Nugraha selaku koordinator acara mengungkapkan, “Studio Pertunjukan Sastra tengah mencoba belajar kembali mengenai sastra Jawa hari ini. Di dalam Bincang-bincang Sastra edisi 144 ini kita akan kembali meneroka sejauh mana perkembangan kualitas karya sastra Jawa dan perkembangan media penyebarannya di era multi media sekarang ini. Oleh karena itulah dihadirkan dalam acara ini peneliti yang sekaligus redaktur kalawarti sastra Jawa Pagagan dari Balai Bahasa DIY, Ratun Untoro. Selain itu, ada Fajar Laksana perwakilan dari mahasiswa Prodi Sastra Nusantara UGM sebagai generasi milenial yang menginisiasi lahirnya majalah sastra berbahasa Jawa dengan mengedepankan warna bahasa dialek lokal di Jawa, yakni kalawarti Mapah Mangsa yang kini tengah memasuki edisi ke-III. Sementara untuk perkembangan sastra Jawa di media dalam jaringan (daring) dan penyediaan buku-buku budaya dan sastra Jawa cetak maupun elektronik kami menghadirkan Ahmad Jalidu.”

Keberadaan sastra Jawa memang perlu dijaga bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahwa media dalam jaringan dan media cetak memungkinkan untuk memupuk keberadaannya sehingga bisa tumbuh ngrembuyung di tengah masyarakat. Salah satu pekerjaan rumah yang tak terselesaikan adalah soal apresiasi terhadap karya sastra Jawa mutakhir. Namun demikian, kita juga perlu menilik kembali perihal bobot kualitas karya sastra Jawa saat ini. Apakah secara kualitasnya memang layak untuk diapresiasi?

“Di tengah zaman yang owah gingsir ini masyarakat tentu rindu dengan adanya karya sastra Jawa bermutu tinggi di media cetak atau daring yang bergengsi. Masyarakat juga menunggu lahirnya sastrawan Jawa generasi baru, untuk menghapus kesan bahwa sastra Jawa ini hanya menjadi bacaan pandemennya yakni orang-orang tua. Semoga dengan memunculkan dan merebakkan sastra Jawa ke media daring yang dapat di akses di mana pun dan kapan pun oleh siapa pun, karya sastra Jawa dapat beradaptasi dan diterima di zaman modern ini,” pungkas Latief.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *