[BBS #148] Apa Kabar Yogya Hari Ini, Masih Puitis atau Semakin Prosais?

Posted: 25 January 2018 by Redaksi Kibul

Membuka gelaran Bincang-bincang Sastra pada tahun 2018, Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta menyajikan tajuk acara “Yogya yang Puitis, Yogya yang Prosais”. Acara Bincang-bincang Sastra yang telah sampai pada edisi 148 ini menghadirkan Agus Noor dan Gunawan Maryanto sebagai pembicara yang akan dipandu oleh Latief S. Nugraha. Dalam acara ini juga akan tampil pertunjukan sastra pembacaan puisi karya Gunawan Maryanto oleh Dinar Setiyawan dan pembacaan cerpen karya Agus Noor oleh Andika Ananda. Gelaran rutin bulanan tersebut kali ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 27 Januari 2018, pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Sebagaimana diketahui bersama, perkembangan sejarah sastra Yogyakarta bergulir seiring perkembangan Yogyakarta sendiri. Jika kembali ke masa awal kemerdekaan, tatkala Yogyakarta menjadi Ibukota Republik Indonesia, banyak seniman, mulai dari pelukis, teaterawan, sastrawan dari berbagai daerah yang datang dan bertandang ke Yogyakarta. Ada yang kemudian menetap, ada yang seiring berpindahnya Ibukota ke Jakarta juga turut serta hijrah. Menariknya, Yogyakarta sebagai daerah yang lekat dengan budaya dan tradisi Jawa bisa menjadi ladang bagi tumbuh kembang kesenian tradisi dan kesenian modern secara berdampingan. Keberadaan sekolah, kampus, dan sanggar seni membuat kehidupan kesenian di Yogyakarta tumbuh subur. Situasi politik dan dinamika yang terjadi di masyarakat secara sosial serta budaya sekitar transisi Orde Lama ke Orde Baru menumbuhkan daya kreativitas berupa puisi. Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Darmanto Jatman, Kirdjomuljo merupakan sedikit dari banyak penyair Yogyakarta pada masa itu.

Pada tahun 1970-an, bahkan ada komunitas sastra Persada Studi Klub di Malioboro yang hingga saat ini tidak bisa ditinggalkan peranannya tatkala membicarakan dunia kepenyairan di Yogyakarta. Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi ini melahirkan para penyair andal seperti Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarna Pragilapati, Linus Suryadi Ag, Emha Ainun Nadjib, Mustofa W. Hasyim dan banyak lagi yang lainnya. Nama-nama yang bermunculan itu pun tidak hanya harum di Yogyakarta, bahkan di arena sastra Nasional. Keberadaan Malioboro dengan bangunan-bangunan peninggalan Belanda, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Senisono, lorong-lorong kampung, para mahasiswa, pedagang kaki lima, gelandangan, pencopet, tukang becak menjadi bahan baku bagi kelahiran puisi. Belum lagi suasana alam Yogyakarta yang romantis dan melankolis mulai dari Kaliurang hingga Parangtritis.

Memasuki tahun 1980-an agaknya gaya urakan para sastrawan yang berkumpul di Senisono, atau di sanggar-sanggar pada sebuah kampus, ngobrol sampai dini hari selepas menyaksikan pertunjukan teater menjadi tradisi kreatif. Hingga pada masa tahun 1990-an yang menghadirkan situasi puitis itu menjadi tragis. Kasus Senisono mengawali dinamika kota Yogyakarta yang berangsur lekas berubah dengan cepat. Pasca Orde Baru tumbang, lebih-lebih ketika memasuki era milenium tahun 2000 pembangunan dan perkembangan kota semakin cepat tanpa hambatan. Yogyakarta segera menjadi metropolitan. Kendaraan berjejalan di jalan-jalan, hotel dan pusat perbelanjaan menjamur di berbagai lokasi, mahasiswa semakin banyak berdatangan dan setelahnya tinggal menetap berdampingan dengan penduduk Yogyakarta. Malioboro terus berhias menjadi pusat perhatian. Malioboro tumbuh tanpa adanya penyair. Hal ini berpengaruh pada kedalaman dan kedangkalan karya sastra yang kemudian lahir dari para sastrawan generasi milenial saat ini. Perubahan dunia di era golbalisasi dengan kecanggihan zaman yang menuntut segalanya serba instan ini disadari ataupun tidak sesungguhnya cukup mengkhawatirkan adanya.

“Perubahan sosial yakni kenyataan bahwa Yogyakarta yang diliputi dengan situasi-situasi tragis itulah yang melatarbelakangi Studio Pertunjukan Sastra pada kesempatan kali ini mengangkat tema “Yogya yang Puitis, Yogya yang Prosais”. Tragisme yang terjadi membuat Yogya yang dahulu puitis kini makin prosais. Menghubungkan hal tersebut dengan karya-karya Umar Kayam, Kuntowijoyo, Mohammad Diponegoro, Arwan Tuti Artha, Agus Noor, Indra Tranggono, kita akan melihat situasi itu benar-benar nyata keberadaannya. Kini, seharusnya akan banyak penulis prosa yang lahir untuk merefleksikan perubahan sosial yang dialami. Kehadiran Agus Noor, seorang cerpenis yang juga menulis puisi, serta Gunawan Maryanto, seorang penyair yang juga menulis cerpen, yang keduanya aktif di dunia pertunjukan teater, bersama-sama akan mengupas tema persoalan tersebut,” tutur latief S. Nugraha selaku koordinator acara.

“Situasi apa pun yang terjadi di Yogyakarta seyogianya terus menerus membuat iklim kreatif tumbuh dan semakin semarak. Semoga acara ini dapat hadir sebagai sebuah percik permenungan bersama mengenai Yogyakarta. Acara ini sangat serius mengenai kenyataan masa depan yang akan terjadi di Yogyakarta menyusul meningkatnya kenakalan remaja dan pro kontra pembangunan bandara di Kulon Progo. Barangkali hari depan daerah istimewa ini adalah Yogya yang dramatis, Yogya yang semakin tragis,” pungkas Latief.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *