Ada (Rubrik) Film di Sini: Menyambut Kritik Film Impresif

Posted: 10 May 2018 by Redaksi Kibul

Januari 2017. Satu tahun lalu ketika Kibul belum hadir ke hadapan pembaca dan masih berada dalam tahap pematangan konsep, kami tim redaksi sempat berdebat mengenai rubrik apa saja yang mesti hadir di Kibul. Salah satu perdebatan tersebut adalah mengenai ada atau tidaknya rubrik tentang film. Perlu diakui, film saat ini jauh lebih populer dibanding karya sastra. Sementara kita masih memperdebatkan tradisi membaca buku yang begitu rendah—Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara menurut survei Most Littered Nation in the World 2016 dari UNESCO—, industri perfilman Indonesia justru mengalami peningkatan di berbagai sektor. Sebut saja angka peningkatan jumlah penonton di bioskop Indonesia yang  naik dari 16 juta penonton pada tahun 2015 menjadi 42,7 juta pada tahun 2017.

Berangkat dari persoalan tersebut, sejak awal Kibul menyadari bahwa rubrik tentang film sebenarnya sangat berpotensi untuk mendokrak angka kunjungan situs kami. Hanya saja, tahun lalu akhirnya kami memutuskan untuk meniadakan terlebih dahulu rubrik ini dengan pertimbangan untuk memperkuat citra Kibul sebagai website bertema sastra terlebih dahulu.

Tak terasa Kibul telah berusia lebih dari satu tahun. Beberapa hari lalu, Kibul bahkan merayakan usia satu tahunnya dengan merilis buku antologi Kibul jilid pertama. Maka, melihat usia Kibul yang sudah satu tahun tersebut, melalui tulisan ini kami mengabarkan bahwa mulai bulan Mei, Kibul akan menghadirkan rubrik film.

Lalu, seperti apakah tulisan bertema film yang akan dimuat di kibul? Melalui tulisan ini, kami ingin memberi tiga poin yang menjadi karakter utama dari rubrik film Kibul.

Pertama, rubrik film Kibul bukan tempat untuk ulasan ‘kesinopsisan’. Ini penting dicatat mengingat tulisan tentang film seringkali membuat pembaca kecewa. Selama ini, alih-alih memberi sudut pandang baru,  sebuah ulasan justru kerap membuat pembaca kehilangan rasa penasaran terhadap film yang ingin ditontonnya. Maka, hindarilah menyajikan terlalu banyak sinopsis film. Menuliskan garis besar cerita film tentu tidak masalah, tetapi tak perlu membaginya dalam tiga babak besar, permulaan-konflik-penyelesaian. Jangan. Kita tidak sedang mengerjakan tugas analisis intrinsik novel untuk kelas 2 SMA.

Kedua, rubrik film Kibul menyajikan pembahasan mengenai konten, konsep, dan konteks film. Konten film adalah bagian dari suatu film yang dapat diindera secara langsung. Maka, perhatikan apa yang tampak dan terdengar, misalnya tata gambar, tata suara, pemilihan tone warna, soundtrack film, make up, urutan peristiwa, dan lain sebagainya. Kamu boleh menilai salah satu atau beberapa poin dari konten tersebut jika kamu yakin konten tersebut berpengaruh besar dalam membangun narasi film. Konsep film juga merupakan bagian penting yang perlu dibahas. Konsep film yang sering dibahas biasanya adalah tema atau pesan dari suatu film. Selanjutnya yang menjadi poin paling penting adalah pembahasan tentang konteks. Konteks adalah hal-hal di luar film yang masih memiliki keterkaitan dengan film, misalnya situasi sosial-politik saat film dibuat, kondisi psikologis pembuat film, peristiwa-peristiwa sejarah tertentu yang melatarbelakangi cerita, dan lain sebagainya. Rubrik film Kibul tentu tidak mengharuskan sebuah tulisan yang membahas secara mendalam seluruh aspek konten, konsep, dan konteks. Penulis misalnya dapat memilih fokus pembahasan terhadap konten atau konteks film saja.

Ketiga, rubrik film Kibul sangat menghargai subjetivitas pembaca. Kami percaya bahwa roh utama dari suatu tulisan adalah keterkaitan antara opini penulis dengan pengalaman pribadinya. Maka, alih-alih mengharuskan suatu film dibedah dengan teori-teori besar tertentu demi objektivitas yang murni, kami lebih suka jika penulis misalnya mengaitkan film yang ditontonnya dengan pengalaman masa kecilnya, kisah cintanya, posisi duduk saat di bioskop, dan lain sebagainya. Tentu tetap ada catatan: pengalaman pribadi yang kamu tuliskan dalam resensimu harus punya keterkaitan terhadap opini atau argumen yang sedang kamu bangun.

Kira-kira, begitulah karakter dari resensi film yang akan dimuat Kibul. Resensi film Kibul bukan hakim atas kualitas baik-buruk atau menghibur-tidak menghibur suatu film. Memang sangat penting untuk menilai apakah suatu film memiliki struktur kisah yang logis atau logika internal yang masuk akal atau perkembangan karakter tokoh yang menarik. Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah adanya kritik yang impresif, yaitu kritik yang menitikberatkan kesan yang timbul dari penulis. Penulis dapat melibatkan ideologi, sikap hidup, pengalaman hidup, atau pengalaman membaca untuk mengkritik atau menafsirkan film yang ditontonnya. Kami percaya bahwa kesan setiap penikmat film akan berbeda-beda dan perbedaan kesan itulah yang justru bisa memperkaya makna dari suatu film.

 

Pendapat Anda: